Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 59


__ADS_3

Syamil tak juga menggubris kata katanya.


Laiqa yang sedih ikut berbaring sambil memandangi punggung suaminya.


Jika aku tak bisa menemui cintamu lagi di dunia nyata, aku harap kamu dan cinta itu akan selalu hadir di mimpiku..


gumam Laiqa lalu memejamkan matanya.


***



*foto diatas hanyalah model, gambaran Syamil dan Laiqa, mohon maaf bila ada kesamaan gaya tempat maupun orang, gaya di gambar ini hanyalah editan belaka, bukan adegan asli.


______________


Tergambar jelas Kota Madinah,


Kota tersehat di dunia, baik sehat hati maupun jiwa orang orangnya.


Kota teraman di dunia. Memiliki Masjid Nabawi, masjid nan megah berseratuskan gerbang yang dibersihkan 3x sehari.


Kota jutaan cinta bermekaran.


Kota yang menawarkan kemenangan dan kedamaian.


Tempat Rasulullah menjadi pemimpinnya. Tempat sejarah demi sejarah tercatat di dalam Al Qur'an.


Dipenuhi burung burung merpati yang terbang bebas layaknya cinta halal yang mengembara hangat ke seluruh sudut kota dihiasi senyuman abadi.


Di atas gunung Uhud yang sunyi, bertemankan angin sejuk beraroma Padang pasir, Ikhwan berkaca mata itu menyentuh punggung tangannya dari belakang. Ia rasakan kehangatan yang tiada tandingannya, merebah di tubuh ternyaman yang pernah memeluknya selain ayahnya.


Ia merasakan dengan penuh kesadaran, Ikhwan itu mengecup dengan seksama pundak kirinya. Membisikan kata-kata cinta dan rindu yang bertubi-tubi. Memuji keindahan dirinya lewat bisikan mesra tepat di telinganya.


"Jadilah bidadari syurgaku untuk selama-lamanya.." ucapnya lirih saat mata mereka bertemu.


Ikhwan itu meraba seluruh bagian wajahnya dengan ekspresi terpesona, terbuai dengan segala karunia yang Allah berikan untuknya.


"ana uhibuka Fillah ya Zauji.." (aku mencintaimu karena Allah , suamiku..)


Ikhwan itu tersenyum lalu mengecup keningnya, mendekati bagian bibirnya sampai tiba tiba..


Tang teng tong ting tang tung!!!


Suara Alarm berbunyi.


Jam menunjukan pukul 4 pagi.


"Astagfirullah..kenapa harus berhenti mimpinya!!" Laiqa meringis memeluk bantalnya gemas. Ia segera ambil handphonenya dan memijit tombol matikan alarm dengan kasar.


Ia lalu menghela nafas melihat tempat di sampingnya telah kosong.


Syamil pasti telah pergi ke Masjid untuk sholat subuh.


Laiqa menatap ranjang yang kosong itu dengan sedih.

__ADS_1


Rasanya ia sangat merindukan sentuhan suaminya itu. Sampai seluruh mimpinya hanyalah tentang suaminya.


Apakah ia harus berpura pura sakit agar Syamil kembali mengusap dan menyentuhnya. Laiqa menggeleng, sungguh ia tidak bisa berlaku bohong.


Ia pun memutuskan untuk sholat lebih lama dan lebih khusyuk dari biasanya. Mengadukan semua pintanya kepada Allah. Mencurahkan segala rasa sedih kepada Allah. Memohon kekuatan, dan kesabaran.


Karena sesungguhnya sabar dan sholat adalah penolong yang paling bisa diandalkan.


****


Hari berganti hari, hingga saat saat mereka akan berangkat ke Madinah, kini sudah hitungan jari. Tapi Syamil tetap terus mendiamkannya, bahkan saat ia berusaha menggoda suaminya itu di dapur saat menggoreng ikan dan di pergoki oleh umi, tetap saja suaminya itu bersikap dingin padanya.


______________


Hari ini ia telah selesai menemani suaminya pergi menjadi pembicara di seminar nasional. Dan mengambil beberapa berkas yang baru jadi di kampusnya untuk di Madinah sana.


Paspor , visa semua sudah lengkap, vaksin dan obat obatan telah selesai diurus.


Mereka tiba di sebuah restoran bergaya retro dan dipenuhi daun monstera serta beberapa tanaman hias yang besar besar, juga cactus yang lucu. Kafe dengan nuansa putih itu menyajikan makanan khas Indonesia, yang dikolaborasikan dengan kopi kopi otentik modern yang menyegarkan.


Hari ini suaminya memakai kemeja putih dan celana Chino oversize longgar berwarna beige. Ia tampak tidak suka saat banyak perempuan yang merupakan pengunjung kafe itu memandangi suaminya lekat lekat.


Hampir semua dari mereka tidak memakai kerudung. Sementara Laiqa memakai kerudung beige panjang seperti biasa dan gamis oversize polos berwarna Sage.


Saat menunggu makanan tiba, Laiqa terus saja mengotak atik hapenya mengetikan berbagai macam Hadist entah untuk apa. Yang jelas ia sangat kecewa Syamil membawanya kesini dengan banyak aurat aurat yang terbuka di sekelilingnya.


"berhentilah bermain handphone saat akan makan"


Laiqa menatapnya tajam.


"makanlah" ucap Syamil saat makanan sudah tersedia di meja beberapa menit yang lalu, seporsi ayam Taliwang, Soto Banjar dan Coto Makasar.


Laiqa menghela nafas.


"Mau makan atau tidak itu urusanku.."


Syamil menatap Laiqa terkejut.


"Kamu juga tidak akan peduli.." sambung Laiqa lagi .


Syamil melihat sekeliling dan merasa posisi mereka aman.


"Perkataan macam apa itu?" tanya Syamil berusaha tenang.


"Kamu memang memutuskan untuk terus bersikap tidak peduli kan kepadaku..? Lalu kenapa aku harus peduli pada diriku sendiri? Kamu telah mengajarkan kepadaku betapa tidak berharganya aku di dunia ini"


"Untuk apa makanan ini.." ucap Laiqa dengan nada datar.


Syamil menghentikan aktivitasnya mengunyah.


"Ada yang mau dibicarakan ?" tanya Syamil setelah minum dengan cepat.


"Kamu akan terus seperti ini?" tanya Laiqa sambil menghela nafas menahan seluruh air matanya agar tidak mengalir jatuh.


Sementara Syamil hanya diam menatapnya.

__ADS_1


"Seumur hidupku aku tidak pernah berpacaran dengan laki-laki. Kamu tahu?


Tapi kamu orang pertama yang secara tidak langsung dengan segala sikap dan ucapanmu mengatakan aku adalah perempuan yang mudah jatuh cinta dan tidak bisa menjaga pandangan.."


Laiqa tersenyum dan meneteskan air matanya bersamaan. "terimakasih.."


Syamil menunduk dan menatap apapun selain Laiqa.


"Dulu waktu aku MI (SD Islam) kamu tahu berapa puluh surat cinta yang aku terima? Tapi semuanya aku gunakan untuk kertas pembungkus kue dan gorengan yang umi jual. Bahkan beberapa aku buat kapal kertas dan kuhanyutkan ke comberan."


Laiqa menghela nafas.


"Ketika aku MTS?(SMP Islam) Lihat berapa kali, banyak Ikhwan di skors hanya untuk melewati batas Ikhwan dan akhwat agar bisa melihat aku. Tapi aku selalu sibuk dengan diri sendiri dan hanya menolak itu. Itupun sudah melelahkan."


Syamil tampak menyimak segala sesuatu yang keluar dari mulut Laiqa. Bisa ia bayangkan hal itu pasti terjadi pada seseorang yang memiliki paras nyaris sempurna seperti istrinya ini.


"SMA, Bahkan ada guru yang mau melamar ku namun langsung aku tolak dengan alasan aku akan kuliah di tempat yang jauh. Di kampus, berapa banyak Sheikh yang memintaku menjadi istri kedua nya, istri ketiganya bahkan istri keempatnya, otomatis aku tolak karena tidak ada alasan di dalam sini untuk menerimanya."


Laiqa menghela nafas yang terus memburu.


"Tapi pada satu Ikhwan yang selalu kamu cemburui itu, kamu mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang tidak bisa menjaga pandangan. Padahal tidak pernah sekalipun aku berzinah ataupun mendekatinya."


"Kami hanya gagal ta'aruf. Itupun karena aku tidak tau alasan apa yang membuat ada orang paham agama tapi menolak untuk diajak ke Kota Madinah"


"aku..memang bukan dilahirkan dari Rahim ibu seorang ustadzah sekaliber umi..bukan juga dari kerja keras seorang pejabat tinggi yang memiliki banyak anak Hafidz dan Hafidzah Qur'an. Tapi aku hidup dalam ideologi yang kuat tentang Allah, darimana aku berasal, dan kepada siapa aku harus menuju" ucap Laiqa lirih dengan mata yang kini dipicingkan lekat lekat menusuk pada mata Syamil.


"tentang mimpi? Kamu bilang itu Al Isyq..baik aku akui kesalahan itu dan coba memperbaikinya.. tapi apakah aku bisa mengatur mimpi?, apakah mimpi itu terjadi saat aku tersadar? atau apakah aku harus memberitahu padamu berapa malam yang sangat melelahkan saat aku terus saja memimpikanmu? orang yang memilih tak menyentuhku mungkin untuk selama lamanya."


Syamil menghela nafas dan melihat sekeliling sejenak, syukurlah tidak ada yang memperhatikan pembicaraan terlalu intim ini.


Syamil mengusap wajahnya lalu menopangnya dengan kedua tangannya sambil menatap Laiqa yang terus mengusap air matanya.


"Diamlah.. ini tempat umum, jaga sikapmu oke?"


"kenapa? apa kamu malu dengan manusia? apa kamu tidak malu dengan Al Qur'an yang melekat di dirimu..?


Ini sudah lebih dari tiga hari, dan beginikah caramu memperlakukan seorang istri? Beginikah caramu memperlakukan Al Qur'an yang telah kamu hafal setengah mati? Mengingkari setiap petunjuk hidup yang tertulis di dalamnya.. selalu mengedepankan hawa nafsumu? itukah yang kamu inginkan? Terus hidup seperti ini, melakukan banyak amalan tapi tidak ada Rahmat Allah yang turun padamu sebab ada hati seorang istri yang terluka."


Syamil menutup seluruh wajahnya mencoba menutupi goncangan hebat yang ada dalam dirinya.


"Bahkan kini saat ada bayi di dalam perutku, kamu tega terus bersikap seperti itu. Apa kamu benar benar memaafkanku? atau menghukum ku dan mematikan pernikahan ini secara perlahan? "


"apakah kamu akan membunuh semua mimpiku tentang Madinah, pada seseorang yang sangat aku percayai bisa hidup bersamanya di negeri nan jauh dari sanak saudara dan teman temanku?" Laiqa kini sesegukan ia tidak bisa menahan segala rasa yang selama ini ia pendam sendirian.


"mereka, diluar sana memujamu, mengatakan kamu adalah karunia, tapi aku seseorang yang paling mengenalmu lebih dari orangtuamu sendiri..tidak menemukan keindahan Al Qur'an di dalam dirimu, hanya .. ratusan lantunan ayat yang berbunyi layaknya kaset di mobil. Tak ada artinya .."


Syamil terlihat menangis tanpa suara di hadapan Laiqa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia terus mengucapkan Astagfirullah.


Sampai beberapa saat kemudian Laiqa mengatakan.


"Berhentilah.. sebelum semuanya terlambat. Aku bisa mengurus anak ini. Tapi tidak dengan mimpiku, katakanlah apa yang kamu inginkan? Apakah pernikahan ini.."


Syamil tiba tiba bangkit dan menarik pergelangan tangan Laiqa untuk berjalan cepat mengikutinya menuju parkiran.


****

__ADS_1


__ADS_2