Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 35


__ADS_3

[ Engkau Masih Yang Terindah ]


Sudah hampir setengah jalan tapi telpon dari Ustadz Salman belum juga diangkat. Kini mereka sedang menuju salah satu RS swasta tempat Ahsan dioperasi terkait luka dalam di bagian toraksnya. Karena feeling ka Azqila suaminya masih berada disitu. Dan biasanya ia juga kontrol di dokter sana.


Laiqa menghela nafas saat mereka baru saja memasuki parkiran.


Entah, hatinya merasa Deg-degan jika nama itu disebut dan kini mereka sedang mendekati lokasi tempat dimana nama itu berada. Ikhwan yang pernah singgah di hatinya.


Ada perasaan sedikit khawatir terkait sekilas kabar yang baru ia dengar tentang Ikhwan itu.


Syamil menghentikan mobilnya di depan IGD. Ia mengambil alih suasana dengan turun segera dari mobil lalu memanggil beberapa perawat, yang segera mendekati mobilnya sambil membawa ranjang pasien.


Pendarahannya cukup banyak, perawat segera membawanya ke ruang bersalin untuk tindakan.


Laiqa memegang lengan suaminya. Tampak lemas dan tidak tega dengan semua yang ia lihat barusan.


Syamil yang sedang menggandeng Fattah kecil menatapnya dan kemudian memegangi kedua bahunya. Laiqa mempererat pelukannya pada Faiza, ia merasa benar-benar lemas melihat darah dan takut Faiza yang berusia 11 bulan itu terjatuh dari gendongannya.


"Abii !!!"


Laiqa yang sedang duduk sambil menunduk di kursi koridor terkejut saat bang Fattah berteriak. Ia mengusap punggung bocah itu agar tidak lebih berisik lagi.


Benar itu ustadz Salman.


"Assalamualaykum Syeikh.." ujar Ustadz Salman langsung menghampiri Syamil, bersalaman dan saling berpelukan erat. Ada sedikit air mata yang memenuhi mata teduhnya.


Laiqa menunduk.


Mereka memang saling kenal, akan selalu begitu. Setiap penghafal Qur'an, da'i selalu mengenal satu sama lain. Hanya saja karena suaminya sedang mengambil studi di Universitas Islam Madinah membuat ustadz Salman memanggilnya Syeikh..


Dan yang ditakutkan Laiqa, suaminya juga akan mengenal Ahsan karena dari riwayat perlombaan MHQ yang diikuti suaminya tampaknya Ahsan juga pernah mengikutinya. Dan mereka sama-sama menjadi juara.


Ia masih mengingatnya dengan baik.


Ustadz Salman dan suaminya berbincang cukup lama dan posisi mereka sedikit menjauh darinya.


Lalu ustadz Salman memasuki ruang tindakan saat seorang perawat menanyakan keberadaan keluarga pasien.


Laiqa menelan ludah saat suaminya kembali duduk disampingnya dan Fattah.


Ia memeluk Faiza yang sedang memakan biskuit lebih erat.


Melihat tatapan yang berbeda dari suaminya.


Tatapan seperti menemukan sesuatu di dalam dirinya. Membuatnya sedikit takut.


Abang Fattah kemudian mengeluarkan bunyi nyaring dari perutnya. Bocah itu pasti sangat lapar.


"Abang.. udah makan belum? Laper ya?.." tanya Laiqa mengalihkan suasana ketegangan.


"Iya Abang LAPER BANGET!" jawab bocah itu sambil terkekeh.

__ADS_1


"Mau makan apa?"


"Ayam goreng!"


"Aduuh..pinternya anak ganteng Sholeh ammah jawab" ujar Laiqa sambil mengusap rambut jabrik bocah itu.


"Yaudah kita makan dulu yuk di mall sebelah" ucap Syamil kemudian disusul tawa girang Abang Fattah. Ikhwan itu menatap mata Laiqa dalam, sementara akhwat itu hanya bisa mengangguk perlahan sambil menatapnya.


***


Mereka berjalan memasuki mall sambil menggendong dua anak kecil. Seperti pasangan suami istri yang telah lama menikah. Syamil terkagum melihat betapa piawainya istrinya dalam mengurus anak kecil saat tadi di restoran, tapi ia merasa istrinya sedang memikirkan hal lain saat ini, dan iya tau pasti itu apa.


Syamil melangkahkan kaki menuju sebuah Playground indoor yang amat besar. Ia mengajak mereka pergi bermain sebentar. Dan itu adalah impian bang Fattah. Melihat aneka badut warna warni, balon berbagai bentuk, arena loncat, mandi bola berwarna biru dan putih, serta ratusan mainan lainnya. Tapi sayangnya Faiza telah tertidur di pangkuan Laiqa.


Dan itulah memang tujuannya, ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan istrinya itu.


Bukan sesuatu yang serius. Hanya.. ingin mendalami dirinya lebih dalam lagi.


Bang Fattah sangat senang, ia telah berlari sendirian masuk ke dalam dan memakai kaus kaki. Tampak ia telah akrab dengan beberapa teman kecilnya di dalam sana.


Laiqa tersenyum terharu melihat anak itu sudah tumbuh lebih tinggi, dan ia melambaikan tangan sesekali dari ruang tunggu dengan bangku kayu yang lebar ini.


Ia kemudian tersipu menunduk saat sadar sedari tadi suaminya memperhatikan senyumannya.


Syamil menghela nafas sambil tersenyum memalingkan matanya ke arah Fattah kecil yang sedang asyik bermain.


"Bahagia ya jadi anak-anak..masyaAllah.." ucapnya.


"Kamu..dekat banget ya kelihatannya sama Fattah.." ucap Syamil sambil terus melihat bang Fattah.


"Ya..dia hanya mau sedikit diarahkan kalau sama aku, kak.." balas Laiqa sambil tersenyum.


"Terus.. nanti gimana kalo nggak ada kamu?"


Laiqa menggeleng.


"Aku juga gatau Ka.."


"Ibunya baru aja melahirkan. Adiknya masih kecil. Ayahnya sibuk. Lalu.. kamu akan ke Madinah.. jadi kan?"


Laiqa terdiam, tatapan suaminya itu tampak meragukan impiannya.


Mereka terdiam terus. Memperhatikan anak2 yang sedang bermain.


Sampai akhirnya Laiqa berkata,


"Gimana kalo aku tunda lagi beasiswa tahun ini.."


Syamil yang sedang menyeruput kopi dingin tersedak Boba yang sedang ditelannya.


"Aku khawatir sama keadaan ka Azqila dan.. dulu dia pernah kena baby blues syndrome lho..aku takut itu terjadi lagi.."

__ADS_1


"Kamu.."


"Gimana menurut kamu," Laiqa memandang Syamil yang sepertinya sedang terkejut setengah mati.


Syamil menghela nafas." Kamu tau beasiswa apa yang lagi kamu terima?"


"Ya aku tau..tapi kalo rejeki pasti.."


"Laiqa Alifia.."


Lagi-lagi Syamil memanggil namanya, tanda ia sedang marah.


"Taibah university itu kamu pikir berapa persen orang indo yang akan diterima setiap tahunnya?"


Laiqa menunduk.


"Kamu..yakin akan keterima lagi tahun depan? Bisa aja kan nggak? Atau bisa aja keterima tapi akunya udah ga di UIM (universitas Islam Madinah) lagi? Bisa aja aku pindah ke Saudi, Kairo atau bahkan balik ke Indo."


Laiqa menggigit bibirnya menatap betapa jengkelnya suaminya saat ini.


"Kamu.. beneran punya impian kuliah disana atau ga sebenernya..?"


"Kakak tahu semua ceritanya." Ucap Laiqa ia memang telah menceritakan semuanya ketika malam pertama mereka di pinggir pantai.


Syamil mengangguk, ia merasa AC di mall ini tidak berfungsi, atau ia yang kini tidak tahan lagi berbicara berbisik agar siapapun tak mendengar mereka.


"Terus, kamu itu sebenernya mau bantu ukhti Azqila?, kamu perlu uang jadi kamu bantu beliau?, atau kamu emang mau kesana biar bisa lihat Ikhwan itu lagi?"


"Afwan!, aku pikir kita nggak usah bahas itu..tolong nggak usah bahas bisa kan?" Ucap Laiqa tanpa pikir panjang.


"Kamu yang duluan bahas. Kalau kamu beneran punya impian ke Madinah, dan kamu disini tau udah ada mahram yaitu aku suami kamu untuk pergi kesana, nggak akan ada lagi yang bisa buat kamu goyah kan, Laiqa Alifia?"


Laiqa mengernyitkan keningnya. Ia merasa suaminya tak mengerti rasa prihatinnya terhadap Ka Azqila.


"Bisa aja sih kamu ke univ lain, princess Naura yang lebih mewah dan lebih mustahil, atau di Yaman bahkan lebih Deket sama ayah kamu. Tapi aku nggak habis pikir..ternyata ini yang ngebuat kamu nolak ajakan aku beli baju dingin tadi disana" sambung Syamil sambil menunjuk toko pakaian yang tadi mereka lewati.


"Sebenernya apa sih yang ngebuat kamu gajadi proses sama dia?"


Laiqa menjawab dengan cepat." Karena dia nggak mau melanjutkannya. Aku bilang dia ga ada kecenderungan ke aku itu belum bisa bikin kakak tenang ka?"


"Gimana aku bisa tenang, ninggalin istri di Indo, trus aku ke Madinah dengan kondisi hatinya istri aku yang masih ada rasa kepada orang lain ?"


"Aku cinta kamu kak.." Laiqa menggeleng saat melihat suaminya yang sangat terbakar cemburu. Betul ia ingin menolong Azqila. Tapi betul juga apa yang suaminya bilang bahwa dia tidak mungkin tidak akan bertemu Ikhwan itu.


Semua es di gelas kopi plastik gendut itu sudah mencair, Faiza mulai bergerak sedikit tanda ia akan meminta susu dan bangun. Sementara kata-kata itu tetap membuat punggung tangan yang Laiqa sentuh itu menghindar, tetap tidak bisa meyakinkan hati suaminya dan menggoresnya semakin dalam lagi.


**


Author POV ..


aduh kira kira Laiqa bakal jadi pergi ke Madinah atau bantuin ka Azqila agar terhindar dari baby blues ya..

__ADS_1


trus apa Syamil bisa memaafkan Laiqa ya..dengan segala keputusannya ?


__ADS_2