
Nyatakan atau Jauhkan
Laiqa sedang sibuk mencuci piring yang menumpuk diatas wajan, wastafel yang kecil dan sesak itu perlahan lengang dan bersih.
Tiba-tiba Fattah datang menghampirinya sambil berteriak memanggil namanya.
"Ada apa Abang?"
"Ammah Laiqa ada Mang Ahsan tuh!"
Degg .
Jantung Laiqa serasa berhenti. Dilihatnya jilbab panjangnya basah di beberapa bagian. Malu nih..
"Ammah bukain pagarnya, kan dikunci" ucap Fattah begitu bersemangat
"Eh bentar ya... mau ngapain ya Mang Ahsan.."
"Mau main bola lah sama Abang"
"eh?"..
ini kesempatannya untuk mengembalikan buku catatan yang kemarin..
"Tunggu.. Abang Fattah tau nggak ini buku siapa?"
Laiqa menunjuk buku milik Ahsan pada bocah itu.
"Yang tadi ketemu di bawah lemari ?" Laiqa menekankan
"ketemu di bawah lemari ya?" tanya Fattah kecil nan menggemaskan.
"Gatau abang" jawabnya
"ini kayaknya buku Mang Ahsan deh... ini ada namanya"
"sini sini abang yang kasih, abang bisa kok!"
"Ok.."
Laiqa berjalan cepat menuju gerbang , ia berharap ikhwan itu tak berkunjung lama lama.
"Assalamualaykum.."
"Waalaykumsalam" jawab Laiqa dan Fattah.
"Alhamdulillah, Abi nggak ada ya..bang? " tanya Ahsan ketika Laiqa sedang membuka gembok.
Merasa tidak enak.
Canggung.
Tapi ia harus kesini.
"Ya.. Afwan kalo boleh tau untuk keperluan apa Akhi Ahsan kemari...?"
"Main bola ayooo!!"
"hehe" ia tertawa?, sambil mengusap kepala Abang Fattah.
"Ana ingin mencari buku catatan. Ana yakin ada disini.. hati ana mengatakan seperti itu.. ukhti."
*ukhti?
tidak salah dengar...?
jantungku.. tolong jangan sekarang berdegup sekencang itu*.
__ADS_1
"Buku catatan itu.. sangat penting untuk ana.. itu seperti ruh.. yang dititipkan oleh guru ana..."
Perasaan semacam.. kenangan yang tersimpan di dalam buku, berisi kata kata guru yang amat berarti dalam hidup kita. Jika kalian pernah menemukan seorang guru yang amat dekat hubungannya dengan kalian, begitu klop rasa hati dengan caranya mengajar, bagaikan apapun yang ia ajarkan masuk dengan cepat ke pikiran kita, memahaminya dengan suka cita, dan ada perasaan untuk terus belajar dan belajar lagi memperdalam pelajaran yang ia ajarkan..
"Ini buku mang Ahsan!"
"eh, kok ada di Abang?"
"iya tadi kan abang liat lho buku ini di bawah lemari"
Fiuh...
Lega
"ya Allah Alhamdulillah... masya Allah makasih ya Abang.. Abang Hebat !!"
Fattah tertawa geli..
Laiqa hanya diam menunduk menatap Fattah.
"Kalau begitu, Abang dikasih hadiah sama Mang Ahsan!" seru Ahsan. Tawanya, dan wajah yang amat mengayomi yang selintas itu terus masuk lebih dalam ke benak Laiqa .
Astagfirullah.. Aku harus beralasan untuk pergi dari sini..
"Abang dapat bola baru!" Ahsan menunjukkan bola boneka dari dalam tasnya.
"Yeaayy yes yes !!"
"eh bilang apa ? Alhamdu?"
"Alhamdulillah !!!! " teriak Fattah keras saking gemasnya dengan bola berwarna orange kombinasi merah itu.
Tak lama kemudian..
Owweeek owweeekk...
"Eih afwan, ana harus ke minimarket beli popok Faiza, ana lupa popoknya sudah habis, nanti ana titip abang Fattah disini ya..sama Mang Ahsan.. ya bang?" pinta Laiqa sambil mengelus rambut anak itu.
"ok!" seru Fattah.
Laiqa segera berlari menuju kamar mengambil Faiza untuk ikut bersamanya.
"Afwan ukhti.. tunggu, anti nggak lama kan?"
tanya Ahsan membuat langkah Laiqa terhenti
"Insya Allah nggak.. hanya setengah jam"
"Na'am.. (ya) soalnya ana hanya ijin satu jam kesini sama ustadz di Ma'had.."
Laiqa mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya.
Tanpa menatap ikhwan itu saja, bisa membuatnya amat gugup. Ini perasaan yang amat berbahaya..
****
Sesampainya di minimarket. Laiqa berhenti di rak popok lalu mengambil hapenya.
"Halo Assalamu'alaykum ukh...."
"Wa'alaykumsalam...Laiqa ada apa nih telpon?" jawab Halimah.
"Ana lagi di minimarket ukh.. sesuai saran anti.."
ia harus nenceritakan kejadian hari ini pada Halimah, sebelum ia terlalu memiliki harapan aneh di dalam pikirannya. Sahabatnya itu seperti alarm kala ia melakukan dosa, berbunyi tanpa lelah, tanpa pilih pilih seperti apa perasaannya. Selalu mendominasi hatinya dengan kebaikan.
Sebuah keberuntungan memiliki sahabat sebaik Halimah.
__ADS_1
Saat itu Laiqa menyusuri rak sambil menimang-nimang Faiza yang terus tersenyum karena ia goda.
"Eh?" Di seberang Halimah tampak bingung
"Iya ana lagi menghindari dia ukh.. dia datang lagi hari ini..."
"hmm terus.. anti udah kasih buku catatannya yang kemarin..?"
"Udah Alhamdulillah.. pakai saran anti juga.. minta tolong Fattah " mulut Laiqa terus membentuk huruf ba sambil menggoda Faiza di gendongannya.
"Bagus, Oh ya... mumpung anti telpon, ana mau sampaikan kalo bentar lagi ana bakal menikah sama ustadz Irham.. Insya Allah.. doain ya ukh... "
Laiqa membelalakan mata, berusaha percaya dengan apa yang di dengarnya. Ustadz Irham, beliau adalah sosok yang selalu dikagumi Halimah sejak dulu.
Alhamdulillah...
Tsuma Alhamdulillah.. perasaan bahagia yang sama
namun, juga sedih karena sebentar lagi Halimah kan meninggalkannya..
"MasyaAllah... masya Allah gimana bisa.. anti nggak pernah cerita..! Barakallah ya ukh..."
"Iya ukh ... ana.. mengajukan diri duluan, Qadarullah langsung disambut baik.. ana bener nggak nyangka, takdir Allah"
"Mengajukan diri?"
Benarkah mengajukan diri semudah itu..
Tentu saja tidak semua kisah bisa disamakan, tapi mencoba saja belum sudah berani mengatakan gagal jika saja kisah itu adlah kisah dirinya.
"Ana senang banget waktu ternyata ustadz Irham mengabarkan akan lanjut proses sama ana. "
Laiqa bisa membayangkan betapa memerahnya wajah Halimah, matanya yang kecil pasti hampir hilang karena tersenyum saking lebarnya.
".. tanggal berapa?"
"tanggal 22 Desember.. datang ya ukh! anti harus jadi bridesmaid ana pokoknya.."
"wah anti sengaja ya biar ada gandengan pas wisuda nanti.."
"itu sih udah pasti, hehe becanda! udah ahh anti tuh ya.. ntar kelamaan di minimarket, hati hati di jalan,fiamanillah !"
tut tut tuuut...
Laiqa menggigit bibir, sambil memutar bola matanya.
Deg..
betul, Bukankah tadi ia hanya berjanji pergi kesini setengah jam saja?
****
Laiqa bergegas pulang. Sampai di rumah Azqila dan Salman, masih ia dapati ikhwan itu, sedang bermain bola basket dengan Abang Fattah.
"Assalamualaykum..."
"Afwan... sudah 1 jam lebih ..apakah.."
"Waalaykumsalam..Astagfirullah.. betul, ini jam berapa?, Abang Fattah mainnya udah dulu ya Mamang mau sekolah dulu"
"boleh kok!"
"Jazakillah sudah diingatkan. Assalamualaykum." pamit Ahsan lalu pergi menuju pagar.
"Waiyaki.. waalaykumsalam.. yuk Abang kita masuk." ajak Laiqa.
Di detik itu juga Ahsan menengok ke arah akhwat yang sedang menuntun keponakan kesayangannya itu dan menggendong Faiza sekaligus, meski hanya sekilas.
__ADS_1
****