
Ahsan
Setelah bertemu gadis itu, semuanya berjalan seperti biasa. Tak ada yang menyangkal, usia seperti dirinya selalu dihantui bayang-bayang wanita, sekalipun ia terlihat sholeh dari luar namun tentu saja hasrat ingin memiliki seorang wanita itu ada. Hanya saja semua itu masih terpendam begitu dalam jauh di dasar hatinya.
Ahsan kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa. Biasanya jika adrenalin dan hormonnya sedang naik, ia akan melakukan kesibukan lebih dari biasanya, juga berolahraga pada pagi harinya. Seperti hari ini, setelah menaruh kue di kantin, ia segera mengambil wudhu dan berlari ke masjid. Dengan sarung kotak kotak hijau tua yang lengkap dengan koko putih ia tampak begitu teduh dan segar.
Matanya sigap menyisir ke seluruh penjuru, siapakah temannya yang hari ini absen tidak tahajud.
Setelah tahajud berjama'ah selesai, ia menghampiri pojok masjid lalu sholat lagi. Kali ini adalah sholat taubat, dan sholat witir.
Ia berdoa agar selalu Allah jaga dirinya, dan ibadah ibadah ini. Menangis dengan kepala yang menunduk dalam, mengemis ngemis hidayah pada Sang Ilahi. Ia berdoa supaya selalu mendapatkan hidayah untuk terus beribadah dan berada dalam jalan yang benar.
Begitu berat amanah yang ia pikul, ketika ia tau hatinya mulai melakukan beberapa maksiat. Misalkan terlambat datang ke majelis ilmu, mengecewakan guru, tidak muroja'ah dalam satu hari, tidak melakukan dzikir pagi dan petang kemarin.Juga yang terakhir, terlalu banyak melihat wanita.
Amanah memang tak pernah salah pundak. Tapi amanah tidak akan pernah berjodoh dengan maksiat. Kecocokan diantara mereka adalah 0%.
Ahsan sebenarnya sudah tau tentang Laiqa. Jauh sebelum akhwat itu menjadi baby sitter Fattah. Umi Cahya, tukang kue langganannya itulah yang sering bercerita tentang anaknya itu. Ia bilang anaknya itu bercita-cita punya pesantren, dan memiliki anak-anak yang hafidz qur'an. Umi Cahya senang bertemu dengan pelanggan sepertinya, karena ia juga memiliki cita cita yang sama. Membangun peradaban islam seluas mungkin ia bisa. Salah satunya dengan mendirikan pesantren qur'an, dan menjadi sebaik baik da'i bagi keluarga, lingkungan rumah, dan negara. Memberikan kontribusi terbaik dengan sumber quran.
Dalam hidupnya tidak banyak perempuan yang ia tahu. Mungkin banyak, tapi seorang perempuan muda, berlabel akhwat yang gerak geriknya sesuai dengan mar'atus sholihah, sepertinya hanya Laiqa. Selebihnya mungkin banyak, tapi tak pernah berinteraksi dengannya.
Ahsan menatap sajadah yang terbentang di depannya. Terdiam sejenak, lalu memulai membaca ta'awudz..
"A'udzubillahiminnasyaitonirrojim.."
ia memejamkan mata sambil memulai membaca quran surat Al Baqarah.. yang telah ia hapal diluar kepala dengan suara baritonnya yang khas.
Tapi terus saja terbayang senyumannya.
__ADS_1
Gerakan bibirnya terhenti,
"Astagfirullah... astagfirullah...astagfirullah...." bisiknya 3 kali.
Lidahnya terasa semakin kaku, ayat ayat yang selama ini tertanam dengan baik seakan hanya lewat dan tak melekat seperti biasanya.
Hatinya telah jatuh cinta ?
Benarkah itu?
Atau ini hanya nafsu sesaat saja,
Ahsan berharap, jika benar ini jatuh cinta atau apapun, hal ini tak terlalu memukul habis waktu dan pikirannya. Sekarang ia berharap ada ayat ayat yang melintas diantara muroja'ahnya ,yang membuat ia fokus kembali.
Karena jatuh cinta untuknya, tak semudah itu.
Juga Ali Imran, masih yang paling manis dalam membelai dan menuntunnya ke dalam ketenangan hatinya sendiri.
Ia melanjutkan muroja'ahnya dengan serius, dan dengan mata yang terpejam.
Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan sinar mentari pagi yang menyilaukan matanya, menelusup dari sela jendela masjid.
Ahsan segera berjalan cepat menuju ruang makan yang riuh dengan alunan dzikir pagi seluruh mahasantri disana. Ia kemudian ikut berbaur dengan yang lainnya, menyelesaikan dzikir pagi dan bergegas menikmati sarapan. Sesudahnya ia pamit untuk berganti baju olahraga, mengambil sepedanya, pemanasan sebentar sambil menunggu antrian kamar mandi kosong. Ia mulai memasang headset, sebuah saluran radio kesukaannya, dan segera menaiki sepedanya mengitari lingkungan sekitar.
Secara kebetulan ada acara bernama surat untuk seseorang di stasiun radio itu. Acara yang bermaksud menyampaikan do'a atau curahan hati untuk seseorang yang tak bisa dihubungi lagi.
Ahsan terdiam mendengar sebuah surat, ia sontak menghentikan aktifitas menggowes pada sepeda yang masih melaju kencang.
__ADS_1
Isi surat itu adalah..
Mungkin jika ini benar cinta, rasa ingin memiliki sosok itu.
Biarlah menjadi rahasia termanis antara aku dengan Rabbku saja.
Sang Pemilik Cinta
Dan biarkan rasa malu itu terus hidup, berteman baik dengan lantunan ayat-ayat suci.
Hingga ibadah-ibadah tak akan berhenti, meski gairah itu mungkin kian hari kian menjadi.
Kepada kau, yang wajahnya tak bisa ku tatap
Biarlah hanya doa-doa yang tegak berdiri dihadapan takdir.
Nanti tinggal aku susuri kemana ia akan bermuara.
Apakah kerinduanku akan istri sholihah, akan berakhir pada pertemuan kita disana?
Ataukah rencanaNya akan berbeda...?
Yang jelas aku yakin, semua ketidaksengajaan dari setiap temu kita, adalah rencanaNya.
Ahsan menelan ludah, bagai semua rasa di hatinya yang sulit diungkapkan bahkan pada dirinya sendiri, terwakilkan di isi surat yang baru saja di dengarnya.
Ada apakah ini semua..?
__ADS_1
****