
[ Menanti Kau tuk Kembali ]
" Allahumma inni 'abduka ibnu 'abdika ibnu amatika naashiyatii biyadika, maadli fiyya hukmuka, 'adlun fiyya qhodlouka, asaluka bikullismi huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au 'allamtahu ahadam min khoqhika, au anzaltahu fii kitaabika, awis taktsarta bihi fii 'ilmil ghoibi ;indakam an taj'alal quraana rabii'a qolbii, wa nuura shodrii, wajalaa huznii, wa dzahaab hammii."
Laiqa masih termenung dengan do’a yang Syamil baca saat selesai sholat Magrib. Ia duduk di pinggir tangga masjid nan megah itu melihat sepatu yang suaminya kenakan dan enggan melihat siapapun yang berlalu lalang. Dia belum juga kembali. Halimah telah pamit pergi terlebih dahulu.
" Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, jiwaku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu,
agar engkau menjadikan Alquran sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku."
Sebuah doa yang sangat jarang dibaca ketika usai sholat. Ia tahu do’a itu adalah doa yang di daraskan Nabi Muhammad saat dilanda keresahan hati.
Laiqa menghela nafas, mungkin saat ini lebih tepatnya ia adalah suatu bentuk kepasrahan dari diri Syamil yang telah berjanji kepada Allah untuk mencintainya.
Dan itu sama sekali bukan cinta lagi.
Karena ia mengetahui , di dalam hati terdapat 1 ruang, dan jika rasa kecewa terus menerus dimasukan ke dalamnya, maka kekecewaan akan menghabisi rasa cinta.
Dia terhenyak ketika Syamil datang meraih sepatu di rak pojok tangga itu dan melihat ke arahnya. Ikhwan itu turun tangga sampai tangga terakhir sambil menjinjing sepatunya dan memakainya di anak tangga terakhir.
Laiqa turun perlahan sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan di perutnya yang tak terisi makanan sejak jam tiga siang tadi.
“Belum pulang?” tanya Syamil saat bagian bawah gamis hitam Laiqa telah terlihat di ekor matanya. Laiqa berdiri di depannya dan menjawab ya.
Syamil menghela nafas lalu berdiri cepat, melihat Laiqa sejenak lalu menggandeng tangannya dengan cepat untuk mengikutinya berjalan pelan.
Laiqa melepaskannya.
Syamil menatapnya heran.
“Izinkan aku salim..seusai solat” ucap Laiqa, wajah cantiknya terkena sorotan lampu warna warni yang akan berubah warna secara bergantian, ini merupakan icon khas masjid megah ini. Wajah itu menjadi sangat cantik.
Syamil mengangguk singkat.
Laiqa lalu mencium punggung tangan yang kekar itu, wangi parfum dan rasa dingin malam bercampur menjadi satu menguar ke dalam hatinya.
Ikhwan itu berusaha melepaskan tangan yang terus saja menempel di hidung Laiqa. Ia terlihat menelan ludah namun kemudian menunduk.
Ia benci wajah cantik itu.
“Lepaskan” ucap Syamil sambil memejamkan mata.
“Afwan..” ucap Laiqa saat ia melepaskannya.
“Tidak enak dilihat banyak orang”
Laiqa mengangguk dan tersenyum.
Syamil membuang muka, sambil menggandeng tangannya lagi.
“Syukron untuk senyuman yang tadi” ucap Syamil kemudian dengan nada cepat yang amat kaku.
“Senyuman?”
“Sebelum sholat magrib”
Laiqa tersenyum simpul. “Maaf aku.. hanya ingin membuatmu semangat lagi”
__ADS_1
“Kenapa meminta maaf?”
Laiqa terdiam.
“Apa terlihat sangat menyedihkan?”
Laiqa mengigit bibirnya.
“Orang dahulu sangat mudah mengamalkan Al Qur’an, karena iman lebih dahulu turun ke hatinya daripada Al Qur’an. Sementara orang pada masa sekarang sangat mudah menghafal, tapi sangat sulit mengamalkannya”
Laiqa melihat ada kaca-kaca di mata Syamil saat mereka berhenti di depan mobil mereka tepat saat kalimat Syamil berhenti.
“Berdoalah yang banyak untuk imammu yang bodoh ini” ujar Syamil kemudian masuk mobil.
Mobil terus melaju dengan keheningan.
Syamil tampak melihat jam tangannya. Menunjukan pukul 7 malam.
“Sudah makan?” tanyanya. Dan Laiqa menggeleng. Lalu dengan cepat Syamil mengeluarkan sebuah roti besar dan susu Ultra dari laci dashboardnya.
“Jangan seperti ini lagi, makanlah” ucapnya tanpa melihat Laiqa.
“Apa kamu tidak makan juga?”
Syamil menggeleng.
Laiqa mulai memakan makanan itu secara perlahan setelah membaca doa.
“Kenapa tidak pulang duluan?” Tanya Syamil.
“Aku.. takut,” ujar Laiqa. Lalu meneruskan kalimatnya di dalam hati. Aku sangat takut kamu hanya mengetesku, aku hanya takut kamu merasa aku tak menghargaimu.
“Maaf..”
Syamil menghela nafas. Mereka berhenti karena terjadi kemacetan cukup panjang.
“Pulanglah dan buat makanan di rumah. Setelah ini jangan ikut lagi”
“Baik..apa kamu berniat ingin pergi lagi? Apa ada agenda lain?”
Syamil mengangguk.
“Bolehkah aku tau apa itu?” tanya Laiqa hati-hati.
“Hanya muroja’ah di tempat yang tak ada siapapun”
“Muroja’ah lah bersamaku..” ucap Laiqa ragu.
Syamil membenamkan wajahnya sambil memeluk stir mobil.
“Bukan ide yang bagus” ucapnya.
“Bagaimana kalau ini adalah keinginan bayimu, bayi kita?” Laiqa tampak meyakinkan perlahan.
Syamil menggeleng.
“Perutku sakit, bayi ini pasti sedang menangis karena ditolak keinginannya oleh ayahnya sendiri”
__ADS_1
Mendengar itu Syamil langsung duduk dengan tegak.
“Teori apa itu? Darimana pernah ada teori embrio menangis? Itu hanya perkataan yang dibuat-buat”
“Baiklah aku akan pulang.. Kamu pasti tidak bisa berkonsentrasi saat melihatku. Karena kebaikan dan keburukan tak pernah bisa menyatu..” ucap Laiqa lalu melihat ke arah lain. Mobil ini rasanya tidak akan bergerak setengah jam ke depan. Jalanan amat padat malam ini.
Syamil memandang Laiqa di bagian kiri spion mobilnya. Akhwat itu tampak minum dengan sangat cepat sampai air di botol itu semua habis tak tersisa.
Syamil lalu menunduk, dan mulai membaca kalimat Isti’adzah. Dan tanpa menunggu ia memuroja’ah surat yang tak boleh ada kata bismillah saat mulai membacanya.
“بَرَاۤءَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖٓ اِلَى الَّذِيْنَ عَاهَدْتُّمْ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَۗbarā`atum minallāhi wa rasụlihī ilallażīna 'āhattum minal-musyrikīn “
Laiqa langsung menatap Syamil, ia sangat tahu pasti surat yang tepat untuk keadaan mereka berdua.
Bodoh darimananya? Tahukah bahwa kamu adalah Ikhwan idaman yang sebenarnya, kamulah yang terpintar yang pernah aku temui. Syukur Laiqa dalam hati.
Ia teringat Dikatakan bahwa barangsiapa yang membaca ayat 128 dan 129 di surat At Taubah ini sebanyak 7 kali setiap kali selesai solat fardhu, dengan izin Allah, Jika dia seorang yang lemah, maka akan menjadi kuat. Jika dia seorang yang hina, maka akan menjadi seorang yang mulia. Jika dia seorang yang kalah, maka akan segera mendapatkan pertolongan.
"Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka Berpaling (dari keimanan) maka katakanlah “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung." (QS. At Taubah: 128-129).
Abu Daud telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Muhammad ibnu Abdur Razza ibnu Umar (salah seorang yang siqah lagi ahli ibadah), dari Mudrik ibnu Sad yang mengatakan bahwa Yazid seorang syekh yang siqah telah meriwayatkan dari Yunus ibnu Maisarah dari Ummu Darda, dari Abu Darda yang mengatakan:
"Barang siapa yang mengucap¬kan kalimat berikut di saat pagi dan petang hari sebanyak tujuh kali, niscaya Allah akan memberinya kecukupan dari apa yang menyusahkan¬nya," yaitu:
Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung.
Ibnu Asakir di dalam biografi Abdur Razzaq telah meriwayatkannya dari Umar melalui riwayat Abu Zarah Ad-Dimasyqi, dari Abdur Razzaq, dari Abu Sad Mudrik ibnu Abu Sad Al-Fazzari, dari Yunus ibnu Maisarah ibnu Hulais, dari Ummu Darda. Dia pernah mendengar Abu Darda berkata bahwa tidak sekali-kali seorang hamba mengucapkan:
Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung. sebanyak tujuh kali —baik ia membenarkannya ataupun berdusta— melainkan Allah memberinya kecukupan dari apa yang menyusah¬kannya.
Kemacetan masih juga belum berakhir, ditatapnya wajah tampan yang begitu serius itu dalam-dalam.
“اَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَاُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوْحٍ وَّعَادٍ وَّثَمُوْدَ ەۙ وَقَوْمِ اِبْرٰهِيْمَ وَاَصْحٰبِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكٰتِۗ اَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِۚ فَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَa lam ya`tihim naba`ullażīna ming qablihim qaumi nụḥiw wa 'ādiw wa ṡamụda wa qaumi ibrāhīma wa aṣ-ḥābi madyana wal-mu`tafikāt, atat-hum rusuluhum bil-bayyināt, fa mā kānallāhu liyaẓlimahum wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn” ucap Syamil kini sudah sampai di ayat 70 tanpa melihat mushaf sama sekali.
“وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌwal-mu`minụna wal-mu`minātu ba'ḍuhum auliyā`u ba'ḍ, ya`murụna bil-ma'rụfi wa yan-hauna 'anil-mungkari wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa yu`tụnaz-zakāta wa yuṭī'ụnallāha wa rasụlah, ulā`ika sayar-ḥamuhumullāh, innallāha 'azīzun ḥakīmDan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. “ ucap Laiqa ikut memuroja’ah ayat 71nya membuat Syamil sontak menatapnya.
وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ” خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗوَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُwa'adallāhul-mu`minīna wal-mu`mināti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā wa masākina ṭayyibatan fī jannāti 'adn, wa riḍwānum minallāhi akbar, żālika huwal-fauzul-'aẓīmAllah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” Kini Syamil yang melafadzkan sambil terus melihat wajah istrinya
Mereka terus memuroja’ah bergantian seperti apa yang sering mereka lakukan saat melakukan Honeymoon.
Bayangan-bayangan saat mereka honeymoon otomatis tergambar lagi dengan jelas.
Dan saat ayat 78 mereka melafadzkannya bersamaan,
اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰىهُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ عَلَّامُ” الْغُيُوْبِalam ya'lamū annallāha ya'lamu sirrahum wa najwāhum wa annallāha 'allāmul-guyụb. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwa Allah mengetahui segala yang gaib?”
Syamil merasakan getaran itu lagi. Ia kini bahkan merasa tidak sanggup untuk tidak mengecup bibir istrinya. Namun ia tepis semua itu dan terus memuroja'ah sampai habis.
Laiqa masih tidak sadar bahwa beberapa kali suaminya memperhatikannya dengan seksama ketika mereka sedang muroja'ah.
Sampai juga ayat terakhir yang membuat mereka sedikit terengah -engah karena tempo yang cepat.
Laiqa menunduk sementara tanpa sadar Syamil terus menatapnya.
Sampai akhirnya mata mereka bertemu, dan dipecah oleh suara klakson tanda kemacetan sudah usai. Mobil pun melaju, sambil terus menyenandungkan dua ayat terakhir surat at Taubah sampai rumah. Syamil merasa dadanya berdegup kencang ketika mereka akan membuka pintu kamar.
Laiqa juga merasa Syamil tampak lebih kaku dari biasanya.
__ADS_1
Mereka pun masuk kamar.