Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 17


__ADS_3

Singkat Cerita


Singkat cerita Ahsan mendapatkan rizki yang besar, ia ditawari kontrak mengajar di sebuah lembaga swasta islam terkemuka di kotanya. Lembaga yang amatlah menjanjikan, karena telah bertaraf internasional dengan sistem pendidikan personalized learning.


Tidak tanggung-tanggung nominalnya sampai 54 juta perbulan. Biaya honor seorang guru disana, terbayang berapa spp yang harus dikeluarkan setiap anak.


Ia menjadi kaya raya mendadak. Ia beli sebuah motor untuk memudahkan transportasi ke sekolah tersebut dari Mahadnya.


*****


Hiperemesis yang makin parah kini membuat Laiqa semakin khawatir dengan kondisi Azqila. Ditambah sikap santai seorang Salman yang cenderung sibuk di luar, dan kurang ada waktu untuk istrinya, membuat ia sering menginap disana hanya untuk memastikan keadaan baik baik saja.


Jutaan cerita telah diketahuinya tentang masalah Azqila dan Salman. Hingga Azqila merasa ia sangat bergantung pada Laiqa, tak rela gadis itu jauh darinya.


"Apa kamu jadi pergi ke Madinah...?"


"InsyaAllah ka.."


jawab Laiqa pada percakapan di malam yang telah larut.


Azqila muntah lagi, sampai seluruh badannya pucat pasi. Ia menggenggam tangan Laiqa yang tengah menggendong Faiza.


"Bisakah kamu disini saja...?"


"Maksud kakak...?"


"Menjadi, istri kedua Aa'?.."


"Hah?..." Laiqa menutup mulutnya yang otomatis menganga lebar, terkejut dan hampir menyangka gadis di depannya sudah gila.


"Aku ga sanggup, mewujudkan cita citanya... melahirkan dua belas anak..Kemarin kamu berkata cita citamu ingin punya banyak anak"


Laiqa menggeleng sambil menimang nimang Faiza.

__ADS_1


"Ga akan terjadi ka.. ga.. aku ga ada kecenderungan sama sekali dengan suami kakak..."


Meskipun sekilas suami Azqila memiliki kemiripan dengan Ahsan. Laki - laki yang selama ini ia idamkan diam diam.


"Tapi aku butuh kamu, aku yakin kamu orang yang tepat, sholehah, baik, keibuan...?Kita bisa berpartner bersama membangun peradaban"


Laiqa menatap Azqila dengan kaca kaca di matanya.


Seandainya kamu mengetahui perasaanku terhadap adik iparmu ka..


"Apa kamu sudah punya pilihan lain...?"


Laiqa mengangguk.


"Aku sudah sekian hari membayangkan wajahnya, ia yang tersohor karena keilmuan dan cakapnya dalam agama, baiknya akhlaq yang begitu sempurna, membayangkan seandainya saja ia bisa menjadi imam untukku dan anak anakku kelak. Tapi aku tidak tau bagaimana cara menggapainya. Aku hanya akhwat biasa, tak mungkin aku menyatakan rasa suka. Untuk menatap wajahnya saja aku merasa berdosa, apalagi jika membiarkan rasa ini terus besar dan tak terkendali untuknya"


"Siapa dia, apa aku mengenalnya?"


Laiqa mengangguk.


"Kakak sangat mengenalnya."


Azqila menelan ludah, seperti ada yang berdegup kencang di dadanya, ketika ia memutuskan untuk menebak.


"Apakah dia adalah Ahsan?"


"Iya .." jawab Laiqa menunduk, air mata haru menetes di ujung gemuruh dadanya, karena pada akhirnya ia memiliki kesempatan untuk mengatakan perasaannya pada orang yang tepat. Orang yang sangat bisa membantunya.


"Kamu ingin ta'aruf dengannya?"


Laiqa menatap Azqila sambil menahan nafas. Azqila menggenggam tangannya yang dingin.


"Jika kamu jadi istrinya, kamu bisa tinggal di rumah sebelahku, rumah kontrakan milik umiku, atau bisa saja rumah itu tidak usah dikontrakan, kalian bisa pakai sesuka hati "

__ADS_1


"Apa aku pantas untuknya?"


"Kalian berdua, punya banyak kesamaan ... aku akan membantumu sesuai kemampuanku."


Seketika pintu terbuka, dan yang ditunggu datang. Ia adalah suami Azqila. Faiza yang telah tertidur segera Laiqa letakan di box bayi, kemudian ia pamit pulang. Azqila tampak ingin menahannya, dengan alasan memesankan taksi online untuk Laiqa. Hingga, pada akhirnya Laiqa berpas pasan di teras dengan seorang yang baru saja dibicarakan tadi dengan Azqila.


Ahsan, ia duduk di motor yang terlihat baru, melepas jaket hitamnya, dan bertatapan dengan Laiqa tanpa disengaja.


Laiqa duduk di bangku teras menunggu taksi online, membiarkan Ahsan masuk tanpa mengatakan apapun padanya. Ikhwan itu, hanya mengangguk sedikit padanya dengan senyum samar seperlunya.


Laiqa menunduk, waktu terasa sangat lama.


Sampai terdengar pembicaraan Ahsan dengan Ustadz Salman.


"Jadi Ahsan teh perlu apa saja buat legalitas Yayasan kita"


"Perlu rapat heula atuh ya Ang... sekaligus peresmian Aang sebagai ketua Yayasan"


"Haduh, kumaha atuh jadi Aang yang ketuanya"


Ting


"Hemm mobilnya udah datang, kamu hati hati ya ..." sela Azqila pada Laiqa yang langsung memeluknya..


"InsyaAllah nanti aku tanya, apakah dia udah siap nikah atau belum ya .."


Laiqa menatap Azqila malu.


"Kamu bantu doa ya.."


"Iya ka, aku pamit, Jazakillah khoir ka.. Assalamualaykum... ".


*****

__ADS_1


__ADS_2