Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 21


__ADS_3

Haruskah Menikah Sekarang?_2


Setelah istikharah beberapa kali, petunjuk itu akhirnya datang dan membuatnya sampai di tahap ini. Di rumah kakaknya yang sederhana namun rindang dengan pepohonan, dan sunyi karena letaknya di pojokan. Halaman luas dan teras yang luas sering dipakai pengajian pekanan atau sekedar bimbel kecil kecilan yang berbasis al quran untuk anak SD.


Di sebuah rumah tempat ia akan melakukan prosesi ta'aruf.


"Assalamualaikum warahmatullahi


wabarakatuh pada kesempatan hari ini Insyaallah kita akan memulai melakukan proses ta'aruf antara Ahsan dengan ukhti Laiqa." Ujar kakaknya, sebagai perantara.


Ditatapnya akhwat di depannya itu, yang masih senantiasa menunduk.


"Bagaimana Ahsan sudah siap? " tanya kakaknya.


Laiqa bisa menangkap bahwa laki-laki itu gugup .


Terlihat jelas dari gerak-geriknya.


Laiqa tersenyum, mencoba untuk mencairkan suasana .


Senyuman tipis dari Laiqa itu, sorotan mata yang lembut, dan sikapnya yang berusaha terus terlihat sopan membuat Ahsan sampai lupa dengan apa yang ingin ia ucapkan untuk merespon kalimat kakaknya .


"Baik jika semuanya sudah siap kita akan memulai proses ini dengan membaca ta'awudz Agar terhindar dari godaan syaiton ."


" Audzubillahiminasyaitonirojim bismillahirohmanirohim "


Tampak Kakak iparnya, dengan bocah 3 tahun yang sedang melihat nasyid anak di hape, kakaknya, Ahsan dan Laiqa mengucapkannya bersamaan.

__ADS_1


"Terlebih dahulu mungkin Ahsan bisa memberitahukan visi misi pernikahan yang ingin dicapai dan nanti diwujudkan ,"


Ahsan mengangguk , ia terlihat menelan ludah.. Laiqa yang menangkap itu dari sudut matanya langsung menunduk dan mengatur detak jantungnya yang tidak karuan berdegup kencang.


Entah mengapa bayangan yang belum seharusnya muncul itu melintas di kepalanya . Ia merasa amat lah bahagia meski baru sampai pada tahap ta'aruf. Ia membayangkan telah menjadi istri ikhwan itu. Betapa beruntungnya ... Ya allah seharusnya ia belum boleh seperti itu, itu sebabnya ia mulai mengatur perasaannya kembali dan meluruskan niatnya pastinya.


"Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ..."


Ikhwan itu terlihat memberi jeda untuk memulai.


"Singkat saja Seperti yang sudah anti lihat di cv kira-kira seperti itu "


"Ahsan menghela nafas lebih tepatnya mengatur nafasnya yang mulai tidak


menentu. Di seberangnya Laiqa tampak mengangguk sambil menyunggingkan senyum Sebagai respon bahwa ia memahami apa yang dimaksudkan oleh Ahsan.


Dan motto hidup ana itu adalah penuhi hak Allah, taati jangan dimaksiati, insya allah nanti Allah yang akan mengurus urusan kita


Sekiranya mungkin cukup"


***


"Baik jika ada yang mau ditanyakan silahkan" ujar kakaknya.


" Untuk saat ini mungkin enggak ada ustadz.." ucap Laiqa.


"Setelah melihat cv dari pihak akhwat mungkin ada yang ingin ditanyakan, silahkan kalau mau bertanya"

__ADS_1


Ahsan kembali terlihat menelan ludah kemudian terlihat mengatur apa yang akan ia bicarakan.


"Di cv anti ana melihat bahwa visi misi anti adalah menjadikan anak-anak anti hafidz quran betul ?"


Laiqa mengangguk mantap. "insya Allah.."


"Kemudian ana melihat bahwa project waktu dekat ini yang akan dilakukan oleh anti adalah mengambil beasiswa di Madinah sekaligus mengambil sanad?"


Laiqa mengangguk.


"Apa yang akan dilakukan jika sebelum pergi ke Madinah anti telah hamil dan anti tahu sendiri bahwa ana pun memiliki beberapa proyek besar yang dalam waktu dekat ini tidak mungkin bisa ditinggalkan. Contohnya khidmah di Aceh sana selama satu tahun, kemudian juga skripsi. Lalu rasanya tidak mungkin jika ... ana ikut mendampingi anti di Madinah. Seperti yang disampaikan anti dalam cv itu bahwa anti ingin memiliki mahram saat anti menimba ilmu disana, agar anti dapat terhindar dari fitnah. Namun apakah perbedaan ini, yang terlihat sangat kecil bisa dikesampingkan untuk menyongsong Visi misi pernikahan anti yang sebenarnya ?


Karena ana lihat kita memiliki banyak kesamaan. Contohnya sama-sama suka membaca, suka anak kecil, anti juga sudah hafal 30 juz begitu juga ana. Bagaimana menurut pendapat anti?. Bagaimanapun juga jika anti memutuskan siap menikah, maka anti siap dengan segala konsekuensi pernikahan. Ana yakin anti sudah sangat paham bagaimana peran seorang istri terhadap suaminya, apa yang harus dilakukan ketika ia akan pergi jauh, Dan seperti apa seharusnya seorang wanita yang sudah memiliki mahram, terkait berpergian jauh dari suami meskipun itu untuk alasan menimba ilmu..."


" Insya allah ana akan tetap ke Madinah"


Timpal Laiqa cepat.


Ahsan yang sedari tadi menunduk kini menatap wajah Laiqa dengan seksama, menunggu kata demi kata yang akan diucapkan gadis itu .


Laiqa memejamkan mata sambil berbicara


"Menuntut ilmu ke Madinah bukan hanya cita-cita ana, tapi itu juga adalah cita-cita dari ayah ana. Untuk antum tahu bahwa ayah ana adalah relawan kesehatan di Palestina, ia sudah lama berada di Palestina semenjak ana kecil sampai ana sekarang. Ia sangat berharap bertemu dengan ana di Madinah ketika ana menimba ilmu, karena beberapa alasan yang membuat ia tidak bisa pulang ke Indonesia . Jika pernikahan ini dilangsungkan, otomatis Ijab kabul akan dilakukan secara online karena ayah tidak mungkin datang ke Indonesia.


"Mungkin jika antum keberatan, antum bisa memilih untuk tidak melanjutkan Ta'aruf ini ."


Ahsan tampak menatap kakaknya.

__ADS_1


Di tahap ini, setiap orang yang akan menikah pasti akan mengalaminya, saat dimana harus menghilangkan semua keegoisan di dalam diri, berusaha untuk mengalah. Lalu siapkah ? Apakah justru ego di dalam diri lebih kuat dari semuanya..?


__ADS_2