Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 18


__ADS_3

[ Pilihan ]


"Abang Fattah! lempar bolanya"


Ahsan, ikhwan berkulit putih dengan jenggot tipis dan kumis yang samar samar itu terlihat bercucuran keringat di bawah langit yang mendung pada sore ini.


Abang Fattah kegirangan bermain basket dengannya.


Sementara Laiqa baru saja selesai mengangkat pakaian yang telah kering di jemuran. Ntah apa yang membuat Ahsan tiba tiba menubrukan diri ke arahnya hingga ikhwan itu refleks memegangi kedua lengannya, sekaligus pakaian pakaian yang akan jatuh karena tubrukan yang cukup keras.


Mata mereka bertatapan, dalam, dan seakan detik berhenti hanya ada dirinya dan ikhwan itu. Anak-anak kecil yang tertawa bahagia, kemudian angin yang berdesir teduh, dan jantung yang tak karuan bunyinya, semakin membuatnya merasa seperti ia adalah ibu, Ahsan adalah ayah dan Abang Fattah adalah anak laki laki kecil buah dari kedua hati yang disakralkan dalam akad pernikahan.


Brukkk..


Kini ia benar-benar jatuh,


Ke sebuah teras yang dingin.


Ciit...


Terbuka pintu rumah sederhana, seorang berdaster panjang terkejut sambil berkata.


"Nak, kamu kenapa to?"


"Umi... aku ketiduran umi..sampai jatuh dari kursi"


Syukurlah ternyata tadi hanya mimpi, bisiknya pada diri sendiri.


Jantung yang masih tak karuan itu, segera kembali normal setelah umi mengusap kepalanya lembut.


"owalah kasihan ini anak kecapean.. ayo masuk, maaf tadi umi udah tidur jadi lama buka pintunya.."


****

__ADS_1


Hawa dingin sehabis hujan minggu pagi, berkas berkas yang tercecer dan sedang dirapihkan seorang pemuda dengan setelan koko lengkap dengan peci.


Membuat Azqila berinisiatif membuatkan kopi untuk adik iparnya itu.


Tak lupa ia meletakan cangkir pertama di hadapan suaminya.


Anak anak masih tidur, ia berdehem.


"Ahsan..."


"Iya Teh..?"


"Teteh kenal seorang akhwat yang sepertinya cocok untuk kamu. Apa kamu ada niatan menikah dalam waktu dekat ini?"


Pikiran gila macam apa yang menginginkan segala sesuatu seinstan ini langsung pada kehendaknya tanpa menyisipkan prolog yang halus.


Suara kopi yang diseruput suaminya perlahan hilang, sunyi, senyap diantara mereka bertiga. Hanya senyum samar di wajah Ahsan saat mendengar kalimat tersebut terucap.


"Sepertinya bukan waktu yang tepat umi.. Kita tahu Ahsan sebentar lagi akan melakukan khidmat di Aceh sana selama satu tahun, lalu sekarang ia sibuk dengan legalitas lembaga. Skripsi pun belum rampung, "


"Bukankah orang yang sedang semangat semangatnya berdakwah harus dibantu dukungan seorang istri agar bisa fokus mencapai arah tujuan, karena ada yang selalu mengingatkan, mendengar keluh kesah dan mencari jalan keluar bersama.. jadi pondasi dakwah akan lebih kokoh, terlebih lagi kalau mereka berdua satu fikroh"


Ahsan menyimak perkataan kakak iparnya dengan seksama lalu menunduk.


Di sudut matanya seperti membenarkan kata kata kakak iparnya.


"Tapi bisa saja justru seorang istri lah yang kan menjadi penghalang dakwahnya" timpal Salman membuat kerongkongan Azqila tercekat.


"Ya jika mereka tidak satu fikroh, dan tidak mau saling memahami. Menikah bukan soal mendapatkan apa, tapi soal memberi apa"


"Umi..." sela Salman lalu mengajaknya berdiri dan menarik tangannya menuju kamar, yang kini terkunci rapat.


Di sisi ruang tamu yang luas, dan dipenuhi kitab-kitab kuning bertuliskan huruf arab gundul Ahsan meletakan berkas berkas yang sedari tadi ia genggam ke meja.

__ADS_1


Ia meraih pulpen dan selembar kertas.


Sesuatu yang membuat ia tak baik baik saja biasanya melahirkan coretan yang sempurna.


Ia mulai menarik satu panah ke panah lainnya, mencoba melakukan brainstorming hidupnya, melihat celah celah yang mungkin bisa dirombak menjadi suatu kemungkinan, atau memang telah kokoh berdiri tanpa mungkin diubah lagi.


Menikah,


Bukan perkara mudah


Tapi godaan tentang wanita


Adalah hal lumrah yang selalu melintas di pikiran setiap laki laki seusianya.


Meski kecenderungan untuk mengatakan dengan gagah sebuah kesiapan belum juga terlihat. Tapi rasa takut akan tergoda dengan banyak wanita diluar sana selalu ada. Apalagi rasa penasaran terhadap apa apa yang belum terjamah adalah hal yang pasti ada, dalam diri seorang laki laki yang suka menguji adrenalinnya seperti dirinya.


" Bagaimana kalau memang jodohnya sudah datang?, apa kamu berhak melarangnya menikah sebelum tahu sendiri bagaimana pilihannya, setuju menerima taaruf dengan akhwat pilihanku atau tidak?"


Azqila keluar kamar dengan emosi yang tinggi. Salman tetap pada karakternya, mencoba menstabilkan istrinya dengan sabar.


"Ahsan.. jadi gimana..? " tanya Azqila menghampirinya.


Ahsan berdiri dengan kedua tangan kanan dan kiri yang saling menggenggam di depan. Ia tampak menunduk sambil berpikir.


"Memangnya siapa akhwat itu?" tanya Salman.


"Nanti akan tahu saat ta'aruf."


Salman berdecak lalu menggeleng gelengkan kepala sambil menghela nafas.


"Tafadhol Ahsan, gimana pendapat kamu..?" tanya Salman dengan nada mengalah.


"Afwan teh... simkuring( saya ) .."

__ADS_1


*****


__ADS_2