
[ Telepon ]
Setelah menerima telpon dari nomor misterius tersebut. Wajah Laiqa berubah menjadi sedikit syok.
Ia mulai menggigit jarinya dan bertanya apa yang harus dia lakukan.
Syamil yang sudah selesai dari toilet berencana menyusulnya, namun langkahnya terhenti ketika ia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka di telpon.
Syamil mulai mundur teratur dan memutuskan hanya menunggu Laiqa di dalam mobilnya. Sambil menunggu ia terus memperhatikan gerak gerik istrinya yang terlihat jelas dari tempat ia duduk. Ia mengetuk-ngetukan jari di kemudi mobil sampai pada akhirnya pintu terbuka dan masuklah istrinya ke mobilnya.
Raut wajah khawatir masih tersisa disana. Bahkan ditambah dengan raut kebingungan.
Dan sebenarnya juga Laiqa sedikit takut.
Syamil yang melihat jelas hal itu lantas bertanya,
"Siapa yang menelpon?"
Laiqa duduk bersandar dengan gelisah yang ditutupi seolah baik baik saja. Kepalanya menggeleng perlahan
"Bukan ..ini bukan siapa siapa .." ucap Laiqa tampak menyisakan raut kecewa di wajah Syamil.
Ia kecewa istrinya menyembunyikan sesuatu darinya. Padahal sebenarnya ia pun sudah mengetahui siapa yang menelpon istrinya tadi.
Syamil pun menyalakan mobilnya tanpa berkata - kata. Kata bismillah hanya diucapkannya di dalam hati. Mereka pun memulai perjalanan.
Tiba-tiba ketika mereka saling sibuk dengan pikiran masing-masing, Syamil mengatakan,
"Kita adalah suami istri.. yang diikat oleh ikatan sakral pernikahan. Aku, kamu.." Syamil menoleh ke Laiqa yang tampak terus menunduk.
"Bahkan aku bisa mengetahui apa yang orang tuamu tidak ketahui tentang kamu. Dan kamu pun bisa mengetahui apa yang orang tuaku tidak ketahui tentangku.." ucap Syamil lagi. Jalan di luar tampak lengang, dan dihiasi gerimis kecil yang menyisakan aroma tanah pada kaca yang dibiarkan sedikit terbuka.
"Bahkan di malam ketika pertama kalinya kita bercampur, tak ada hijab, sekat atau pembatas apapun yang menghalangi kita berdua.. kita adalah satu tubuh.. "
Laiqa menggigit bibirnya, suara suaminya terus menggema melengkapi semua ketakutannya tentang hal ini. Tidak mungkin ia bisa berbohong pada seorang yang memiliki akal yang menyala.
"Lalu apa yang membuat kamu menyembunyikan sesuatu dariku?.." tanya Syamil.
Laiqa memandang jalanan di depan, lebih tepatnya ia memandangi pantulan samar wajah suaminya di kaca. Tidak ada kemarahan disana. Hanya ketenangan dan kesabaran seorang yang sedang menghadapi kekecewaan.
__ADS_1
"Laiqa ?" Tanya Syamil lagi, kali ini sambil melihat wajahnya.
"Yang..." Timpal Laiqa lirih. Ia tahu ketika suaminya kecewa maka cirinya ia akan memanggilnya dengan namanya. Bukan lagi dengan panggilan sayang.
"Maafkan aku .." ucap Laiqa
"Aku hanya takut ini akan menyakitimu.."
Kemudian Syamil mengusap wajahnya setelah mendengar hal itu, "katakan saja sejujurnya." Ucap Syamil.
"Insya Allah apapun yang terjadi dalam pernikahan kita. Baik itu masalah ringan maupun masalah berat, insyaAllah aku tak akan pernah goyah.." ujar Syamil.
Laiqa mengangguk .Ia tampak sedikit lega melihat sikap suaminya yang amat dewasa, perwujudan dari janji yang telah diucapkannya kepada Allah di hari akad pernikahan.
Suatu bentuk tanggung jawab yang membuatnya berani terbuka.
"Tadi..ka Azqila yang menelpon.."
Syamil menatap Laiqa, kemudian fokus kembali menyetir mencoba mendengar dengan seksama semua cerita yang keluar dari mulut istrinya.
"Setelah menceritakan semua kondisinya, Ka Azqila mengatakan bahwa.."
"Tidak. Alhamdulillah.. momen kelahiran ketiganya kemarin jelasnya telah membuat banyak perubahan baik. Yang paling utama adalah suaminya yang sudah sepenuhnya berubah. Bahkan beliau mau mengajak Abang Fatah ikut kerja ke kantornya, dan menitip baby Faiza di daycare. Sehingga proses pemulihan ka Azqila menjadi lebih cepat dan minim depresi" ujar Laiqa dengan wajah yang berbinar penuh syukur.
"Alhamdulillah." ucap Syamil. "mungkin itu adalah sebagian dari do'a-do'amu yang terkabul.."
Laiqa tersenyum. Namun perlahan senyum itu sirna.
"lalu apalagi yang ia katakan? sehingga membuatmu sepertinya sangat gelisah"
Laiqa menunduk "hemmm..aku tidak yakin akan mengatakannya.."
"Katakan saja. Mungkin ada solusi jika kita mengetahui itu bersama-sama.." ujar Syamil.
"Ini tentang Ahsan.." ucap Laiqa tampak menggantung kalimatnya. Kini mereka berhenti di lampu merah. Hal itu sebenarnya ia lakukan karena ingin melihat ekspresi suaminya.
Sungguh ia sangat tidak ingin menyakiti perasaan orang yang sangat dicintainya itu.
Melihat Syamil mengangguk dan menggas mobilnya secara perlahan saat lampu berubah hijau, Laiqa melanjutkan perkataannya .
__ADS_1
"ia sedang drop. Ka Azqila berpikir mungkin ini kesalahannya karena pernah mengatakan kata yang mungkin salah tentangnya dan aku."
Syamil menangkap bahwa sebenarnya yang paling membuat istrinya syok adalah kenyataan bahwa ternyata Ahsan juga mencintainya. Tapi mereka tidak bisa bersama.
"Dan juga.. tidak hanya itu, kedekatan kita berdua yang terlalu terekspos akhir-akhir ini mungkin membuat kondisinya semakin drop pasca operasi."
"terekspos??" tanya Syamil, ia tampak sedikit mencerna perkataan istrinya.
"Ya, ketika kita talkshow tadi yang di live streaming di YouTube. Ka Azqila berpikir mungkin saja Ahsan menontonnya. Karena broadcast acara tersebut tersebar di grup whatsApp keluarga mereka."
Syamil menghela nafas. Ia yakin ini bukanlah rasa cemburu, melainkan hanya ada rasa sedikit empati dan iba, membayangkan bagaimana jika ia berada di posisi Ahsan. Bagaimanapun juga ia sedikit banyak pernah mengenal Ikhwan itu di suatu tempat.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Syamil.
"Aku tidak yakin, Ka Azqila berencana mengajakku berdua dengannya mengatakan pada Ahsan bahwa ia meminta maaf, dan aku akan mendoakannya, sampai ada tanda tanda ia akan bangun dari masa kritisnya."
Syamil menelan ludah. Ia bahkan tidak bisa membayangkan jika istrinya harus bertemu dengan seseorang yang dulu pernah istrinya sukai.
Syamil menghela nafas. Mencoba berpikir keras.
"Aku tahu itu adalah hal yang tidak mungkin. Aku juga mengatakan hal itu pada Ka Azqila. Jadi aku hanya memutuskan untuk datang saja besok ke rumah sakit hanya menengok Ka Azqila, dan berdoa di kamar ka Azqila untuk kesembuhan Ahsan. Sekalian aku mohon pamit. Lagipula sebentar lagi kita akan ke Madinah kan?"
Syamil mengangguk kemudian mengatakan
"Aku akan mengantarmu.."
"Dan mungkin juga akan menyelesaikan urusan yang belum selesai"
"maksud kamu ?"
"sekarang kita doakan saja agar Ahsan segera pulih dan bisa melanjutkan kehidupannya lebih baik lagi dari sebelumnya.."
"aamiin" Laiqa terus memandangi sosok suaminya yang amat dewasa.
"Ayang .. terimakasih ya sudah mengerti.." ucap Laiqa kemudian.
Syamil tersenyum, "terimakasih juga sudah berniat menjaga perasaanku.."
Mereka pun memasuki garasi rumah, dan bersiap turun, menyiapkan tenaga untuk melakukan aktifitas selanjutnya.
__ADS_1