
Salah Paham (2)
Setelah sholat Ashar,
Syamil tampak duduk di bangku tunggu samping mushola dengan kedua siku tangan yang menempel di paha menopang badannya. Ia sedang memeriksa hapenya dan melihat ada begitu banyak panggilan masuk tak terjawab dari Laiqa.
Ia kemudian melihat foto profil istrinya, dan masih sama, foto ketika mereka mengenakan baju pernikahan, hanya menampakan bagian belakang tubuh yang saling bergandengan.
Ia kemudian melirik sosok yang baru saja selesai sholat, yang kini menghampirinya.
Ia langsung berdiri dan bertanya.
"Sudah makan?" Tanya Syamil tanpa memikirkan apa yang akan dijawab Laiqa.
"Ayo ikut ." Ucap Syamil mencengkram pergelangan tangan Laiqa membuat perempuan itu sedikit kewalahan mengikuti langkahnya.
Mereka kini sudah di dalam mobil dan pergi memasuki parkiran sebuah mall yang tak jauh dari rumah sakit.
"Mau makan apa?" Tanya Syamil saat mereka sudah ada di pintu masuk Mall. Suasana yang ceria dan adem tampak membuat emosi sedikit mereda.
Mereka hanya berjalan berkeliling dengan tangan yang terus bergandengan.
"Kamu akan terus diam saja ?" Tanya Syamil.
"Aku tidak akan memakan apapun dari seseorang yang bahkan tidak ridho denganku, dan tidak mempercayaiku.." ucap Laiqa.
Syamil tercekat mendengar penjelasan itu. Ia menggeleng geleng kepalanya melihat akhwat dengan gamis berwarna maroon polos dan scarft signature panjang yang di dominasi abu abu gelap sebagai jilbabnya.
Tapi anehnya ia terus tidak melepas cengkraman tangannya di pergelangan Laiqa. Mereka terus berjalan mengelilingi Mall dengan perasaan yang campur aduk. Hingga tibalah mereka di sebuah tempat makan bergaya chinnese dengan logo halal yang besar terpajang di papan menu bagian muka restoran.
Semua koki dan karyawan di dapur modern yang dibuat terbuka di sisi restoran menyapa mereka yang masuk kesana.
Syamil mengambil sebuah bangku di sebelah partisisi daun-daun artifical, dan memiliki ruang yang cukup jauh dari bangku yang lain. Mereka bisa memandang apapun di luar dari jendela besar di sebelahnya.
__ADS_1
Seorang pelayan wanita berseragam krem khaki menghampiri mereka,
"Silahkan, ada promo diskon untuk dua orang." Ujar Pelayan ramah sambil memberikan daftar menu pada Syamil. Sementara Laiqa hanya duduk diam mematung, menatap satu titik di meja.
"Nasi Ayam Hainannya satu, Kwetiaw Seafood daging Sapi 1, lumpia spesialnya 1, dan eskrim promo ini boleh 1" ujar Syamil tanpa berniat menanyakan apa yang diinginkan Laiqa.
"Terimakasih, mohon ditunggu, jika ada tambahan silahkan pencet bel ini " ujar pelayan dengan senyuman ramah kemudian pergi meninggalkan mereka hanya berdua lagi.
Syamil tampak mengusap wajahnya dan melipat kedua tangannya di dada sambil terus memandang lurus kepada istrinya.
Tampak tak ada sesuatu yang akan dikatakan istrinya yang terus diam itu.
"Es krim itu, makanlah. Setidaknya itu bisa sedikit memadamkan hati yang terbakar" ucap Syamil dengan nada lembut yang begitu tajam, Laiqa melihatnya dengan alis yang berkerut.
Laiqa tak mengerti kalau sebenarnya kalimat itu adalah untuk diri Syamil sendiri yang sangat panas suasana hatinya ketika kejadian semalam terus terngiang di benaknya.
Syamil kemudian menghela nafas sambil bersandar seolah mencari posisi ternyaman.
"Seandainya aku merekam semuanya" ucap Syamil kemudian.
" yang jelas kamu terus menerus menyebut namanya"ujar Syamil lagi.
"Mimpi..?!" Laiqa melihatnya tak percaya. Ia langsung berputar balik mengingat semua kejadian yang terjadi pada mimpinya kemarin. Mimpi yang sangat jelas bahwa di dalam mimpi itu sama sekali tak ada suaminya. Hanya orang lain.
"Tadinya aku berniat menyerahkanmu padanya..tapi Allah berkehendak lain.." ucap Syamil
Laiqa tertunduk bingung. Dan takut pada kesalahannya sendiri, yang tak pernah ia sengaja. Ternyata inilah yang membuat suaminya berubah dan tidak mempercayainya.
Takut - takut Ia memandang Syamil yang terus menatapnya dalam.
"Apapun tentang niat burukku, semuanya tidak terkatakan di dalam sana.." ucap Syamil, membuat Laiqa menghembuskan nafas lega perlahan.
"Kamu pasti sudah mendengar semuanya..." Ucap Syamil.
__ADS_1
"Ahsan ...dia orang yang baik. Sangat baik.. pantas bila kamu menyukainya. Tapi sayangnya ia tak punya nyali sebesar itu untuk bersanding dengan keegoisanmu.." Syamil menelan ludah. Kini di hadapan matanya ia melihat istrinya tampak merasa sedikit terkejut.
"Untungnya..kita punya mimpi yang sama..." Ujar Syamil lagi. Dan makanan pun datang disajikan dengan cepat oleh pelayan. Kemudian pergi meninggalkan mereka berdua lagi.
Tersaji makanan yang begitu istimewa tapi terasa hambar di mata Laiqa.
Syamil tampak memejamkan mata dan berdoa dengan kedua tangannya lalu menyuap dengan lahap dan rapi.
Ia menyendok satu sendok dan menujukan itu ke istrinya.
"Makanlah.. ini waktu dimana aku akan mempercayaimu kembali.." ujar Syamil. Laiqa melihat matanya dengan sungguh-sungguh. Dan Syamil tahu tatapan itu.
Laiqa mulai membuka mulut dan memakan suapan dari suaminya secara perlahan.
Syamil rasa ia bisa membuat istrinya jatuh hati berkali kali pada orang yang sama. Yaitu dirinya.
Perempuan itu perlahan tapi pasti akan melebur dinding emosi menjadi kasih sayang, setelah ia tahu seorang laki-laki yang duduk di hadapannya, mengetahui semua kekurangannya, tapi memilih untuk tidak pergi dan tetap tinggal untuk menetap selamanya hingga jannahNya.
Laiqa lebih tak percaya lagi tentang apa yang baru saja dialami Syamil, meski begitu laki-laki itu masih sebegitu perhatiannya dengan dirinya, meski ia mengetahui baru saja dirinya itu menyakiti hati Syamil semalam. Yang membuat laki-laki itu tau apa yang dimimpikannya.
Syamil tampak tersenyum melihat Laiqa yang makan dengan begitu seksama meski terus saja diam.
"Itu bukan mimpi yang penting. Hanya buah dari bisikan syaiton.." ucap Laiqa akhirnya saat tiba saatnya mereka makan segelas besar eskrim untuk berdua.
Syamil yang sedang menyendok es krim ke mulutnya tertegun hingga menyisakan sedikit es krim di sisi bibirnya.
"Bagiku kamulah yang lebih penting." Ucap Laiqa dengan sigap menyentuh bagian es krim yang tertinggal itu lalu memasukan jarinya ke mulutnya sendiri membuat Syamil mematung melihatnya.
"Ada satu orang yang bahkan aku dihalalkan untuk bersujud kepadanya, setelah bersujud pada Allah..dan itu kamu yang ...."
Syamil menunduk, ia diliputi kebahagiaan yang menakutkan. Ia segera mencium tangan istrinya lalu berkata,
"Maka hiduplah terus di hadapanku dengan seluruh hati dan pikiran itu"
__ADS_1
Laiqa mengangguk dan mengucap InsyaAllah. Karena tidak ada sesuatu pun yang akan dilakukan esok, kecuali mengatakan InsyaAllah.
"Kita adalah da'i. Ke depan bukanlah hal yang mudah. Tapi tidak juga bisa dikatakan sulit dan tak bisa kita lakukan. Menuntut ilmu disana bukanlah hal remeh yang bisa kita buat sampingan. Ada orangtua yang berkorban, ada doa doa mereka yang bertaruh di langit, dan ada umat yang menunggu kita untuk memberikan manfaat. Fokuslah terus menjadi pendampingku. Agar mimpi kita berdua bisa tercapai atas izin Allah.."