Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 48


__ADS_3

Betapa Indahnya Mimpi


Sementara itu di malam sebelumnya di tempat lain. Malam ketika Laiqa mengigau ketika tidur. Malam yang sunyi. Denyut jantung yang selama ini terus melemah. Monitor yang menyala dengan suara pelan, tiba-tiba menyala kencang tak beraturan, seperti degupan jantung yang hidup kembali, jelas terdengar seperti suara jantung orang yang sedang jatuh cinta dan sengaja didengar di stetoskop.


Untuk mengetahui seberapa hebat rasa ketika pintu ruangan ICCU itu terbuka.


Terhadap sosok yang berdiri disana, ia masih tak percaya, semua ini nyata.


Sosok yang akhir akhir ini ia rindukan.


Laiqa Alifia, dengan senyuman yang sempurna. Dibalut hijab panjang, dengan kerlingan mata yang semakin imut tanpa kacamatanya.


Berjalan mendekat menghampiri Ahsan.

__ADS_1


Lalu duduk di pinggir ranjangnya.


"Apa yang anti lakukan?" Tanya Ahsan refleks. Ia tampak sangat terkejut.


"Menjagamu..?" Jawab Laiqa


"Apa ?"


Akhwat itu tertawa, bahkan kini merebahkan separuh badannya di dada Ahsan yang saat itu tampak baik baik saja. Kekar dan kuat.


Ahsan menelan ludah, mencoba mengatur nafasnya yang tak karuan menjadi pelan dan perlahan.


Kemudian Laiqa memandang wajahnya dalam.

__ADS_1


"Rasa cinta adalah obat yang lebih manjur dari apapun.. seorang ibu yang tak berdaya karena sakitnya melahirkan, akan merasa sembuh dan seketika muncul kekuatan entah darimana saat melihat anaknya. Karena, ada cinta disana." Ucap Laiqa.


"Cinta selalu bisa menguatkan yang lemah, dan juga bisa melemahkan yang kuat. Aku ingin menjadi seperti Khadijah untukmu..Khadijah menjadikan cinta sebagai penguat saat Rasullullah diliputi ketakutan dan merasa tak berdaya."


Ahsan menikmati itu saat Laiqa mengusap dadanya lembut, mendengar setiap degup jantungnya dengan telinga Laiqa yang menempel disana.


Air matanya terasa mengalir, sampai kapankah rindu akan menjadi sangat menyiksa seperti ini saat sadar bahwa itu semua hanyalah mimpi. Matanya tiba-tiba terbuka perlahan. Apakah mimpi yang terasa nyata itu memberikannya kekuatan?.


Ataukah karena ia pindah kamar, dan sorotan cahaya mentari sore yang teramat terik di ruangan ini lebih tajam saja yang membuatnya terbangun.


Ia tertegun sambil mengucapkan istighfar.


Mungkinkah kedua orang yang saling merindukan bertemu di dalam mimpi dan bercengkrama bersama?

__ADS_1


***


__ADS_2