Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 34


__ADS_3

[ Patah ]


Ibu dua anak yang kini sedang menunggu buah hati ketiga lahir itu amatlah cemas saat tau bahwa Ahsan, yang saat itu telah mengagendakan untuk menjaga kedua anaknya saat ia akan melahirkan malah masuk ICU...


Kini ia yang terus mengontrol keadaan semakin panik karena sepertinya kontraksi sudah semakin bertambah intensitasnya. Dan kabar baru bahwa Ahsan sakit tipes lalu ada luka dalam yang baru diketahui saat dulu ia kecelakaan. Haruskah ia melahirkan di rumah. Dia tidak bisa membayangkan.


Teringat dulu saat sedang di posisi sulit, ada Laiqa yang menemaninya melewati semuanya. Tapi kini, gadis itu telah menjadi milik orang lain sepenuhnya dan itu yang membuat ia merasa semakin patah.


"Abang Fatah jangan main air terus nak.. !kedinginan" serunya kesal. Faiza juga menangis meminta digendong.


"Abi mau ke rumah sakit dulu ya mi, nanti kalo ada apa apa kabarin.."


Suaminya bergegas pergi saat ia kontraksi dan anak-anak juga sedang aktif aktifnya. Ia menitikan air mata. Mama baru bisa kesini akhir bulan. Ada kerjaan yang penting dan tidak bisa ditinggalkan.


Dengan susah payah ia mengawal bang Fatah berhenti main air lalu mandi dan makan sambil menggendong Faiza dengan perut besar yang terus saja kontraksi. Kalau begini ia bisa kehabisan tenaga.


Kemarin ia sudah menelpon Laiqa. Semoga hari ini ia bisa benar benar datang untuk menengok sebentar saja.


Teringat saat ia mengunjungi Ahsan bersama suami dan anak-anaknya setelah menghadiri pernikahan Laiqa kala itu.


"Ahsan..kamu tuh kenapa sih menolak berlian, sekarang udah nikah sama orang lain nyesel lah kamu teh.."


Suaminya hanya diam melihat reaksi Ahsan yang cukup terpojok.


"Kira kira alasan kamu tuh naon atuh..? Teteh mah beneran patah denger keputusan kamu, eh tambah patah lagi dapet undangan dari Laiqa, cepat sekali sampai teteh nggak menyangka."


"Umi.." sela kak Salman yang merupakan kakak kandung dari Ahsan dan suami Azqila.


"Afwan teh..."


"Kenapa sih sebenernya?"


"Ya karena simkuring nggak menyanggupi ke Madinah atau LDR.."


"Atos itu wae??"


Ahsan mengangguk.


"Eleuh..tapi kamu teh Aya kecenderungan teu sebenernya?"

__ADS_1


"Ada.."


Azqila menghela nafas sambil tertawa dan menangis dalam hati.


"Ya atuh ke Madinah mah kan ga selamanya. Cuma sekolah doang nanti juga balik lagi kan. Paling 1 tahun 2 tahun. Balik2 bisa gede yayasan kita punya ustadzah lulusan Madinah. Gimana atuh Ahsan teh, menolak berlian."


Ahsan menghela nafas.


"Teteh mah kasih rekomendasi ke Ahsan karena 1 teteh tau Ahsan teh introvert ya ga mungkin Ahsan ngajuin duluan ke akhwat. Kedua karena Laiqa teh juga ada kecenderungan ke kamu. Tapi sekarang tos pupus, tos patah "


"Sudahlah umi, namanya bukan jodoh.. Ahsan akhwat teh masih banyak. Ulah khawatir nya.."


"Atuh banyak akhwat mah..tapi yang gimana dulu Abi.. teteh mah ngerasa kamu teh teu suka rasanya kalo istri kamu lebih tinggi pendidikannya dari Ahsan. Betul begitu bukan..?"


***


Pada saat yang sama di rumah sakit, selang oksigen terpasang di hidung Ahsan.


Ia tidak menyangka, perihal belum bisa mengikhlaskan akan serumit ini. Beberapa hari ini ia sampai tidak memasukan makanan apapun ke tubuhnya, hanya tidur ,solat , mendengar murotal, dan terus berulang seperti itu.


Ya banyak akhwat diluar sana..tapi bagaimana ia bisa melihatnya jika rutinitas, dan rasa di hati hanya melihat kepada satu orang yang mungkin belum tepat untuknya.


***


"Sebenernya aku..."


Syamil mengangguk menatap istrinya yang tampak ragu.


"Iya gapapa sayang, niat kamu udah baik.."


***


"Assalamualaikum.."


Laiqa mengucap salam dengan lembut. Di dalam terdengar suara Ka Azqila yang sedang mengurus anak.


"Assalamualaikum ka.." ucap Laiqa sekali lagi dan Ka Azqila pun tersadar. Ia segera berjalan tergopoh menuju Laiqa. Mau memeluknya namun ternyata dia sudah tidak kuat lagi dengan kontraksi yang semakin menjadi. Ia bersandar di tembok sambil memegangi kursi meremasnya sambil mengatur nafas.


"Kak, gimana? Harus gimana aku? " Tanya Laiqa mulai sedikit panik sambil memegangi lengan Ka Azqila.

__ADS_1


"Sepertinya waktunya sudah dekat banget.."


"Iya kakak mau ke rumah sakit?"


"Handphone aku tolong ambil telpon suamiku..beliau ada di RS.."


"Kakak mau ke RS pakai mobil suami ku aja ya kak.. beliau masih nunggu di depan."


"Aduh astagfirullah..huh..haaaah.. gakuat lagi" kak Azqila menggeleng-geleng seperti orang yang jngin menyerah.


"Yaudah sebentar ya ka.. aku mau ambil tas dulu. Tasnya udah lengkap ka isinya ?"


Azqila mengangguk sambil terus berusaha mengatur nafas.


"Oke aku mau ke kamar ambil tas. Terus ambil Faiza. Aku taruh tas sama Faiza di mobil dulu, kakak tunggu disini ya ka.. Bang Fatah sini duduk di sebelah umi ya ..!" Ujar Laiqa cepat dengan rasa yang bercampur aduk.


"Ammah Laiqa!!"seru anak kecil berusia 4 tahun itu girang sudah lama ia tak melihat sosok yang sering menemaninya dulu.


"Hei iya sayang..bentar ya ammah bawa dedek ke mobil dulu Abang jaga umi sebentar ya .."


Dengan rasa yang campur aduk Laiqa berusaha tetap tenang menuju mobil sambil membawa tas ransel dan menggendong baby Faiza ke mobil. Syamil yang masih disana melihat keadaan tampak berusaha siaga dengan apa yang sedang dilakukan istrinya.


"Kakak Afwan.. bisa tolong gendong adik bayi sebentar?"


Syamil sedikit kikuk saat menerima bayi perempuan yang amat lucu itu, sementara istrinya segera berlari menuju ka Azqila, lalu keluar menuju mobil sambil memapahnya dengan susah payah.


Ia memapahnya sampai duduk di jok belakang mobil Fortuner putih itu.


"Kak Azqila..halo ? Masih bisa dengar?"


Azqila yang sedari tadi bernafas sambil terpejam mengangguk.


Laiqa mengencangkan sabuk pengaman Fatah kecil. Kemudian dengan cepat menasehatinya agar berpegangan dan tak boleh melepas sabuk.


Laiqa mengambil alih Faiza dari tangan Syamil. Suaminya siaga mengambil alih pegang kemudi, mesin mobil telah menyala dan mereka bersiap jalan.


Tapi, darah yang mengalir di gamis Azqila membuat suasana semakin panik sampai Laiqa tak juga bisa menjawab pertanyaan suaminya kemana mereka harus pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2