
Kafe dan Dakwah
Sepulang dari kajian itu Syamil ternyata tidak langsung pulang, ia membelokan mobilnya ke sebuah kafe tepat pada jam makan siang. Laiqa memandanginya penuh tanya, apakah kini ia akan makan siang di kafe dengan suasana nan aestetik, tempat banyak anak muda berbincang disini.
Laiqa merasa sedikit risih ketika beberapa orang melihatnya dengan penuh curiga. Kerudung yang teramat Panjang dan jubah gamis yang dipakai suaminya memang sangat tidak cocok di tempat seperti ini. Lagipula, ia tidak pernah sedetikpun pernah menginjakan kaki di tempat seperti ini, tempat penuh dengan ikhtilat (tidak adanya sekat atau antara laki dan perempuan bercampur baur di suatu area). Ia sama sekali tidak berminat.
Mereka duduk di pojok yang lumayan sepi, di pinggir balkon yang tidak terkena cahaya matahari.
“Saya ada janji dengan seseorang .” ucap Syamil kemudian.
Laiqa tampak tak ingin berbicara banyak karena takut jadi pusat perhatian.
Sementara di seberang sana terdapat panggung dan terdapat seseorang laki-laki berstyle fashionable, dengan hoodie abu-abu dan celana hitam lengkap dengan sepatu nike Jordan ori, melakukan hal yang tidak terduga. Ia menyuruh seluruh orang di kafe ini untuk sholat, dan berceramah disana tentang pentingnya sholat.
Laiqa terperangah melihat betapa beraninya ia menyampaikan dalil dalil di depan semua orang yang sepertinya tidak berminat sama sekali mendengarnya.
“Dia orangnya.” Ucap Syamil lagi saat Laiqa terus saja memperhatikan isi ceramah dari orang di panggung live musik tersebut. Laiqa mengerutkan kening.
“Dia binaan saya, pemilik kafe ini” ujar Syamil lalu menghela nafas. Ia kemudian bangkit dan tersenyum saat laki-laki itu menghampiri dan menyalaminya.
“Assalamualaykum ustadz lama tidak bertemu..”
“Waalaykumsalam..Betul, hampir satu setengah tahun?”
__ADS_1
Laiqa kini menganggap suaminya benar-benar bukan orang sembarangan. Karena ia tahu, sosok bernama Hikam itu pasti bukanlah seseorang berlatar belakang pesantren. Ia tampak sangat gaul dan sangat terlihat baru hijrah.
Mereka membincangkan sesuatu perubahan yang terjadi selama ia melakukan ceramah di kafe ini. Dan kini ia akan mengadakan talkshow bertemakan pernikahan, di sebuah masjid. Dan sebagian besar yang sudah mengkonfirmasi kehadiran adalah pengunjung kafe ini. Ia meminta Syamil dan Laiqa sebagai bintang tamu utama di talkshow mereka.
“Sepertinya kita harus melakukan diskusi dahulu..” sergah Laiqa tiba-tiba ketika Syamil menyetujui permintaan tersebut.
Syamil memandangnya dengan perasaan tidak percaya betapa beraninya seorang istri membantah apa yang diarahkan suaminya.
“Maksud ustadzah..?” Tanya Hikam.
“Ya, saya harus mempertimbangkan kembali..”
“Bagaimana ini ustadz..acaranya sudah besok lusa..dan saya sudah banyak sponsor yang kontrak dengan talkshow yang akan kita jadikan live di youtube ini ustadz.. Poster ustadz juga sudah terpasang..”
“Maksud ustadzah sendiri mungkin mempertimbangkan jadwalnya, takutnya tidak jadi kosong saat hari itu. Insya Allah bisa diatur.. silahkan dilanjutkan saja sesuai rencana awal.” Timpal Syamil menutupi segala masalah yang terjadi diantara mereka.
***
Kejadian di Kafe semakin membuat mereka bertengkar hebat di mobil saat pulang menuju rumah.
“Apa maksud kamu ada yang harus didiskusikan dulu?”
“Ya aku ga siap aja, ruhiyah aku belum full untuk bisa bicara di depan banyak orang, dan masalah kita-”
__ADS_1
“Masalah kita? Itu masalah kamu sendiri !, jangan membawa – bawa alasan ketika ada panggilan dakwah. Jangan menjadi batu penghalangku di dalam jalan dakwah ini”
“Apa maksud kamu?! Halangan?” Laiqa terlihat tidak bisa membendung bulir air mata di matanya.
“Iya! Kenapa? Mau nangis?”
Dan kini ia benar-benar menangis. Ia mencoba menatap apa saja asal tidak wajah suaminya.
Syamil kemudian menghentikan mobilnya di sisi jalan dengan kasar.
“Jangan nangis atau mau kuturunin disini?” tanya Syamil dengan wajah yang amat dingin.
Laiqa tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia menatap suaminya dan kalimat kiasan itu. Kalimat yang mungkin saja maknanya seperti, taat denganku atau kita berhenti disini dan silahkan ambil jalan yang lain.
“Hal apa yang bisa buat kamu nangis begini?”
Laiqa menggeleng, dan tersenyum dengan air mata yang terus mengalir. “Ga ada..” ujarnya sementara hatinya mengatakan, seandainya kamu bisa mengerti sedikit saja aku Wanita yang tidak pernah di kasari oleh laki-laki seumur hidupku.
“Kamu selalu menganggap diri kamu adalah korban” ujar Syamil ketika beberapa saat mereka hanya diam di dalam mobil kekar peninggalan mendiang ayahnya itu.
Laiqa terus saja menatap pemandangan bahu jalan.
“Selama ini mungkin pernikahan kita, dan aku nggak berarti sama sekali untuk kamu..” ucap Syamil lirih, namun itu sangat jelas terdengar sehingga membuat Laiqa menoleh padanya.
__ADS_1
“Ga ada artinya..” ujar Syamil lagi sambil terus melihat ke arah depan. Dan sampailah mereka di garasi rumah.
“Kak.. tunggu,” ucap Laiqa namun laki-laki itu berjalan mendahuluinya menuju kamar dengan sangat cepat.