
[ Proses Yang Terlalu Cepat ]
Senja, terik telah sirna menyisakan jingga. Aku disini, bersama kenanganku, perasaanku yang sia-sia seperti awan yang mengarak cahaya tenggelam, kemudian menghilang tak bersisa. Menyisakan gelap, dan suara-suara bising serangga malam. Memenuhi otak yang kubiarkan kosong, tapi tetap saja tak bisa. Di dalamnya masih ada engkau, seseorang yang masih saja ku cinta...
***
"Belum dibuka juga pintunya umi?..." tanya seseorang yang sangat ia kenali suaranya.
Ia adalah Halimah.
"Belum, dari tadi pagi belum keluar kamar.." nada khawatir umi terdengar jelas.
"Undangan ini aku titip aja.. ku berharap dia bisa datang umi. Umi temanin ya.."
"InsyaAllah neng geulis.. bageur.. sing sehat ya sampai hari H..mugi lancar.."
Halimah tersenyum lalu mengangguk, ia menatap sejenak pintu kamar yang baru saja ia ketuk. Ada wajah sedih, tapi ia sadar mungkin ini adalah takdir yang Allah beri untuk sahabatnya.
Ia pamit sampai langkahnya terhenti ketika umi Muna menahan bahunya.
"Umi, berniat menjodohkannya dengan anak teman umi... " ucap umi berbisik.
Halimah menatap dengan terkejut, bibirnya menyunggingkan senyuman yang tak wajar.
Tapi Umi terus menatapnya dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
"Ada teman umi yang punya anak, sedang sekolah di Madinah sana. Penulis buku, hafal quran 30 juz. MasyaAllah kebetulan sedang cari jodoh .."
Halimah berkedip menatap kakinya sendiri, mungkin inilah jalan yang Allah beri, dan ia akan bantu sebisa mungkin agar sahabatnya bisa bangkit lagi dari segala keterpurukan ini. Setidaknya itulah yang ia tangkap dari tatapan mata umi.
***
Ting
Gawai tipis itu berbunyi lagi dari sekian banyak bunyi bunyian sedari tadi. Laiqa memang baru saja mengaktifkan hapenya.
Dan, pesan itu berasal dari Halimah.
Ukhti..
Ukhti
ana ke rumah boleh?
Ukhti..
yang sabarðŸ˜
Ukhti buka pintunya..
Ukhti
__ADS_1
Anti harus makan
Ukhti udah makan?
Belum aktif?🥺
Ukhti... liat foto ini..
Deretan pesan yang kemudian membuat keningnya berkerut.
Sebuah foto yang baru saja terunduh.
Seorang ikhwan dengan senyum yang lebar dan wajah yang tampak bersemangat. Sungguh ia tak kenal sosok itu. Memakai kacamata, tinggi, kurus, kulit sawo matang, tatapan mata yang manis dan polos bak anak kecil. Bening berbinar. Memakai kemeja batik yang hampir dominan polos berwarna coklat kemerahan. Disampingnya foto seorang ummahat yang seperti pernah ia lihat tapi entah dimana.
Syamil El Fath
Usia 29 Tahun
Aktifitas : Belajar sanad di Madinah dengan 10 Bintang Qira'at terbesar abad ini
Mau ta'aruf sama anti. Besok, dia ke Indonesia karena ayahnya sakit.
Deg .
Terasa amat sempurna seperti yang dibutuhkannya. Tapi, apakah secepat ini? Atau ia akan merasakan terluka lagi?
__ADS_1