
[ Pertemuan Pertama ]
"Kakaknya dia itu, ternyata suaminya Nafisah. Adiknya ustadz Irham..."
Laiqa mundur saat Halimah membisikan itu padanya di acara pernikahan Halimah hari itu. Ia tak sengaja melihat ikhwan yang kemarin dilihatnya di gawai. Yang mau taaruf dengannya. Ia bersikap menjorok ke dalam , bertindak seakan siapapun tak bisa melihat kehadirannya.
"Tapi ana dengar .. ayahnya baru saja meninggal.."
"Innalillahi.. yang benar anti ini?" matanya memicing serius pada sesosok penganten di depannya yang sedang berganti riasan selepas sholat dzuhur.
Benar lihat itu umi, sedang mengucap belasungkawa pada ibunya. Seorang ummahat yang benar saja sering ia lihat di tempat pengajian sekitar rumah yang sering diikuti ibunya.
"Ini anakku, Namanya Laiqa, Alhamdulillah dia juga mau ke Madinah"
Laiqa membulatkan matanya sambil terus menunduk di samping umi yang tiba-tiba saja menghampirinya di sudut ruangan berdekorasi rustic itu.
__ADS_1
"MasyaAllah jadi ini yang namanya Laiqa... terlihat cerdas dan sholihah insyaAllah.." ujar ummahat itu mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Afwan.." ujar Laiqa.
Laiqa melihat ke arah belakang ikhwan bernama Syamil yang berdiri tepat di hadapannya. Disana ada seseorang yang masih di hatinya, Ahsan datang bersama 3 temannya yang dulu pernah berkunjung ke rumah ustadz Salman.
Kondisi macam apa ini...
"MasyaAllah anak ibu pasti lebih sholeh dari ana, katanya ia dijuluki penakluk padang pasir?" susul Laiqa refleks sedikit mengencangkan suaranya hingga ikhwan yang baru saja mengakhiri proses taaruf dengannya itu menengok menatap perbincangan ini.
"Kalau begitu kalian berdua cocok... barangkali" susul ummahat itu tertawa renyah.
Dan jujur mungkin akan sehambar itu rasanya, berada di hadapan ikhwan sempurna tapi sama sekali tak Allah anugerahi kecenderungan dengannya.
Laiqa tersenyum tipis, lebih ke merasa kecewa karena sepertinya Ahsan tak menunjukan raut kecewa sama sekali melihat kejadian yang tadi ia cipta sebagai pemantik rasa cemburu Ahsan padanya.
__ADS_1
***
Di sudut sana Ahsan menghela nafas samar, mencoba mengobrol terus bersama teman-temannya. Sungguh rasanya tak karuan, melihat akhwat itu lagi. Rasanya ia ingin enyah dari sini. Di lahapnya makanan hingga tak bersisa dengan begitu cepat, berfoto, mengucap selamat pada kedua pengantin lalu pamit pergi lebih dulu dengan alasan ada jam mengajar privat di dekat lokasi resepsi.
Tapi saat berbalik, ia menubruk sesuatu dan sebuah es krim tumpah mengenai wajah Laiqa.
Seringkali, ingin menghindari tapi malah diberi.
Ahsan ingin tertawa, melihat wajah yang sangat lucu itu, wajah yang sangat melekat di benaknya.
Tapi seseorang menyodorkan tissue pada Laiqa, dan itu semua membuat hatinya hancur seperti es yang luruh di atas panggangan api.
Siapa ikhwan berkacamata ini?
"Afwan lain kali hati-hati ya mas kalau berjalan" ucap ikhwan itu tegas dan serius.
__ADS_1
Dan Laiqa langsung pergi ke belakang dengan berlari cepat, gamis berwarna lilac pudar dan detail brukat yang manis berkibaran di sudut matanya. Hati.. Ahsan rasa ia masih terus saja menginginkannya.