
[ Bertemu Halimah ]
Di bagian dalam masjid,
Syamil terlihat baru saja sholat, dengan tersedu di dalam hati ia berdoa.
"Allahumma la ya’ti bil hasanati illa anta, wa la yadfa'u sayyi-ati illa anta, wa la haula wa la quwwata illa billah."
“Ya Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau yang mendatangkannya .. Tiada pula yang menghilangkan keburukan kecuali Engkau yang menghilangkannya.."
Syamil terisak di dalam dekapan kedua tangannya sendiri yang membenamkan seluruh wajahnya.
" Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatanmu Ya Allah.."
Ia membaca do'a shahih yang pernah di bacakan syeikhnya saat mendalami sebuah ilmu bernama Fiqih Dzikr, doa yang harus ia baca saat merasa gelisah, sedih dan tidak nyaman saat mengetahui sebuah kabar buruk.
"Wa la hawla wala quwata ila Billah." Ia mengucap itu berkali kali.
"Astagfirullah .." lirihnya sambil terus menunduk.
Bagaimana bisa Syamil menjadi membenci istrinya sendiri, bagaimana bisa rasa itu menguap hilang entah kemana. Ia seperti kehilangan dirinya sendiri.
Perjalanan panjang telah di depan mata, tapi partner hidupnya justru membuat hatinya seperti ini. Bagaimana cara untuk jatuh cinta lagi..pada orang yang sama.
Ia terus mendaraskan surah yang telah ia hafal di luar kepala dengan air mata yang terus mengalir dalam kesunyian.
Memuroja'ah lembar perlembar. Hingga tak terasa hari mulai senja.
****
Sementara itu di bagian sayap masjid, sebuah teras yang sepi. Laiqa memegangi Al Qurannya membacanya dalam alunan nada yang sedih.
Sudah hampir 3 juz selesai ia baca sampai perutnya terasa sakit.
Ia membenamkan wajahnya ke atas Al Qur'an coklatnya, mencium aroma kertas yang ia suka, dan kemudian menengadah ke langit langit yang di dominasi dengan cat putih dan ukiran ukiran ornamen islami.
Menghela nafas panjang sampai seseorang menepuk bahunya.
"MasyaAllah!!! Laiqa?"
"Halimah??" Laiqa merasa tidak percaya, dilihatnya sahabatnya dengan kerudung yang lebar, cadar yang terpasang rapih di jilbab silvernya. Itu benar dia dan suaminya ustadz Irham.
"Afwan sebentar ya ..bi?"
Ustadz Irham mengangguk "aku tunggu di dalam ya."
Halimah tersenyum kepada Laiqa, namun ketika Laiqa membalas senyumnya air matanya tetap jatuh.
“Astagfirullahal adzim..” Laiqa segera mengusap air matanya.
“Anti kenapa ?”
Laiqa menggeleng sambil menatap lurus kepada Halimah. Detik itu juga Halimah tau kalau Laiqa tidak baik-baik saja.
“Kaifa haluk..” tanya Laiqa lemah.
__ADS_1
“Alhamdulillah Khoir..Sudah lama sekali rasanya tidak bertemu, bagaimana dengan kabar anti? Mana suami anti?”
Mendengar nama itu disebut, Laiqa langsung memeluk Halimah dengan tangisan tanpa suara yang membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.
“Ana hamil “
Halimah melihat Laiqa dengan heran, “ Barakallah atuh cantik.. kenapa nangis? Apa yang harus ditangiskan?. Anti hamil, tapi kan memang sudah punya suami, lalu?”
Laiqa mengangguk dan terdiam memalingkan wajah kemanapun selain melihat wajah Halimah. Ia paling tidak bisa membohongi sahabatnya yang paling dekat itu. Tapi ia belum siap jika Halimah mengetahui semuanya.
“Suami anti dimana?”
“Lagi hafalin hadist..”
Halimah mengerutkan kening melihat keanehan sahabatnya itu. Jikapun sedang menghafal hadist, kenapa juga harus berjauhan seperti ini. Toh mereka juga sama sama penghafal.
“Kalian sedang berselisih?”
Laiqa menggeleng sambil tersenyum ragu.
“Ana mungkin akan di talak sebentar lagi”
“Astagfirulahaladzim.. ngomong apa anti ini?”
“Dia begitu baik, tidak cocok dengan ana..” Laiqa menggigit kedua bagian bibirnya sendiri.
“Apa masalahnya? Ayo jangan begini, sangat membuat ana khawatir!”
Laiqa memandang sahabatnya yang kini menggenggam erat tangannya. Sampai akhirnya air mata itu tumpah begitu saja.
Halimah menghela nafas, lalu memeluk Laiqa erat.
“Apakah ini masalah prinsip? Atau masalah sepele..?” tanya Halimah.
“Ini masalah harga dirinya..lusa kemarin ana lupa, ia memergoki ana sedang mengigau di dalam tidur ana. Dan secara tidak sadar ana menyebutkan nama orang itu. Mempresentasikan bahwa, mungkin dalam mimpi ana, ana sedang menjadi istri orang ‘itu’. Dia merasa sangat kecewa.”
“Orang itu? Ahsan?”
Laiqa memejamkan mata sambil mengangguk.
“Astagfirullahaladzim, anti masih fanatik sama dia?”
“Wawlahi nggak!..tadi saat ke dokter kandungan kami bertemu Ahsan yan baru saja pulih dari komanya, tapi ana merasa biasa saja.”
“koma?”
“Ya ceritanya Panjang..”
Halimah memandang sahabatnya yang teramat pucat. Ini pasti sangat berat untuknya.
“Lalu anak yang anti kandung ini.. anaknya suami anti kan?”
Laiqa mengangguk pasti.
“Alhamdulillah ana sedikit lega mendengarnya, tapi kenapa suami anti tidak senang?”
__ADS_1
Laiqa menunduk. “ana, benar-benar dengan penuh kesadaran melepaskan semuanya untuknya. Anti tau.. bagaimana ana bisa sesedih ini karena betapa hangatnya sikapnya sebelum semua kejadian ini terjadi. Ana sangat senang hamil anak darinya, seseorang dengan nasab yang bagus, pemikiran yang cerdas dan paras yang sempurna, segala cara yang taktis membuat hati yang telah salah jatuh hati ini, menjadi sangat mencintai dia..”
“Halimah.. tapi ia selalu berpikiran, semua yang ada di pikiran ana saat melayaninya, adalah tentang orang itu. Ia merasa ana melihat sekilas kesamaan orang itu pada dirinya, ia merasa ana selalu membayangkan bahwa dirinya adalah Ahsan.”
“Apa yang harus ana lakukan?”
“menggoda suami anti kembali” bisik Halimah.
“ itu tidak akan berhasil..”
“tunggu tiga hari, sebelum itu turuti saja semua keinginannya..”
“anti ini cantik, pintar, sabar, 3 hari saja. Lihat bagaimana cara Allah bekerja mengabulkan munajat anti selama 3 hari. Dia orang yang paham agama, dia pasti tak akan kuat membuat anti selalu bersedih dan berusaha yang terbaik seorang diri.”
“Apa ana juga harus bersikap dingin?”
Halimah mengangguk. “Sebagai bentuk penghormatan, anti harus tidak boleh banyak bicara. Tapi terus berikan perhatian kecil dan jangan pakai sentuhan fisik”
Tiba tiba adzan Maghrib berkumandang.
"Sudah adzan yuk sholat.." ajak Halimah.
Laiqa segera mengangguk dan langsung membereskan barang - barangnya perlahan.
Jama'ah lain mulai berdatangan. Mereka berdua berjalan perlahan menuju tempat wudhu. Laiqa masih lebih banyak diam, sementara Halimah terus berusaha berbicara agar Laiqa terhibur.
Setelah antri wudhu mereka memasuki ruangan utama masjid nan megah itu. Di dominasi banyak ukiran kaligrafi dan ornamen Islam berwarna putih dengan karpet merah nan lembut.
Sebuah mik dari arah mimbar akhirnya berbunyi.
"Assalamualaikum.. jama'ah yang dirahmati Allah.. hari ini kita kedatangan salah satu hafidzullah yang sedang liburan studi dari Madinah, yang juga merupakan ananda dari almarhum sahabat kita, yang insyaAllah akan menjadi imam sholat maghrib hari ini.. untuk ananda Syamil dipersilahkan."
Laiqa menatap itu sedikit terkejut.
Ia masih ingat bahwa aktifitas menjadi imam tak ada di daftar aktifitas suaminya hari ini.
Dari kejauhan, Laiqa melihat Syamil terlihat terhenyak dan sedikit tidak percaya. Ia bahkan sempat menggeleng dengan senyum hormat sambil mendekap kan tangan tanda penolakan secara halus.
Tapi pihak dkm seolah memaksanya, bahkan mempersilahkannya menuju mimbar.
Syamil pun akhirnya mengangguk. Ditentengnya tasnya ke mimbar dan dibuka. Ia mengambil sebuah jas, dan memakai jas itu, jas yang ia pakai tadi saat mengisi di acara bedah buku.
Lalu memakai sarung cadangan berwarna silver yang selalu Laiqa siapkan di dalam tas itu.
Iqomat dikumandangkan.
Setelah itu Syamil melihat sekeliling, dan berkata pelan.
"Syaf nya diluruskan dan dirapatkan.."
Menyapu seluruh matanya ke lantai dua, dan pada akhirnya mata mereka bertemu.
Syamil menatap Laiqa tertegun melihat betapa indah senyuman akhwat itu untukn dirinya. Ia kembali berkata
"Syafnya diluruskan dan dirapatkan.."
__ADS_1
Solat Maghrib pun di mulai dengan takbir yang lantang.