
Kemana Harus Menemukan?
"tempat kakak ana !"
"Ustadz Salman bukannya dekat dari sini rumahnya, mari kita izin ke Ustadz Hakam agar bisa keluar Ma'had sebentar" usul Adnan juga sama gusarnya dengan Ahsan, masalahnya ia belum sempat fotokopi materi bagus itu, bukunya sudah hilang.
Bukan guru biasa, K.H Ahmad, guru yang menyampaikan ilmu tersebut. Tapi guru kehidupan untuk Ahsan. Darinya ia mengenal hakikat hidup, hakikat menghamba pada Allah, dan hakikat mencinta dengan sebenar benar cinta terhadap Rabbnya, dalam bentuk perilaku memenuhi segala hak Rabbnya, mengabdi sepanjang hayat untuk agama ini.
Syahid di jalan Allah adalah... cita cita kami tertinggi...
Ustadz Hakam mengizinkan mereka pergi tapi hanya 1 jam, jika belum kembali 1 jam, mereka tidak dapat jatah makan malam, dan harus melaundry karpet masjid dengan uang sendiri.
Degg.. Ahsan melihat seorang akhwat yang ia tau bukan Ka Azqila, di rumahnya sedang bermain bersama Fattah. Akhwat yang ia belum tau namanya itu, memakai kerudung panjang berwarna mocca, dan gamis hitam, serta kacamata sederhana yang tampak sering dibetulkan saat ia tersenyum.
Perasaan malu merebak di hatinya.
"Silahkan antum yang ucap salam."ucap Adnan, mudah mudahan saja dua sahabatnya ini tidak banyak bertanya siapa akhwat itu.
"Ana gaenak, sepertinya Ang Salman nggak ada di rumah," Ahsan mundur dan berjalan ke sisian tembok yang tersembunyi lumayan jauh dari pagar.
"Terus gimana ?waktu kita cuma 1 jam.. sebelum buku antum hilang beneran" desak Adnan.
"sebelum kita disuruh laundry karpet masjid yang segede gaban." tambah Fakhri.
"Yaudah bismillah.. karena ana ga kemanapun selain kesini kemarin."
Kini Adnan yang mengucap salam,
dari kejauhan Laiqa tampak kebingungan. Ia tampak menelpon seseorang, lalu segera membuka kunci pagar dengan kepala yang terus menunduk.
"Assalamualaykum.. "ucap Ahsan sekali lagi.
"Waalaykumsalam... afwan Ka Azqila menanyakan untuk apa akh Ahsan datang kesini, sedangkan ustadz Salman sedang tidak di rumah..". tanya Laiqa dengan nada cepat tanpa melihat mereka bertiga.
"Kedatangan kita kemari, ingin mencari buku ana yang tertinggal disini"
"oh baik silahkan masuk.. ana akan tunggu di luar dengan abang Fattah"
"Mang Ahsan ayo maiiin bolaa"
"eh ayo ikut Ammah.. main bola diluar" potong Laiqa segera menjauh dari mereka bertiga, menuntun Fattah. Tidak terbayang bagi Ahsan betapa berdegup kencangnya jantung Laiqa saat itu.
"Dia siapa akhi? Sodara antum?" tanya Fakhri.
"Ana harus bisa temuin buku itu dengan cepat, kalo ana lama antum berdua bisa duluan aja.."
"Kita harus disinj akhi, gamungkin kan kita meninggalkan antum hanya berdua dengan akhwat itu.." ucap Adnan menekankan kalimatnya.
"maksud ana.. kalau saja antum berdua takut dihukum ustadz Hakam karena telat"
"gimana ketemu ga akhi..?"
Ahsan menggeleng sedih...
__ADS_1
"Bagaimana ini... apa ada seseorang yang mengambilnya saat ana sedang di Ma'had..?"
pikir Ahsan.
"Antum gimana akhi.. coba ingat baik-baik...
Mereka pun berjalan pulang kembali ke Ma'had tanpa sepatah katapun. Sibuk dengan ingatan masing-masing. Lebih tepatnya tidak mau mengganggu ingatan-ingatan penting yang seharusnya muncul.
****
"waduh, bagaimana ini.. kenapa buku ini ada di tasku.."
"anti kenapa?"
"ini, ada buku yang kemarin dicari Ahsan di tasku".
"Ahsan siapa sih?"
"Astagfirullah.. iya kan anti belum tahu nama adiknya ustadz Salman ya... ? Namanya Ahsan Abdul Aziz. Nih bukunya"
"terus kenapa ada di anti?"
"Ana gatau.."
"Jangan jangan anti sengaja ya biar bisa ketemu dia lagi..."
"Astagfirullah.. sembarangan anti kalo bicara.."
"bercanda ukhtiii...!"
"emang sih ana temuin buku ini di kolong tempat tidur, tapi sungguh ana ga tau kenapa bisa ada di tas ana..karena kemarin langsung ana taruh di atas meja..anti percaya kan?"
"ya udah terus gimana balikinnya?"
"gimana kalo... ana titip ke Ka Azqila..?"
Halimah menghela nafas sambil mengarahkan bola matanya ke atas.
"emangnya ka Azqila gabakal curiga?, yang ada nanti jadi fitnah, disangkanya anti sengaja simpan buku itu, dan pastinya nanti Ahsan jadi tau kalo buku itu ada di tas anti. Anti kok jadi orang polos banget siih...?"
"buat apa coba ana simpan di tas.. ?" Laiqa menghela nafas putus asa. Semenit kemudian ia dapat ide,
"atau jangan jangan..."
"jangan jangan apa?"
"emm... jangan jangan Fattah yang taruh buku ini di tas ana.. karena waktu kemarin itu... dia lagi sama ana pas ana taruh buku ini di meja."
"nah !! bisa jadi tuh "Halimah menepuk bahu Laiqa keras sampai gadis itu kesakitan.
"yaudah kalo gitu anti minta tolong aja sama Fattah untuk ngasihin buku ini ke Ahsan. Bilang aja kalo Fattah nemu dimana gitu jatuh. Selesai kan..?" tambah Halimah.
"tapi kapan mau dikasihnya.. kayaknya dia ga akan balik lagi.. "
__ADS_1
"ya nanti lah kapan kapan, karna menurut ana itu lebih aman daripada anti kasihin ke ka Azqila."
"iya bener juga, ana bilang aja ke Fattah kalo buku ini punya Mang Ahsannya, lalu ana minta tolong Fattah kasihin ke Ahsan karena Fattah nemu buku ini di bawah tempat tidur.. gitu ya..." ucap Laiqa.
Halimah mengangguk
"Emang ya kalo orang lagi jatuh cinta, solusi sederhana aja ga ketemu"
"Astagfirullah.. berhenti lah anti itu bicara begitu... ana itu gapernah bilang kalo ana jatuh cinta sama dia.."
"iya ga jatuh cinta siiih, tapi ada rasa, ada harap, ada namanya di dalam do'a, ada instagramnya yang suka anti kepoin iya kann ???" Halimah tertawa tanpa suara melihat wajah Laiqa yang terus saja melihatnya kesal.
tiba tiba umi Muna, ibunya Laiqa datang, wajahnya sumringah mendengar apa yang dikatakan oleh Halimah.
"ini makan malam untuk kalian, Halimah makan yang banyak biar badannya ga kayak lidi seperti Laiqa.."
Sepiring ayam goreng, sambal oncom, oseng tahu toge dan sambal tomat lengkap di piring ,yang diletakan umi Muna di atas meja teras rumah kontrakan Halimah.
"iya umi siap.. kayaknya umi denger nih pembicaraan kita" ujar Halimah menutup mulutnya terus yang terus tersenyum.
"makasih ya umi, seharusnya Laiqa aja yang ambil sendiri makanannya.."potong Laiqa.
Umi Muna tersenyum..
"Ya umi itu senang aja punya anak seperti Laiqa , teramat bersyukur.. sampai umi ingin semua kebutuhan terpenuhi meski banyak kurangnya.. Laiqa sholehah bentar lagi mau ke Madinah.. umi doakan.. semoga lancar.. dan .."
Umi menghela nafas.
"Umi akan tambah senang kalo di Madinah sana Laiqa sudah tidak berstatus single lagi..supaya hati tenang, menuntut ilmu jadi gampang"
"Iya umi.. tenang, umi doain aja ya.. Laiqa bisa dipinang sama... si itu tuh" ucap Halimah disusul lirikan mata Laiqa yang kesal bukan main.
"Iya insya Allah umi selalu doain kamu untuk dapat imam yang terbaik nak.. umi lihat kamu sidah siap menikah.."
Umi Muna mengelus kedua bahu Laiqa dengan tangan kasarnya. Wanita tua itu membisikan sesuatu kepada putrinya.
"Madinah itu jauh, tapi syarat yang umi beri membuat umi tenang"
"Umi... " Laiqa menatap umi seakan bertanya,
jika itu doamu, mungkin itu akan cepat terkabul
****
**Hati yang kosong, hati yang hampa kini telah terisi kembali, tapi mungkinkah dia yang pantas di sisi, atau aku yang terlalu dini mengagumi ...
Kemana harus menemukan
pelabuhan untuk hatiku sendiri
agar sampai pada janji ilahi
tentang syurga yang hakiki.
__ADS_1
****