Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 20


__ADS_3

Haruskah Menikah Sekarang ?


Sebuah cv terpampang di layar handphonenya. Sesosok akhwat cantik dengan sorot mata lembut terlihat jelas disana. Hatinya bergetar, untuk pertama kalinya ia memberanikan diri melihat wajah akhwat sejelas itu dan selama itu. Hal yang belum pernah ia lakukan selaa hidupnya.


Ternyata tanpa menunggu persetujuannya, Kakak Iparnya langsung memberikan sebuah CV taaruf tanpa sepengetahuan siapapun. Kebingungan ini, ia lepaskan di atas sajadah. Di pojok masjid berlantaikan marmer, ia menunduk sesekali menengadah ke langit langit yang selalu memaafkan orang orang yang hanya singgah sebentar di bawahnya.


Ia adalah seorang Mahasantri berusia 21 tahun, kini sedang berada di masjid Ma'had yang seperti biasa ramai dengan lantunan ayat al qur'an yang dihapal puluhan mahasantri, beberapa ada yang duduk melingkar berdiskusi di sudut sudut, ada yang hanya membaca buku, ada yang tidur sebelum materi gabungan dimulai semua memang dibebaskan melakukan apa saja asal tidak keluar Ma'had. Bahkan ada yang bermain bola di lapangan.


Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dari yayasan tempat kemarin ia di kontrak pada layar hapenya.


"Assalamualaykum warohmatullah..."

__ADS_1


"Waalaykumsalam...Ustadz Ahsan Apa kabar.. ?" Sebuah panggilan dari Pemilik Yayasan Al Fatih Internasional yang kemarin baru saja ia tolong saat hampir saja truk besar menabrak mobilnya yang mogok di pinggir jalan. Bapak Hadi namanya, ternyata sedang kumat penyakit asmanya di dalam mobil. Segera ia keluarkan sebelum akhirnya sebuah truk menghantam mobil mewahnya sampai hancur. Ia kemudian ditawari mengajar Al Quran di sekolah milik Pak Hadi hanya karena mereka satu pemikiran saat berbincang di perjalanan.


"Alhamdulillah baik pak Hadi...."


"Oh ya, insya Allah jadi ya mengajar disini, kurikulum yang ustadz ajukan sudah masuk kemarin via email, dan cocok Alhamdulillah.. kita masih persiapkan untuk tahun depannya lagi. Jadi masalah khidmat ke Aceh sana silahkan aja, karena proses belajar mengajar dimulai dua tahun lagi saat semua sistem baru sudah siap..."


"Alhamdulillah...Jazakallah Pak infonya". ia menutup telponnya setelah Pak Hadi mengucap Assalamualaykum. Ia merasa seperti segala sesuatu dimudahkan Allah.. bukan hanya mendapat gaji yang amat besar di sekolah yang berbasis internasional itu, namun sebuah rezeki persaudaraan yang begitu menentramkan. Apakah ini tanda bahwa Allah membuat ia siap untuk menikah dalam waktu dekat ini ? Dimudahkannya segala urusannya, kemudian membuat ia selesai dengan dirinya sendiri.


Sebagai seorang ikhwan yang sebentar lagi akan tasmi 30 Juz Al Quran rasanya banyak sekali pertimbangan untuk menikah. Tidak semudah membalas instastory selebgram lewat dm, lalu bertanya seperti apa tipe suami idamanmu, kemudian saling menstalking feed yang tampak indah dan sempurna berbalut kalimat-kalimat Allah dan jilbab yang terurai panjang ditiup angin berkibar kibar, dan di sorot cahaya matahari yang keorenan. Lalu ijab kabul diiringi decak kagum jutaan manusia, viral kemudian cerai.


Meski begitu saat tak ia membaca sebuah undangan online dari Adnan sahabatnya mengenai pernikahannya.

__ADS_1


Lalu satu lagi sebuah undangan baru terlihat di grup wa dengan nama ustadz Irham, ustadz yang sering mengajarinya bahasa arab.


Membuat ia melihat dirinya sendiri. Alhamdulillah penghasilan sudah punya, tsaqofah sejak lama memang sudah dituliskan dalam benaknya akan membangun keluarga dakwah kelak, yang outputnya akan menghasilkan wadah untuk perwujudan masyarakat yang madani.


Dan sosok wanita yang pertama kali menggetarkannya itu juga telah ditampakan oleh Allah, seseorang yang telah lama berada di jalan ini, bukan wanita yang baru hijrah, lalu sebentar kemudian akan memendekan jilbabnya hanya karena kecewa ditengah perjalanan.


Ia adalah akhwat dari universitas islam paling terkenal di kota ini, bahasa arab jangan ditanya, ia sering menjuarai debat nasional, sama sepertinya. Hafalan qur'an? Dia bahkan telah hafal 30 juz Al quran dan akan mengambil sanad. Watak, sifat? Semua sosok keibuan seolah terepresentasi di dirinya. Namun usianya lebih tua 1 tahun darinya. Akan lulus semester ini dan akan mengambil beasiswa ke Madinah.


Ia lalu bangkit menapaki ubin marmer yang dingin, menuju selasar masjid yang teduh oleh pepohonan. Apakah ini saatnya ia menikah?, ketika ia mulai merasakan perasaan ingin diberikan kasih sayang dan semangat dari seorang wanita. Apakah persamaan diantara mereka akan membuat perbedaan jadi tiada artinya?


Ia akan melanjutkan istikharahnya.

__ADS_1


Beberapa kali lagi.


*****


__ADS_2