
Senandung Ukhuwah
*Diawal kita bersua
Mencoba untuk saling memahami
Keping-keping dihati
Terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita
Dan masapun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka
Kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridho-Nya
Sahabat tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rhobitoh pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua disyurga.
Dan masapun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka
Kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridho-Nya
Sahabat tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan robitoh pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
__ADS_1
Semoga kita bersua di Surga
Jadikan robitoh pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di Surga
sigma-senandung ukhuwah*
***
Tidak disangka, saat telah dekat dengan masa masa khidmat, ia terkena hukuman mencuci karpet masjid yang amat panjang dan berat ini.
Adnan sahabatnya membantu membentangkan karpet itu di sebuah pagar sebelah masjid setelah solat dzuhur
. Ustadz yang hari ini mengajar ada urusan dengan lembaga ikhwan yang berasal dari arab. Biasanya pertemuan yang lama itu membuat santri dibebaskan atau tidak belajar.
Kebanyakan mahasantri beristirahat di kamar asrama karena ngantuk, atau ada juga yang berolahraga di lapangan, seperti main bola, tenis meja dll.
"undangan antum itu udah jadi bahan omongan anak sekamar ya Akhi" seru Fakhri tiba-tiba menghampiri Adnan dan Ahsan. Adnan memang sebentar lagi akan menikah.
Ahsan menatap sahabatnya itu sambil geleng-geleng kepala. "Dia ini sudah di tag Rektor Universitas Islam yang itu akhi, masya Allah ... mantap" tambah Ahsan pada Fakhri.
"ya antum berdua itu kan khidmat nya barengan, lah kalo ana... cari temen baru biar ga sendirian 🤪"
"temen hidup ini mah 😝" ujar Fakhri menyenggol bahu Adnan.
"tak terasa sebentar lagi masa itu tiba kawan..." ujar Ahsan.
"ya iya, itu sebabnya ana cepet cepet fotokopi buku catatan antum sebelum kita berpisah , kekekek"
"oh jadi ada udang di balik bakwan nih antum bantuin ana" Ahsan menyemprotkan sepercik air ke arah Adnan.
"🤪🤪🤪"
"syeikh..." tambah Adnan memanggil Ahsan, ikut-ikutan Fakhri nih. " .. apakah ana akan merasakan ruh tarbiyah yang sama di tempat lain nanti... seperti disini."
"justru antum yang harus menciptakan ruh ikhwan di tempat baru nanti"
Glek. Ahsan menelan ludah, entah kata kata itu terasa perih, karena ia tau mungkin tak ada tempat yang sekental di tempat ini ruh tarbiyah itu, kecuali MA nya dulu.
Terbayang lagu senandung ukhuwah yang kan mereka lantunkan nanti di panggung saat perpisahan.
Menyedihkan..
Ia punya murrobi hebat disini. Syeikh itu keturunan Yaman asli, dan selalu memberikan arahan untuknya, serta challenge yang harus ia capai di tiap tingkatan Ma'had.
Harus berpisah
Bukan akhir, tapi api yang membara pada titik awal peradaban baru.
Sebab bahan bakar yang telah didapatkan dari Ma'had ini, haruslah di nyalakan untuk menyusuri jalan dakwah yang baru.
__ADS_1
Sorenya saat bersiap mengeringkan karpet, Syeikh Amru datang. Tampak memicingkan mata sambil berdehem.
"Ada izin kah antum bertiga melakukan kegiatan ini disini?"
Ahsan menunduk, dan juga ketiga sahabatnya.
Lautan terik senja menyiram wajah berahang kokoh di depan mereka.
"Keringkan segera, sebelum Syeikh Bassam coret kalian dari daftar mutarobbinya"
****
Setiap satu minggu sekali, Ahsan ada pertemuan khusus dengan Syaikh Bassam, biasanya untuk membicarakan Qismul Ubudiyah, atau nama lain dari polisi ibadah. Kebetulan ia bertugas jadi ketua Qismul Ubudiyah, jabatan ini sangatlah berat (berapa kilo …?) nggak cuman berkilo-kilo… tapi tugasnya yang cukup banyak dan harus dengan keberanian yang cukup dan disiplin tingkat tinggi. Pekerjaannya mengawasi untuk mengatur jadwal halaqah ,dan ibadah mahasantri di masjid, seperti pergiliran tugas jadi imam, khotib dll. Serta mengingatkan mereka jika tidak mengerjakan tugasnya.
Hari ini langkahnya terasa berat, ia takut rumor ketidakdisiplinannya telah sampai pada telinga syaikh berkarakter keras itu.
Syeikh Bassam terkenal yang paling hangat memperlakukannya, ia hanya takut jadi mengecewakannya.
Tampak dari kejauhan syeikh Bassam telah duduk di pojok masjid menunggunya.
Jantungnya berdegup tak karuan.
Meski sosok itu membelakanginya, tapi perasaannya sudah gelisah bukan main.
"Assalamu'alaykum..."
"Wa'alaykumsalam" syeikh Bassam memicingkan mata menoleh padanya dengan kepala yang dimiringkan. "Kaifa haluk?"(apa kabarmu?)
"Alhamdulillah.. ini bi khoir syeikh.."(kabar saya baik) wa kaifa haluk?"
"Bi khoir Alhamdulillah.. Ahlan wa sahlan" Syeikh Bassam mempersilahkannya duduk.
Terus menulis jadwal tanpa mengindahkannya beberapa menit, tak ada suara kecuali suara pena.
"Antum tau seberapa jauh Kairo?"
Ahsan diam mencoba mencerna kata kata selanjutnya.
"Antum baru saja melewatkan syeikh tamu yang istimewa kemarin...ana tidak melihat antum di daftar absensi" jelasnya dalam bahasa arab.
Kampusnya memang selalu mengadakan seminar islam setiap sehabis ashar, biasanya dihadiri bintang tamu yang istimewa, kebetulan kemarin adalah seorang syeikh dari Kairo.
Ahsan diam seribu bahasa.
"Lantas inikah Qismul Ubudiyah yang patut di contoh ?"
Ahsan berdehem perlahan,
"Saa..mi'ni syeikh.. (maafkan saya ) kemarin saya harus mengambil sesuatu yang penting, tertinggal di suatu tempat"
"Apakah antum akan mati jika tak mengambilnya?"
Ahsan diam memandang Syeikh Bassam yang sekarang seperti memelototinya. Namun dengan matanya, ia mencoba berbicara.
__ADS_1