Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 13


__ADS_3

Sebelum Tahajud


Segera sebelum waktu tahajud dimulai, Ahsan mengambil sepedanya, menaikinya melewati gerbang, dan menyusuri lorong dengan cepat, secepat kilat.


Ia berusaha mengambil kue lebih banyak hari ini, untuk dititipkan di kantin. Setelah melamunkan isi halaqah kemarin malam tentang sedekah, dan perihal hukuman kemarin ia sudah mantap akan membeli alat untuk mencuci karpet saja dibanding harus mencuci karpetnya dengan jasa laundry ataupun manual. Meski itu akan menghabiskan seluruh tabungannya.


Tapi disitulah terletak jariyahnya.


Yang akan terus mengalirkan pahala dan keberkahan meski ia telah tak ada.


****


Laiqa tampak mengantuk ketika membantu umi merapihkan kue, ia bahkan hampir terjatuh saat berjalan di lorong pasar yang dingin.


Tapi, umi sakit lagi.... terpaksa hari ini ia yang mengantarnya dan menitipkannya dengan Mpok Sholeha, tukang bumbu dapur lapak sebelah kios umi.


Ia tampak sibuk merapihkan kue dengan kesadaran yang tak penuh. Sungguh melelahkan pekerjaannya akhir akhir ini, merangkum beberapa kitab sebelum tidur untuk persiapan sidang kelak. Ditambah lagi membantu Kak Azqila saat siang yang semakin kesini bertambah parah kondisi kehamilannya.


"Assalamualaykum Umii... biasa kuenya, tambah 1 box lagi dicampur ya umi.."


Laiqa yang sedang menghadap ke belakang merapihkan bangku yang tadi tersusun diatas meja sontak membatin.


Ini nih pasti yang membuat umi menyuruh ia cepat cepat pergi ke pasar, sepagi ini sudah cari kue, rajin sekali sih..

__ADS_1


Laiqa menoleh, kemudian


degg.. jantungnya seperti terhenti


Ahsan...?


Rasanya seperti saat sedang asyik memperhatikan terik matahari sore, kemudian segumpal awan nan bersih menenggelamkan kilaunya.


Menghasilkan teduh yang dihias langit senja berona kemerahan, jingga, ungu, biru semua jadi satu.


Kau kah teduh itu?


Dari segala terik yang membebaniku selama ini.


Hingga hati akhirnya mampu merasa damai lagi, persis saat aku merasakan kehadiranmu. Seperti merasa ada angin sepoi yang bersemayam di antara senyumanmu, itulah aku yang tak bisa menahan bibirku untuk tersenyum juga kepadamu.


Seketika semua kantuk hilang.


Astagfirullah..


Kami berdua, menunduk bersamaan. Seperti ada yang menyadarkan kami. Apalagi kalau bukan dinding syariat.


Batas batas

__ADS_1


Hakikat rasa


Yang belum seharusnya ada, untuk siapapun jua.


"umi Muna kemana?"


"sakit.., beliau ibu kandung ana dan hari ini ana menggantikannya."


"syafahullah..."


ucap Ahsan lalu terdiam..


"Ehmm.. apa tadi? Afwan..." tanya Laiqa hati-hati.


Ahsan bergegas mengambil pesanannya, membayar dengan kontan dari jari-jari kokohnya.


Lalu tersenyum mengatakan "syukron"


Dan menganggukan kepala.


Senyuman sopan santun yang sempurna.


Kemudian ia berbalik sekian detik dan berjalan dengan tegap menuju parkiran, fokus pada pijakannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2