
[ Memaafkannya? ]
“Aku hampir saja kehilangannya..” gumam Laiqa di dalam hati ketika laki-laki tampan di depannya itu sedang menikmati eskrim sebagai penutup makan mereka kali ini dengan seksama. Tubuhnya rasanya tak tahu harus melakukan apa, ia amatlah merasa tidak enak dengan suaminya sendiri.
Laiqa hanya melamun ketika suaminya menggandengnya setelah selesai makan menuju area mall yang lain. Mungkinkah ia sejahat itu untuk Ikhwan bertangan lembut ini?
Ia menggelengkan kepalanya, menyadari betapa sering wajah itu tersirat saat ia melihat wajah suaminya. Dari semua hal, bisa jadi mungkin karena mereka berdua mirip, bahkan suaminya lebih sempurna, tapi mengapa seringkali kenyataan itu tak bekerja dengan baik.
Mengapa masa lalu itu tak kunjung selesai juga? Apakah karena ia begitu bodoh soal cinta? Atau karena ia begitu lemah dari semua bisikan syaiton yang ada disekitarnya.
Saat itu,
Mereka telah membeli beberapa elektronik yang sekiranya akan terpakai di Madinah. Dan semuanya dengan ukuran mini. Hari-hari yang sibuk dan cuaca yang kurang menentu disana membuat mereka memutuskan membeli barang-barang yang sedikit ribet di Indonesia, dan hanya membeli barang yang mudah dibawa saat di Madinah.
Ia bahkan menurut ketika suaminya mengatakan tak usah membawa banyak baju kecuali hanya daster bertangan panjang. Karena baju baju tebal dan berat seperti abaya dan beberapa jubah akan mereka beli di Madinah.
Laiqa lebih banyak diam saat itu lebih tepatnya..dia bingung harus melakukan apa. Dan takut membuat kesalahan lagi.
****
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Mereka terdiam lama, hingga Syamil berkata,
“Pandangan mata itu sangat berbahaya” ucap Syamil.
Mereka melewati jalan boulevard besar dengan laju mobil yang amat kencang, kemudian belok ke arah perumahan yang berkonsep perbukitan golf.
Jantung Laiqa berdegup kencang.
“Kamu bisa celaka kalau tidak menjaga pandangan.” ucap Syamil lagi. Kali ini tampak amat serius.
Saat itu juga Laiqa paham bahwa suaminya sedang menasihatinya, betapa membahayakan pandangan mata yang bisa membuat hati seorang menjadi tergila-gila menyukai sesuatu bahkan sulit untuk melupakannya sekalipun itu tidak halal.
“Logika tidak akan bisa berjalan, akal sehat akan hilang, banyak fitnah yang akan terjadi, bahkan jika ada satu hal yang bisa mendahului takdir, semua itu berasal dari kejahatan pandangan mata.”
“Dan kamu bisa kehilangan semuanya hanya karena pandangan mata”
“Kamu menunduk tapi mata hatimu selalu melihat dan memikirkannya itu juga sebuah kejahatan”
Laiqa kini memberanikan diri memandang Syamil. Memandang suaminya dalam.
“Apa kamu tidak mempercayaiku yang?” tanya Laiqa.
“Aku bukan membicarakan Ahsan” tegas Syamil saat itu langsung membalas tatapannya. Ia menghela nafas.
“Di Madinah sana maksudku, berhentilah melihat apa saja. Dan jangan sekali-sekali berpikir menjadi pusat perhatian. Kenakan cadar, karena tak ada pakaian yang lebih baik selain hitam untuk kejahatan pandangan mata. Penyakit Ain itu nyata.”
Laiqa menunduk, sebenarnya ia terharu dan mengerti betapa takutnya perasaan suaminya. Tapi tidak dengan cara menuduhnya seperti ini. Sungguh selama ini ia benar-benar mengerti apa itu penyakit Ain dan selalu menjaga sikap serta menjaga pandangan. Hanya saja…
Laiqa memandang pemandangan di luar jendela mobil. Mereka berhenti di atas bukit yang menyajikan pemandangan kota dengan gemerlap lampu di malam hari.
Suaminya membuka pintu lalu bersandar di sisi depan mobil dekat pintu tempat Laiqa duduk. Sorot cahaya lampu, keheningan malam, dan sosok suaminya yang berdiri disana adalah suatu keindahan yang amat sempurna.
__ADS_1
Ia kemudian membuka pintu perlahan.
Menghampirinya, dan berdiri disampingnya.
Syamil menghela nafas,
“Ini yang akan kamu jumpai disana setiap hari, keheningan, ketenangan, angin yang bertiup kencang menyapu seluruh wajahmu, rasa dingin,dan satu hal yang aku terkadang takutkan, akan tetap kesepian meskipun aku telah berdua denganmu disana”
Laiqa menatap ribuan lampu yang berpendar di bawah. Langit yang mendung, rasa dingin yang menusuk.
“Banyak hal yang harus aku relakan saat memperjuangkanmu, menghalalkanmu” ucap Syamil. “Tapi itu semua tidak penting”
Laiqa menunduk, Syamil memang harus keluar dari Asrama dan menemaninya di sebuah kontrakan kelak di Madinah. Ia harus mengikhlaskan diri lebih jauh untuk pergi ke Kampus. Mengikhlaskan liburannya untuk meminangnya. Mengikhllaskan urusannya Bersama syeikh penting hanya untuk dirinya. Meskipun tak mengatakannya, Laiqa tau betul itu semua.
Syamil menyentuh wajahnya dengan perlahan membuat Laiqa refleks menatap wajah Syamil.
“Cantik.." kata Syamil sedikit tertegun lalu menghentikan gerakannya. Ia menunduk dan menatap apapun selain Laiqa.
"kamu tahu aku sangat menyayangimu…? karena Allah. Karena Allah juga aku masih berdiri disini mempercayai semua kebohonganmu” ucap Syamil lagi membuat Laiqa terhenyak.
Senyuman yang perlahan hilang itu berubah menjadi air mata..
“Dan memaafkannya..” ucap Syamil lagi sambil mengusap wajah Laiqa yang penuh air mata.
“Karena aku telah berjanji bertanggung jawab atas semuanya di hadapan Allah, apakah kita harus berhenti disini?”
Laiqa menggeleng dan dengan cepat memeluk Syamil dengan erat.
“Tolong jangan pergi..!” ucap Laiqa “Tetaplah disisiku..”
“Tetaplah seperti itu, hal itulah yang membuatku bisa semakin mencintaimu” ucap Laiqa.
“Bagaimana jika aku berhenti?. Bagaimana jika aku Lelah? Apa kamu juga akan berhenti mencintaiku? Aku sudah bilang menempuh Pendidikan itu tidak mudah, berhentilah sekarang sebelum terlambat, kamu akan merasakan bosan, merasakan sulit, merasakan ingin menyerah apalagi ditambah dengan masalah seperti ini yang belum selesai juga”
Laiqa hanya diam,
“insyaAllah kamu akan merasakan semangat kembali saat melihat wajahku, dan seperti itulah sebagaimana aku ditakdirkan untuk ada di dunia ini, mendampingimu..?” Laiqa menggumam perlahan.
Syamil merasakan dadanya bergemuruh kencang, ia bahkan menghela nafas kasar seperti orang yang baru saja berlari kencang. Sambil menatap Laiqa tidak percaya, kata-kata itu begitu Ajaib keluar darinya dengan mata yang memancarkan aura indah sekaligus aura kebohongan.
“ketika semua itu terjadi, kamu hanya harus melihat senyumanku..kamu hanya harus merubah kata negative menjadi kata positif. Dan dari semua itu tidak ada alasan aku untuk pergi selain ada disisimu, disisi anak-anak kita, membangun keluarga Sakinah, mawaddah, warahmah, wadakwah..” ucap Laiqa.
Syamil hanya melihat itu dan terus berpikir bahwa Laiqa sedang berusaha berpura pura mencintainya. Semua kebohongan yang amat memuakan.
“Ingat, Allah itu sesuai prasangka hambanya. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, kamu harus percaya”
Syamil mengangguk, Namun tetap aja ia bisa membaca apa yang ada di dalam hati istrinya dari mata yang indah itu.
Sungguh ia tahu betul, sosok itu belum benar-benar hilang dari ingatan istrinya.
“Baiklah..”Syamil mengangguk. “Kalau kamu tidak ingin berhenti. Aku juga tidak akan berhenti" Ucap Syamil dengan maksud lain yang pasti akan sangat mengejutkan Laiqa.
__ADS_1
Laiqa tersenyum dan berkata. “Terimakasih..”
Syamil tertegun, dan menunduk.
“Aku juga ingin berada di hatimu, seperti dia” ucap Syamil kemudian menaikan wajahnya perlahan menatap Laiqa.
Laiqa mengerutkan kening.
“Berada di imajinasimu..di fantasimu tentang seorang Ikhwan yang sulit kamu dapatkan”
Laiqa menelan ludah, bahkan ia tak bisa berkata kata lagi.
Jantungnya mulai berdegup kencang.
Syamil kemudian mengambil langkah cepat menuju pintu mobil dan masuk, lalu duduk di depan kemudi.
Laiqa menatap itu tidak percaya. Ujian apalagi yang akan Allah berikan untuknya?.
Ia membuka pintu perlahan lalu duduk sambil terus menatap suaminya yang hanya diam.
Laiqa menunduk, bahasa kiasan itu terlalu sulit untuk dimengerti. Sebenarnya apa yang akan suaminya lakukan setelah ini kepadanya.
****
Hari sudah sangat malam. Rumah sudah sepi tak ada tanda kehidupan. Mereka masuk kamar. Lalu Syamil masuk kamar mandi dengan cepat dan keluar tanpa berkata apapun. Ia kemudian duduk di sofa dan tidur disana.
Laiqa memandang itu aneh.
“Kalau aku adalah Ahsan, tidak mungkin kita tidur di satu ranjang kan?”
Laiqa mengerutkan kening.
“Apa maksudnya itu?”
“Aku sudah bilang dengan jelas, dan tidak perlu diperjelas kembali?”
Laiqa menghela nafas tidak percaya.
“Mengapa melakukan itu semua??”
“Tidurlah, dan berdoa yang benar” ucap Syamil kemudian menarik selimut dan tidur tanpa menjawab apapun.
Laiqa memandang dirinya di kaca dalam toilet. Ia melepas hijabnya perlahan sambil terus berpikir.
Ia keluar kamar mandi dan kaget saat melihat sebuah jilbab kaos di depan pintu kamar mandi. Di atasnya ada sebuah kertas.
“Assalamualaykum Laiqa Alifia. Aku perintahkanmu memakai jilbab ini selama tidur, dan dimanapun saat bersamaku. Jangan pernah buka hijabmu. Jazakillah Khairan Jaza. – Syamil”
Laiqa menghela nafas tak percaya sekali lagi. Benarkah apa yang dilakukan suaminya ini?. Ia kemudian mengangguk dan segera memakai jilbabnya. Dibanding melihat amarahnya, tidak ada salahnya ia mengikuti permainan ini yang entah akan berakhir kapan. Ia mulai mengerti ternyata memaafkan itu tidak semudah saat mengucapkannya.
Laiqa duduk di pinggir kasur dan berbaring tidur sambil terus menatap punggung suaminya.
__ADS_1
"Yang ..apa kamu akan benar-benar melakukan ini?.." tanya Laiqa tanpa terdengar sedikitpun oleh Syamil. Dipandanginya list aktivitas suaminya yang padat esok hari di Indonesia sebelum mereka berangkat ke Madinah. Yang harus dilalui bersamanya, bersama istri yang kini dianggap seperti orang lain.
****