Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 44


__ADS_3

Ia kemudian berdehem...


Tersenyum pada audience.


"Mari jadikan Al Qur'an sebagai yang mengalir tenang di hati kita, lalu menjelma menjadi suara-suara paling merdu. Maka saat kedua hati yang asing bertaut. Al Qur'an menjadi tempat pertemuannya. Titik temu. Sesuatu yang kita selalu cari-cari, yang pada akhirnya bisa meredam kemarahan, menomorsekiankan perbedaan, membuat kita terilhamkan untuk fokus pada niat yang tulus dalam memberi segalanya. Melengkapi apapun yang kurang. Menutupi segala sesuatu yang tidak baik. Dan hanya membuahkan banyak kemaslahatan di dalamnya..." Ujar laki-laki itu dengan tenang dan penuh penghayatan kepada seluruh audience.


Laiqa sampai tak bisa berkata apa-apa. Ia merasakan keamanan di hatinya. Ketenangan yang sedang berada di level tertinggi. Merasa dicintai sebagai sesuatu yang menyenangkan sekaligus hal yang amat berat untuk dijaga.


Mengingat, di sampingnya adalah seorang ahlul Qur'an, yang teramat lembut hatinya karena Al Qur'an. Orang yang akan memaafkannya berkali-kali. Sekaligus yang akan sangat marah berkali-kali jika ia lalai atau salah jalan sedikit saja.


Dan yang pasti orang yang berhasil membuat ia pada detik ini jatuh cinta lagi. Lebih dalam dari sebelumnya.


***


Ditutup dengan Do'a seorang panitia menghampiri mereka mengajak foto bersama lalu memberikan bingkisan. Dan pandangan Syamil selalu tertuju pada tas Laiqa. Ternyata ia tahu handphone itu masih saja bergetar.


"kalau penting sebaiknya kamu angkat aja.." ucap Syamil di parkiran mobil.


Laiqa menggeleng. Ia menatap memohon pada Syamil agar tak memaksanya.


Ia hanya takut panggilan itu akan membuat suaminya tersakiti. Karena firasatnya mengatakan begitu.


"gimana kalo hari ini kita pacaran lagi? aku.. mau kita nonton film yang diangkat dari novel religi itu?" bujuk Laiqa. Tapi Syamil menggeleng. Suaminya itu masuk mobil tanpa ba-bi-bu.


"kok nggak mau..??"


"bioskop ya?" tanya Syamil sambil menyalakan mesin mobilnya. Hari sudah gelap, mereka memang pulang setelah solat magrib.


"katanya filmnya bagus dan hasil dari film itu akan didonasikan ke Palestina."


"nanti ya, aku banyak urusan selain pergi ke tempat yang seperti itu.."

__ADS_1


Laiqa diam, ingin ngambek dan kesal tapi kenapa hari ini suaminya tampak jauh lebih tampan dari biasanya.


Ia mengurungkan niatnya dan hanya menikmati ketampanan wajah Syamil yang sedang menyetir.


"buku ayang ya ..yang harus ayang tanda tangani itu..?" tanya Laiqa. Dengan panggilan manis yang membuat Syamil mengerutkan kening.


"ayang?" tanya Syamil memastikan.


"nggak boleh ya aku panggil kakak dengan panggilan itu?"


Syamil meraih tangan Laiqa lalu mengecupnya. "boleh.."


wajah Laiqa memerah.


"tangan ayang tadi.. dingin banget pas di talkshow" ucap Laiqa ingin mengalihkan rasa ingin terbang di hatinya.


"ya.."


"hanya.. sedikit gugup aja. Nggak terbiasa dengan materi seperti itu."


"materi tentang cinta?"


"ya biasanya kan.. tentang Al qur'an.."


"tapi ayang melakukannya dengan baik.." ucap Laiqa sambil memandangnya dalam ketika mata mereka bertemu.


"astagfirullah..ga fokus aku.." ujar Syamil tiba-tiba dengan nafas yang terburu-buru. Ia merasa hampir saja akan menabrak kendaraan di depannya.


"aduuh.. mending kita mampir dulu.." bujuk Laiqa..berharap suaminya akan melipir ke tempat makan mungkin.


"iya ide bagus..kita mampir yah.."

__ADS_1


Syamil membelokan mobilnya ke SPBU, untuk mengisi bensin. Laiqa melihat itu tampak tertawa kecil.


Setelah mengisi bensin, Syamil memarkirkan mobilnya di depan minimarket.


"kakak mampir ke toilet dulu.."


"ha?"


Syamil langsung mengecup pipi Laiqa cepat sambil membisikan,


"maksudnya, aku mampir ke toilet dulu sayaang..mau nitip?"


Laiqa menggeleng, "aku bisa beli sendiri."


ia pikir suaminya akan melipir ke tempat makan taunya ke SPBU aja. Akhirnya dia membeli beberapa masker untuk nutrisi kulit wajah di minimarket, membayangkan memakainya bersama2 setelah seharian yang melelahkan ini. Mungkin itu akan sedikit menghibur hatinya.


Tiba-tiba ketika ia ingin membayar, hapenya berdering lagi. Masih nomor yang sama..


Laiqa menggeleng pelan. Berdiri di sisian pintu yang sedikit jauh. Ia kemudian menerima panggilan itu.


"Assalamualaykum.. Laiqa.."


suara diseberang suara perempuan yang sangat ia kenal.


***


Author POV,


Kira -kira siapa yang nelpon?


Sepenting apa sampai nelpon berkali-kali seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2