Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 10


__ADS_3

RencanaNya


Sesampainya di kampus.


"Hemm... darimana saja antum ini...?" tanya seorang ustadz berpakaian serba putih dengan bahasa arab.


"Afwan... ustadz ..."


Ahsan menjawab pertanyaan kepala asrama kikuk dengan kepala yang menunduk dalam. Kumis tipis dan mata yang tajam itu tampak mendominasi sosoknya, ditambah keningnya yang berkerut menatapnya


Ustadz Amru Hakam menghela nafas,


"Sebenarnya ana ini nggak tega hukum antum..."


Ahsan menatap matanya, kemudian menunduk lagi.


"Tapi akhir-akhir ini sering hujan, tampaknya sudah tercium bau tidak sedap di masjid, sepertinya sudah saatnya mencuci karpet masjid.."


Ahsan memejamkan mata lalu menghela nafas.


"Antum bisa urus itu ya... karpet itu bisa jadi ladang amal jariah untuk antum. Antum merasa ikhlas kan?"


Ahsan menggigit bibir memandang ustadz dengan badan yang tinggi besar, serta hidung mancung dengan kulit kecoklatan.


Sedetik itu juga Ahsan mengangguk.


"Alhamdulillah ... tidak salah Ma'had ini memiliki Presiden Mahasiswa seperti antum, selalu bertanggung jawab atas kesalahannya, semoga antum amanah ya ..."


"Tayyib ustadz... Afwan .."


Ikhtirom, atau hormat kepada guru adalah sikap yang selalu ia junjung tinggi. Ahsan, seorang yang tak pernah berani menatap mata gurunya kala berbicara. Sifat yang begitu jarang kini didapatkan oleh pemuda seusianya. Meski di dalam hatinya begitu banyak pertanyaan, keluh dan kesah, tapi tak sanggup ia tampakan di depan guru yang begitu ia hormati.


Kedalaman ilmu para guru yang membuat ia merasa kecil, dan merasa tak pantas. Jika bukan karena adab, sudahlah pasti ia merengek sana sini, ijin sana sini, mengeluh, dan mencipta banyak alasan. Namun, tak sanggup ia lakukan, hanya karena merasa takut sang guru murka dan berhenti mendo'akannya di setiap akhir shalat mereka.


****

__ADS_1


Keesokan harinya, selepas sholat shubuh berjama'ah, Ahsan tampak menyendiri.


Fakhri segera menghampirinya.


"antum kenapa syeikh ...?" canda Fakhri khas, sambil menepuk bahu sahabatnya. Ahsan yang terkejut segera membuyarkan lamunannya.


"Astagfirullahal adzim... gapapa"


Fakhri tersenyum datar. Ia tau sahabatnya bohong.


"Ana hanya teringat, kata-kata guru ana waktu di pesantren dulu... orang yang paling capek di dunia ini adalah, orang yang selalu memikirkan apa yang belum terjadi..."


Fakhri mengangguk-angguk mengerti. Entah, ia tak ingin bertanya banyak, tapi biasanya hanya dengan diam saja, sahabatnya ini akan terbuka.


Ia terbiasa memanggil Ahsan syeikh, saking seringnya sahabatnya itu mendampingi guru guru saat mengajar, sekedar menyederhanakan bahasa para syeikh yang terdengar berat untuk dicerna.


"Karena sudah jelas Allah berfirman:


{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ } [هود: 6]


“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (QS. Huud: 6).


"tapi, Allah... ana masih aja terjebak dalam pikiran-pikiran yang ga semestinya." tambah Ahsan. Kini Fakhri merasa larut dalam curahan hati sahabatnya ia hanya diam bersama pikirannya sendiri, tentang hidupnya.


Yang masih sering diliputi kekhawatiran.


"Ini ada uang segini, sudah ana azzamkan untuk legalitas lembaga di kampung ana sana, tapi ya Allah ada saja gangguannya..."


"Akhi.. perkara itu mungkin ada rencana Allah yang lain. Memang mencuci karpet sebanyak ini mungkin akan habis jutaan rupiah ya akhi..jika, dicuci dengan cara konvensional, Laundry misalnya."


"lho.. antum tau darimana ana harus cuci karpet ini...?"


Fakhri tersenyum, "kemarin itu ana tak sengaja lewat pas antum sedang dinasehati ustadz Amru"


"antum jangan kira ana menyerah, masih banyak PR dakwah yang lebih besar di luar sana dibanding perkara karpet masjid ini hanya aja.."

__ADS_1


Terbayang betapa genting kampungnya harus segera ditolong dari penindasan organisasi tak bertanggung jawab yang mengekor ke partai Banteng di sana.


Tidak adanya legalitas lembaga, membuat para guru TPA tidak mendapat tambahan tunjangan, dan pengajian sering ditolak diselenggarakan sebab masalah perizinan yang ilegal.


Namun, harus ia ikhlaskan beberapa juta uang untuk melaundry karpet masjid.


"hanya aja, gimana caranya supaya antum nggak usah keluar uang banyak gitu? agar uang antum tetap bisa legalin lembaga "


"hhhhee... "


"ya antum cuci aja sendiri, dicicil 1 hari 1 karpet. Kebetulan ana punya alat pengering milik konveksi ibu ana, bisa antum pinjam agar cepat selesai." tambah Fakhri.


Ahsan tersenyum ringan. ia segera berkata syukur di depan sahabatnya itu.


****


"Ikan hiu, goyang -goyang, i love you sayan


g"


seru Laiqa pada kesempatan menjaga Faiza hari ini sepulang kuliah tadi. Sontak anak bayi 5 bulan itu terkekeh-kekeh melihat wajahnya yang amat ekspresif.


Usia 5 bulan memang sangat senang di ajak ngobrol, diajak bercanda, dan digoda. Bayi Faiza yang awalnya kurus itu, tampak menggendut semenjak ibunya, Azqila mengatakan terbantu oleh kehadirannya.


Bayi Faiza yang sedang berbaring tampak antusias. Kaki Faiza dihentak-hentakan diatas kasur nan luas, seolah sedang berlari mengejar Laiqa. Tubuhnya yang gempal, pipinya yang luber berhias lesung pipit membuat Laiqa kegelian, dan terlalu gemas hingga tak kuasa untuk tidak menimangnya...


Belum memiliki alasan untuk berhenti dari pekerjaan ini. Disamping ia sangat menyukainya, tapi penjelasan Ka Azqila tentang separah itu baby blues yang ia alami membuat ia tak kuasa tak menolong sosok yang telah ia anggap kakak sendiri.


Harapannya selalu ...


Hari ini semoga saja ia tak bertemu dengan ikhwan itu...


karena telah 5 juz Quran dari total 25 juz hafalannya menguap begitu saja, semenjak bertemu ikhwan ini.


Allah...

__ADS_1


Betapa mengerikan perkara jatuh cinta pada dia yang belum halal untuknya.


Hingga tak mampu menetap kuat, hafalan qur'an dalam benaknya.


__ADS_2