
[ Bersamamu ]
Setelah mereka berbaikan Laiqa merasa waktu berlalu amatlah cepat. Satu hari bagaikan satu jam. Dan ia baru menemukan sisi baru dari suaminya yaitu kehumorisan yang membuat ia seringkali tertawa sampai sakit perutnya.
Tentang jodoh, perjodohan, dan pernikahan atas dasar perjodohan memang semuanya tidak selalu berjalan mulus. Bahkan ada yang tidak berhasil dan berhenti di tahun – tahun pertama. Tapi tentang perjodohan diantara mereka, mungkin akan sedikit lebih mudah karena pihak laki-laki amatlah menginginkannya. Laiqa tahu itu, dari cara Syamil memperlakukannya, dia yang suka menatap wajah Laiqa secara diam- diam, dan masih banyak lagi.
Sungguh pasti akan berbeda ceritanya jika pihak laki-laki sama sekali tidak memiliki kecenderungan terhadap pihak wanita.
Selama, laki-laki itu berakhlaq baik, Laiqa semakin yakin jalan perjodohan itu lebih baik dibanding bertahan diatas egonya sendiri mempertahankan cinta yang mungkin tidak akan pernah datang.
Ia melihat suaminya yang berada di sebelahnya sedang menyetir menuju sebuah masjid tempat acara berlangsung.
Hari ini hari yang amat sibuk. Setelah setengah harian ini mereka telah berolahraga, bersepeda, mencicipi kuliner sekitar lapangan kota, membeli ikan hias, membuat akuarium, membawa kucing Syamil yang berbulu lebat abu-abu gradasi putih gembul bernama snowy ke salon, makan siang di mall, fitting jas dan coats untuk musim dingin nanti di Madinah. Dan menerima puluhan tumpuk kardus besar berisi paket buku karya suaminya yang harus ditandatangani nanti malam.
Ba’da Ashar ini mereka mempunyai jadwal mengisi talkshow tentang Qur’ani Couple, is Family Goals. (Kisah Perjalanan Cinta Sepasang Penghafal Al Qur’an)
“Sayang?Bisa tolong baca wa masuk di hape ku..” ujar Syamil kemudian membuyarkan lamunan penuh syukur Laiqa. Perempuan itu tersenyum padahal tidak ada yang lucu, bahkan ia tertawa kecil sambil menutup wajahnya setelah mengambil hape hitam itu dari dashboard.
Syamil yang melihat itu kini melihat kaca depan, fokus pada wajahnya.
“Aku pikir ada cabe di gigiku..”
Laiqa tertawa lagi kali ini lebih keras sampai Syamil memelankan laju mobilnya memandang istrinya heran.
“nggak, nggak bukan. Aku cuma nggak bisa berhenti ketawa aja, karena kamu lucu..?”
“hemmm…aku tau aku lucu, tapi kayaknya cuma kamu yang bilang aku lucu”
__ADS_1
Laiqa memutar bola matanya, ya emang iya sih.. mana ada yang berani bilang begitu ke orang seperti Syamil kecuali dirinya.
“Udah jelas karena mereka nggak punya pilihan, cuma aku yang punya semua pilihan itu” ucap Laiqa dengan amat percaya diri.
Syamil berdehem “Makan tuh cemilannya,biar nanti nggak oleng” ujar Syamil menunjuk cemilan keripik kentang di dashboard.
Laiqa menggeleng, “kamu aja deh yang makan.. nih aku suapin aaaa”
Syamil memakan itu dengan lahap.
“Hebat kan aku bisa tau cemilan kesukaan kamu..” ujar Laiqa melihat wajah suaminya yang sangat menggemaskan karena tak berhenti tersenyum.
Laiqa mengerutkan kening bersamaan dengan rona merah di seluruh wajahnya. Benar-benar, ia dibuat geli lagi kali ini sampai sangat pegal rasanya tidak berhenti tersenyum.
“Kamu tahu nggak kalo lagi muroja’ah kenapa aku selalu ngeliat ke atas?” tanya Syamil.
Laiqa menjawab, “Karena.. ngerasa Allah liat kamu!"
“Salah!, mau lihat kemanapun juga kita harus ngerasa Allah lihat kita kan?. Ayo kenapa tahu nggak?”
__ADS_1
Laiqa menggeleng cepat sambil terus memandang wajah Syamil penuh rasa penasaran.
“Soalnya kalo muroja’ahnya merem, langsung kebayang wajah kamu” jawab Syamil dengan tatapan anak kecilnya yang membuat Laiqa bergidik dan tertawa kecil sambil menutup mulutnya
“tapi nggak akan terjadi apa-apa setelah itu karena kamar kita penuh kardus kan?” susul Laiqa.
Syamil menghela nafas panjang sangat mengerti. “kamu harus bantuin aku sih nanti malem biar semua kardus itu tak memenuhi kamar kita lagi”
Laiqa baru saja ingin tersenyum sampai sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal muncul di layar handphonenya.
Ia kemudian hanya membiarkannya dan menaruhnya di dashboard.
“Kok nggak diangkat? Siapa tahu penting?” tanya Syamil.
“Kalo penting dia pasti bakal nelpon aku berkali-kali. Lagi juga nggak ada namanya..”
Laiqa memandang ke arah bahu jalan sambil menggigit ujung kuku ibu jarinya. Entah kenapa perasaanya menjadi tidak enak.
Handphonenya berbunyi lagi. Kali ini ia hanya membiarkannya dan menatapnya dari jauh.
Sementara itu Syamil terus saja memandangnya sesekali lewat kaca depan kemudi sampai mereka sampai ke tempat tujuan, handphone itu hanya dimasukannya ke tas. Dan tanpa Syamil tahu handphone itu bergetar lagi, tapi Laiqa tetap saja membiarkannya.
***
__ADS_1