
[ Al ‘Isyq ]
Sehabis dari mall mereka bermalam di mushola rumah sakit. Sungguh perasaan yang tidak bisa dibayangkan. Meski dengan keadaan marah, suaminya masih saja memurojaah al quran di sudut namun tak lagi menegurnya yang lumayan kewalahan dengan dua orang bocah.
Keesokan paginya, selang infus terpasang pada Azqila yang masih belum sadar sesaat setelah melahirkan. Kini mereka telah berada di depan ruangan ICCU.
Laiqa memandang suaminya yang sedang berbicara dengan ustadz Salman dari kaca pintu yang terpantul tanpa menoleh ke mereka.
Dan datanglah orangtua dari Ka Azqila dari Bandung. Mereka sangat panik, dan mengatakan sengaja membatalkan rapat kerja untuk menuju kesini.
Laiqa menyerahkan Baby Faiza pada sosok ummahat yang tinggi besar itu. Wajah keibuannya mengatakan terimakasih berkali-kali hingga diakhiri dengan lantunan do’a dari Syamil untuk kesembuhan anaknya.
***
Laiqa masih hanya melihat pemandangan di luar kaca mobil dan merasa serba salah dengan apapun yang ia lakukan saat ini.
Syamil menghela nafas. Mereka menuju sebuah butik. Kemudian Syamil memasukinya tanpa mengajak Laiqa. Ia kemudian Kembali masuk ke mobil dengan cepat lalu memberikan paper bag berwarna ungu tua dengan baju gamis model abaya polos berwarna abu gelap lengkap dengan khimar Panjang senada. Model bahan yang anti kusut dan bertabur swaroski di bagian lehernya itu sukses membuat Laiqa semakin membisu.
Ia melihat suaminya juga sudah berganti baju, menjadi sebuah jubah berwarna abu gelap yang berwarna sama seperti gamis miliknya.
Mereka melanjutkan perjalanan. Kemudian ia memutarkan mobilnya ke sebuah masjid dengan banyak mobil dan deretan sendal di sisian luar terasnya.
Laiqa hanya memandangnya dengan penuh tanda tanya ketika mereka benar-benar berhenti disana.
“Aku ada jadwal menjadi Qori (Pembaca Al Qur’an) di kajian ini. Mau ikut atau tunggu di mobil?” tanyanya dingin. Laiqa dengan sigap membuka pintu mobil, mengikutinya sambil menunduk.
Matahari bersembunyi hari ini, rintik gerimis dan awan mendung membuat Laiqa semakin sedih. Entah, ia hanya sedih diperlakukan sedingin ini.
__ADS_1
***
Suasana sangatlah ramai, Laiqa berpisah dengan suaminya. Ia memilih duduk di dekat tiang besar depan wilayah tempat wudhu wanita. Para akhwat berlalu Lalang sibuk memilih tempat mana yang paling nyaman, ada yang baru akan wudhu dan ada juga yang selesai wudhu dan beberapa tersenyum padanya.
Ia melihat paper bag di tangannya. Melihat abaya yang tampak sangat mahal itu. Meremas kainnya namun ternyata kain itu sangat ringan, dingin dan sama sekali tidak kusut meski ia remas berkali-kali.
“Ya Rabb.. mengapa aku bisa berbicara sekasar itu dengan ikhwan sebaik ini”
Laiqa menenggelamkan wajahnya di kain yang ia pegang. Merasa kesal terhadap diri sendiri, karena ia masih merasa belum bisa menghargai suaminya. Belum bisa mencintainya sepenuhnya.
“Pembacaan Surat Al- Mujadilah oleh Syeikh Syamil El Fath Lc Hafidzahullah, kini beliau sedang mengambil studi di Universitas Islam Madinah, dimohon untuk para hadirin agar tidak bersuara.” sayup sayup suara Mc menggema di telinga Laiqa.
“Audzubillahiminasyaitonirojim….bismillahirahmanirahim…”
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ - ١١
Artinya:
Suara yang saling bersahutan itu semakin membuat Laiqa penasaran. Kini ia sudah berganti baju dengan abaya abu-abu gelap, dan duduk memperhatikan surat Al Mujadilah di pembukaan acara yang membuat ia ingin tahu kajian tentang apakah ini. Satu-satunya surat yang di dalam setiap ayatnya terdapat lafadz Allah. Dan surat itu memang bercerita tentang adab menuntut ilmu.
Di hadapan para hadirin dan dirinya terdapat suaminya dan seorang akhwat di pojokan yang membacakan tafsirnya.
Melihat hal itu seperti ada yang membisiki batinnya.
“Lihatlah suamimu...apa yang kurang dari dirinya? Apa yang membuatmu menghukum diri sendiri Laiqa..apa yang membuatmu tak berpikir dengan pernikahan ini saja sudah cukup untukmu…”
Tapi ia tetap menunduk, melihat apapun yang ada di handphonenya meski suara suaminya yang sedang membaca al qur’an tanpa melihat sangat jelas terdengar. Dilihatnya sebuah status story Instagram. Sebuah tangan yang diinfus, dan kalimat yang memohon doa di sebelahnya. Dengan nama pemilik akun @ahsanabdulaziz. Ia lihat story selanjutnya dengan perasaan was-was.
__ADS_1
“Shodaqollahul adzim..”
Laiqa segera mematikan handphonenya. Kedua tangannya bergetar. Dipandangnya suaminya yang bangkit dari duduk dan mengambil tempat di sisi pojok kanan depan para hadirin.
Dilihatnya ustadz kondang yang menaiki panggung, duduk di depan sebuah meja lengkap dengan air, mic dan makanan. Tempat suaminya duduk tadi.
Ia baru sadar kajian hari ini di sebuah ex banner, dengan judul Ketika Pernikahan Tak Seindah Bayangan.
“Astagfirullah..”
Kajian itu sangat menampar dirinya hingga sebuah pertanyaan dari seorang akhwat di sebuah kertas yang dibuka ustadz berjenggot lebat dan memakai sorban di kepalanya itu semakin menampar dirinya.
Ustadz tersebut membacakan pertanyaan “Saya sudah berumahtangga selama 10 tahun ustadz, Alhamdulillah …tapi pikiran saya selalu ingat mantan pacar saya ustadz, saya takut Allah azab dengan dosa yang saya perbuat, apakah saya perlu di ruqiyah ustadz..? Jazakumullah Khoir” Beberapa hadirin riuh dan ada juga yang tertawa melihat reaksi ustadz yang tampak tersenyum geli membaca pertanyaan.
Tapi tidak dengan Laiqa, pertanyaan ini dan tatapan suaminya yang mendapati keberadaan dirinya itu sangat menjadi trigger, karena kasus itu hampir sama persis.
“Jama’ah… ada penyakit Namanya ‘Isyq..” ujar ustadz.
Syamil tampak menunduk kemudian ia pamit pergi dari posisinya. Laiqa terus melihatnya dengan matanya. Ikhwan itu tampak duduk di teras masjid sambil memandangi hujan.
Laiqa ingin meneteskan air matanya, sementara ustadz itu terus mengingatkan dirinya secara tidak langsung dengan Al ‘Isyq. Penyakit yang sedang dialaminya sekarang.
“Al ‘Isyq” ucap ustadz itu lagi sambil menyentuh dada tempat jantung berada.
“Itu penyakit cinta gila. Apa namanya..? Kasmaran ! Cinta yang amat mendalam di dalam hatinya. Dia tidak mau menikah kalau tidak dengan orang itu. Bahkan ketika dia menikah dengan laki-laki lain tetap yang dia pikirkan lelaki yang dulu. Padahal itu suaminya lebih sempurna dan lebih baik. Dan ini terjadi."
__ADS_1
Author POV
gakuat author pengen mpuk-mpuk Syamil, pengen virtual hug.. tapi sayang doi bukan mahram. Gemes banget liat Ikhwan baik2 lagi ngambek. Ya Allah ngambek aja masih bersikap baik gimana ga meleleh, sabarnya itu lho ga ada lawan.