Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 49


__ADS_3

Merelakan


Apa yang membuat surah Al Insyirah kini hanya mengambang dibatas ingatannya?.


Ahsan, ia menerawang kosong, merapal istighfar di dalam hati sambil memeluk kehampaan, melihat berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya dengan satu lirikan yang sendu.


Ingin menitikan air mata yang terasa salah ini tentang sebuah perasaan yang terlalu jauh. Tentang seseorang yang selalu hadir di mimpinya. Tentang rasa yang seharusnya tidak boleh hadir sedalam ini. Tapi pada akhirnya, tidak pernah keluar setetes air matapun dari matanya.


Karena sebuah ayat yang masih mengambang di ingatan, yang membalut setiap luka sayatan di hatinya.


Sesungguhnya sesudah kesusahan itu ada kemudahan.


Ia bahkan tidak bisa mengangguk dan berdiri tegak untuk sekedar menerima keadaan, untuk tidak sedih lagi. Hati ini masih hati milik manusia, bahkan sejelas itu ayat yang Allah buat, tetap saja rasanya sangat sakit melihat kenyataan.


Apakah yang membuat ayat ini hanya melambaikan tangan padanya?


Sore yang terik itu tiba-tiba pintu kamar terbuka.


Ahsan tampak tak menyangka melihat sosok yang baru saja masuk. Ia belum bisa bergerak banyak ketika orang itu menampakan isyarat bolehkah ia masuk dengan tangannya.


Ahsan hanya menunjukan ibu jarinya tanda ia baik-baik saja jika orang tersebut masuk.


Dan dialah Syamil El Fath, laki-laki berkaos abu abu gelap dengan kemeja flanel kotak kotak yang dibiarkan terbuka kancingnya. Seseorang yang menjadikan ruangan di dalam dadanya terasa sempit dan menyesakan.


Laki-laki itu membawa bingkisan buah yang amat besar, berisikan anggur, alpukat, jeruk, strawberry, mangga dan bahkan melon juga semangka.


"Assalamualaykum akhi.." ucap Syamil dengan tatapan teduh seperti biasa yang terpantul dibalik kacamata.


Ahsan melihatnya dengan seksama sambil membalas salam.


"Waalaykumsalam..ada apa?" Tanya Ahsan


Berharap pada manusia itu sakit. Patahnya hati ini melihat kebahagiaan mereka juga sakit. Tapi lebih sakit lagi terlihat lemah oleh seseorang yang selalu menjadi saingannya di perlombaan MHQ.


"Sudah lama kita tidak bertemu." Ucap Syamil.


"Rasanya belum terlalu lama. Mungkin antum tidak sadar saat kita pernah bertemu di acara pernikahan seseorang."


Syamil mengangguk. "Afwan, rasanya hari itu antum terlihat banyak berubah. Ana tidak terlalu fokus.."


Ahsan mengangguk.


"Akhwat yang kita temui bersama kala itu.." Ahsan tampak menggantung kata-katanya, memancing ekspresi Syamil yang benar saja merasa sedikit bersalah dan iba kepadanya.


Ia sungguh tidak suka sikap seperti itu.


"Barakallahu laka wa Baraka alaika wa jama'a baina kuma fi khair..." Ucap Ahsan dengan nafas yang dibuat terlihat sangat teratur. Membuat seluruh adrenalinnya naik ketika akhirnya melihat betapa terkejutnya Syamil mendengar kata-kata itu.


Syamil menunduk sambil mengucap "jazakallah.."


Syamil lalu menghela nafas.


Suasana amatlah canggung.

__ADS_1


"Syafakallah akhi.."


"Aamiin..jazakallah khair. Apa yang membuat antum datang kesini?" Tanya Ahsan.


"Ana mendengar kabar antum kritis, benarkah jika itu karena akhwat yang gagal berproses dengan antum, menikah dengan ana?"


"Sepertinya antum sedang merasa diatas awan" ucap Ahsan sontak membuat Syamil terkejut.


"Apa antum akan terus seperti ini?, Antum harus segera sembuh dan menjalani hidup dengan baik..tidak baik terus berlarut-larut dalam perasaan yang tidak jelas " ucap Syamil sedikit terpancing.


"Tidak ada satu kejadian pun di muka bumi terjadi, melainkan itu semua sudah tercatat di catatan kehidupan. Semuanya sudah diatur oleh Allah. Dan ini semua bukan karena pernikahan antum " Ucap Ahsan masih meninggalkan kesan yang begitu tegar di hadapan Syamil.


Ini semua pasti hanya karena betapa lemahnya diri yang tidak bisa mengendalikan perasaan terhadap dia yang belum halal. Suatu pengingkaran terhadap apa yang telah Allah atur. Dan pasti sama sekali bukan karena akhwat itu akan bersama siapa jika tidak dengannya.


"Antum pikir ana mempercayainya?" Tanya Syamil.


Ahsan terdiam. Ia lupa yang dihadapannya bukanlah orang biasa. Kini ia dan perkiraannya salah total. Kepura-puraannya agar terlihat tegar tidak berhasil.


"Ini semua memang ketetapan Allah. Bahkan kita tidak pernah bersaing. Kita berdua sejak awal bertemu dahulu jauh sebelum ini, memang bukanlah saingan. Kita hanya memperjuangkan menjadi yang terbaik untuk sesuatu yang berharga." Ucap Syamil.


"Jika antum adalah perawi hadist maka dipastikan seluruh hadist yang antum riwayatkan adalah dhoif karena antum telah berdusta." Ucap Syamil lagi.


Ahsan menelan ludah.


"Berhentilah sekarang .." ucap Syamil lebih tenang dari nadanya yang tadi. "Ana tidak bisa melihat antum menjadi seperti ini, lakukan lah opsi opsi baru. Rencanakan sesuatu dengan cepat, otak dan jasad yang sibuk akan menomorduakan hati yang kecewa."


Ahsan menghela nafas.


"Ana hanya merasa tidak nyaman dengan posisi sekarang"


"Posisi yang selalu merasa salah mengambil keputusan, dan merasa kalah di hadapan antum"


Syamil menggeleng tak percaya.


"Sungguh insyaAllah ana akan baik baik saja, ini hanya perasaan yang familiar. Rasanya hampir sama seperti dahulu ketika ana kalah dengan antum saat lomba MHQ" ucap Ahsan.


"Benarkah..? Bukankah yang membuat antum tidak nyaman adalah rasa rindu terhadap akhwat yang sudah bersuami?" Tanya Syamil.


Ahsan terdiam mencerna maksud pertanyaan Syamil yang anehnya semuanya adalah benar.


"Apa antum merasa terancam?" Tanya Ahsan memancing. Mungkin Syamil akan memukul wajahnya atau bahkan mencabut alat infusan yang berisi oksigen dan cairan makanan.


Tapi tidak ada raut kemarahan.


Raut wajah Syamil berubah menjadi lesu, ia tampak berusaha keras untuk mencari cara bagaimana mengutarakan apa yang dirasakannya kepada Ahsan.


"Kalian sudah menikah, tentu saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan, antum sekarang suaminya? Kenapa mengurusi orang yang sebentar lagi akan pergi ke belahan provinsi lain dan kalian pun akan pergi ke benua lain?"


"Adakah yang lebih menyiksa daripada memiliki tapi tak benar-benar memiliki ? Ana memiliki seluruh jasadnya, tapi sayangnya hatinya sebagian besar masih terisi oleh antum.." ucap Syamil dgn seluruh keberaniannya.


Ahsan tak percaya Syamil El Fath akan mengatakan hal sejujur ini.


"Semua manusia diciptakan untuk seperti itu. Kita memiliki nyawa. Tapi nyawa itu bukan milik kita. Tugas kita hanya menjaganya dengan sebaik-baiknya." Ujar Ahsan mencoba mengalihkan pembicaraan meski di dalam hatinya terasa sangat campur aduk mendapati kenyataan bahwa Laiqa juga memiliki rasa yang sama. Sampai suaminya juga mengetahui hal itu.

__ADS_1


Sementara Syamil tampak menunduk sedih.


"Antum pasti..sedang berharap sama manusia.." ujar Ahsan.


Syamil melirik Ahsan dengan cepat, mengerutkan kening. Kata kata itu terasa amat tajam menembus jantungnya.


"Antum lupa jika berharap sama manusia itu sangat menyakitkan? Berbuatlah seperti yang Allah mau. Sekarang dia adalah istri antum. Masalah hatinya biarlah Allah yang mengurusnya. Tapi jangan sia - siakan apa yang telah Allah tulis. Lakukan sebaik yang antum bisa, seperti yang Allah mau. Berharap lah hanya pada Allah"


Syamil tidak percaya bahwa Ahsan lah yang justru menyadarkan dirinya yang kini sedang goyah.


"Kalian adalah sepasang insan yang sangat cocok ..ana tidak akan mengganggu kalian" ujar Ahsan meleburkan segala tembok kerinduan dengan satu kata, yakni merelakan.


"Antum adalah imam, antum bisa membuatnya mencintai antum. Dan itu perasaan yang halal, berbeda dengan ana. Jadi sudah saatnya kita sama sama merelakan. Ana merelakan kalian. Juga antum merelakan perasaan istri antum, dan berusaha membuatnya jatuh cinta pada antum dengan cara-cara Allah."


Syamil mengangguk, meskipun ia lebih tua dari Ahsan, laki-laki ini dari dulu sudah bisa membuat hatinya terkagum dengan kedewasaan yang amat jauh daripada usianya.


"Sebenarnya..apa yang membuat kalian tidak melanjutkan proses pernikahan?. Kalian tampak saling memiliki kecenderungan." Ucap Syamil kemudian.


"Karena akan banyak perdebatan pada dua mimpi berbeda dalam satu rumah tangga. Sebuah rumah tangga tidak bisa memiliki dua mimpi yang berbeda arah, mereka harus berjalan beriringan."


"Baiklah..ana mengerti. Lalu apa rencana antum selanjutnya?" Tanya Syamil


Ahsan bersyukur, pada kepedulian yang ia dapatkan dari Syamil, sama sekali bukan rasa kasihan terhadapnya.


"InsyaAllah ana akan melakukan khidmat di Sabang, Aceh. Memenuhi undangan pesantren khusus anak-anak korban bencana yang kehilangan orang tuanya."


Ana akan menjumpai banyak rasa kehilangan, hingga ana melupakan kehilangan yang ana rasakan sendiri, lanjut Ahsan di dalam hati.


"Aceh? Itu tempat yang jauh.."ucap Syamil.


"Saat kehilangan sesuatu kita butuh mengunjungi orang orang yang sedang kehilangan agar merasa tidak hanya kita sendiri yang kehilangan. Dan untuk tidak merasa sakit di kemudian hari, bukankah kita harus bersiap siap untuk kehilangan?"


Syamil mengangguk.


Biasanya ketika kita berpikir kemungkinan terburuk atau bahkan kita berpikir kayaknya tidak akan bisa berhasil dan memasrahkan semuanya kepada Allah, justru Allah membuatnya berhasil.


Karena sesungguhnya Allah tidak pernah menutup mata atas usaha hambaNya. Dan sangat menyayangi orang orang yang hanya berharap kepada Allah.


"Memikirkan kemungkinan terburuk, bisa membuat Allah justru memberikan hal yang baik" ucap Syamil ia pun harus bersiap kehilangan Laiqa meski saat ini mereka sedang sama sama berusaha saling membahagiakan.


" Yakinlah jika Allah tidak akan mengambil sesuatu melainkan akan diganti dengan yang lebih baik" ucap Syamil lagi.


Ahsan mengangguk.


"Bagaimana dengan antum?, kapan kalian akan berangkat ke Madinah?"


"InsyaAllah..kira - kira dua minggu lagi.."


"Madinah, itu tempat yang lebih jauh lagi" ucap Ahsan kemudian disusul dering handphone Syamil.


Pukul 4 sore, dan di panggilan masuk itu tertulis nama My Wife. Syamil menekan tombol tolak panggilan dengan cepat.


"Ya.. sangat jauh.." ucap Syamil kemudian.

__ADS_1


Ia lalu menggenggam bahu Ahsan.


__ADS_2