Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 40


__ADS_3

Mengharap Maafmu


Sudah lebih dari 24 jam rasanya suaminya terus mendiamkannya. Hingga malamini saat setelah makan malam.


“Umi nanyain kakak tadi pas makan malem kak.. katanya kakak kemana? Tumben nggak ikut makan malem bareng..”


Syamil menghentikan ketikannya di keyboard macbook pro tersebut. “Terus..?”


“Aku bilang kakak lagi banyak pekerjaan..”


Syamil menunduk lalu mengetik kembali. Amanah mengisi kajian tentang keluarga Qur’ani besok membuat ia harus menyusun kembali materi agar tidak kacau dan melebar kemana-mana. Tapi sebenarnya karena, malam ini ia ingin sangat sibuk sampai terlupa dengan keinginannya untuk menggauli istrinya tersebut tepat di saat Laiqa berganti baju dengan dress putih yang panjangnya sangat jauh jaraknya dari lutut. Rambut yang dibiarkan tergerai dan lengan yang tak memiliki kain apapun untuk menutupinya membuat ia begitu berhasrat dengan akhwat itu. Walau semarah apapun tetap saja ia adalah lelaki normal. Apalagi kacamata yang sudah berganti dengan softlense , membuat akhwat itu semakin imut.


“Mau kopi?”

__ADS_1


Laiqa menawarkan secangkir kopi latte hangat. Namun Syamil tetap diam.


“Aku taruh disini ya..”


Laiqa meletakan secangkir kopi di sebelah buku kitabnya. Hawa parfum yang lembut sukses membuat Syamil terhanyut dan terdiam sejenak. Ia lalu mengucap astagfirullah dalam hati dan melanjutkan mengetik kembali.


Tak ada terimakasih yang terucap. Ia hanya menyuruh Laiqa cepat tidur agar tidak mengganggunya lagi. Akhwat itu beranjak pergi menuju ranjangnya. Hawa parfum menyeruak kembali membuat Syamil menelan ludah, pasti sangat nyaman jika mereka berpelukan saling membelai dengan rasa segar yang menemani dari parfum tersebut. Segala sakit kepala yang ia rasa pasti akan cepat hilang. Tapi itu tak akan mungkin terjadi. Terlalu banyak luka yang sedang menyiram pohon ego di dalam hatinya.


***


Tapi ternyata sia-sia.


Syamil masih saja menutup diri. Ia kemudian melihat handphonenya memastikan tak ada lagi kontak Ahsan disana. Tak ada juga akun ig atau facebooknya di kolom pencarian karena Laiqa telah memblokirnya kemarin.

__ADS_1


Tak ada foto apapun yang ia simpan. Ia memutuskan untuk benar-benar melupakan Ikhwan itu. Ia telah menangis semalaman memohon ampun di tahajudnya yang sunyi kepada Allah atas segala kekeliruan yang ia lakukan. Ia memasrahkan segala jalan hidupnya kepada Allah, ia memutuskan untuk menaati suaminya.


Tapi hal yang saat itu ia rindukan dari suaminya ternyata tak lagi bisa dengan mudah ia dapatkan seperti dahulu. Syamil menjadi sangat dingin, tegas dan mengerikan. Ia masih ingat betul saat ia menuju kesini Syamil memerintahnya dengan kasar agar ia menghadiri kajian yang besok mengundang dirinya dan suaminya itu. Dan kalimat “Jangan membuat malu!” membuat hatinya sedikit terluka.


Ia memutuskan untuk tidur, tapi pertanyaan Syamil kemarin di mobil saat mereka bertengkar membuat dadanya sesak kembali. Pertanyaan tentang,


“Laiqa, kamu bilang visi misi kamu adalah berlari di jalan dakwah ini bersamaku. Tapi apa yang membuat kamu memilih jalan lain yang tidak ada aku di dalamnya?”


Tapi Laiqa merasa perasaan suaminya pasti lebih sesak lagi mengingat ia merasa Laiqa tak pernah menganggapnya sebagai seseorang yang paling berarti.


Meski Laiqa sudah memejamkan matanya tetap saja Laiqa sangat tersiksa dengan perasaannya yang terus saja berubah. Ketika suaminya baik, ia malah memikirkan perasaanya terhadap Ahsan. Tapi ketika suaminya seperti ini, ia justru ingin diperhatikan kembali oleh suaminya.


Teringat semua kejadian yang telah ia lewati Bersama Syamil. Saat dimana Ikhwan itu mengucap akad dengan lantang. Saat ketika mereka muroja’ah Bersama, lalu tertidur sambil berpelukan. Saat ketika mereka berjalan menyusuri pinggiran pantai melihat matahari terbenam. Saling bercerita dan tertawa. Dan saat ketika suaminya itu berhasil membuat ia mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara berkali-kali di malam yang sama. Mungkinkah ia sama sekali tak menganggap suaminya berarti, sementara terlalu banyak kenangan indah yang telah mereka lakukan bersama sejauh ini.

__ADS_1


Namun perasaan bimbang hadir lagi saat ia terpikir kesusahan sahabatnya yaitu Ka Azqila yang sampai saat ini masih dirawat di rumah sakit..


Apa yang harus ia lakukan?, wanita yang terus memejamkan mata itu berpikir keras keputusan apakah yang harus ia ambil. Menyelamatkan nyawa seseorang tapi itu berkaitan dengan masa lalunya, atau menyelamatkan hati yang paling berarti, berlian yang ia punya, yaitu suami dan pernikahannya..


__ADS_2