
[ Lari dari Masalah? ]
Di dalam mobil keduanya tampak seperti dua orang asing yang tidak banyak bicara.
Laiqa memandang suaminya dengan outfit yang ia rasa baru ia lihat. Setelan kaos abu gelap, celana jeans hitam dan kemeja flanel kotak kotak yang di dominasi merah dan abu abu. Ingin rasanya memuji kegantengan suaminya hari ini, tapi.. mulut itu terasa kelu karena penolakan - penolakan kecil yang entah karena apa tadi di rumah.
Mereka pun sampai di rumah sakit tanpa berbicara suatu apapun.
Sesampainya di depan kamar Ka Azqila. Suara anak kecil yang riuh mulai terdengar.
Hari ini memang ustadz Salman ada acara penting yang rasanya tidak bisa membawa anak.
Sementara itu Syamil menghentikan langkahnya membuat Laiqa bingung.
"Maaf aku hanya bisa mengantarmu sampai sini." Ujar Syamil dingin.
"Tapi yang.."
Laiqa merasa kebingungan terhadap perubahan hati suaminya.
"Aku akan menjemputmu jam 4 sore, bantulah yang perlu dibantu. Aku ada urusan mendadak."
Laiqa mencium tangan suaminya yang kemudian bergegas pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Rasanya ia tak sanggup melontarkan pertanyaan lebih jauh. Naluri kepatuhan seorang istri, dan perasaan takut mendominasi. Jauh di dalam hatinya ia sangat takut sudah melakukan kesalahan yang fatal yang bisa membuat suaminya berubah menjadi seperti ini.
Sementara itu Syamil langsung melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan parkiran rumah sakit.
Ia terus menyetir dengan cekatan di jam sibuk jalan raya, sesekali berhenti tapi tak sedikitpun sikap siaga itu menghilang menjadi lebih rileks saat roda mobil berhenti.
Sampai pintu tol ia mengambil jalur yang tidak disangka sangka. Ia terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah Bogor, tempat banyak perbukitan hijau dan tempat ia pernah belajar dahulu saat tingkat SMP. Suasana berubah sejuk terpantul di pupil matanya, beberapa bulir air mata tak terasa jatuh dari matanya. Ia mengusap itu dengan sigap, dan terus menyetir lebih kencang lagi.
Terkadang memilih pergi jauh saat ada masalah bukan karena kita tidak ingin bertanggung jawab dan lari dari masalah. Kita hanya butuh ruang renung lebih luas dari biasanya. Butuh energi lebih besar dari biasanya untuk bisa mencari solusi, untuk bisa menyelesaikan semua masalah dengan kepala dingin, dengan hati yang telah disembuhi sendiri oleh keadaan saat kita berlari. Menjumpai hal hal yang membuat kita bahagia, merasakan hal manis yang membuat kita memiliki lebih banyak tenaga untuk bersiap siap kembali, dan menyelesaikan segala hal yang belum selesai.
Kita butuh mewaraskan diri kita sendiri sejenak. Menjadikan ia lebih istimewa dari biasanya, sehingga kita percaya, bahwa diri kita mampu menyelesaikan semuanya.
Tibalah ia di sebuah makam yang begitu asri dikelilingi perbukitan. Tampak baru saja di tembok dan ditanami rumput Jepang. Ia jatuh terduduk disitu, menciumi batu nisan sambil menangis di dalam hati.
"Abi ..."
"Apa kabar .."
"Rasanya aku tidak mampu bertahan lagi.."
__ADS_1
Syamil tampak melihat ke sekeliling setelah menyeka air matanya. Ternyata udara yang sejuk, pepohonan yang cantik berjajar, dan hamparan rumput hijau tidak bisa juga menghibur hatinya.
Ia merapalkan doa untuk mendiang ayah yang selalu berhasil menguatkannya dahulu setiap ia ingin menyerah akan sesuatu.
Ia kemudian menceritakan keluh kesahnya kepada nisan itu.
Sampai seorang kakek tua berbaju kotak kotak putih dan celana gunung hitam menghampirinya.
"Tidak baik mengadukan kemarahan pada orang yang sudah meninggal.." ujarnya membuat Syamil sontak berdiri dan terkejut mendapati orang yang begitu ia kenal.
Itu adalah Pak Kosim, sahabat abinya yang kini sedang melihat matanya yang memerah khas orang yang habis menangis, atau lebih tepatnya marah.
"Pak Kosim.." Syamil mencium punggung tangan yang penuh dengan kerutan itu.
"Kenapa bapak ada disini?" Tanya Syamil. Pak Kosim tersenyum.
"Saya baru saja menjenguk almarhum pak Haji.." ujar Pak Kosim yang dimaksud tak lain tak bukan adalah mendiang abinya.
"Baru saja akan pulang tapi di perjalanan melihat kamu berjalan cepat menuju kesini tanpa melihat saya. Saya akhirnya memperhatikan kamu dari jauh.."
Syamil terlihat menunduk.
"Hayuk ikut bapak, belum lama ini bapak buka bisnis lesehan di sekitar sini. Kita makan siang bareng. Kamu suka kerang hijau kan?"
Syamil terperangah, ia merasa tidak enak sekaligus kagum dengan Pak Kosim yang sudah berani membuka bisnis.
"Masya Allah..beneran ada kerang hijaunya pak?" Syamil mencoba mencairkan suasana.
"Iya betul, bahkan ada udang asam manis, ada ikan bakar, dan sambel kesukaan almarhum juga ada. Lengkap, saya..memang membuat bisnis ini karena terinspirasi oleh Pak Haji."
Syamil mencoba mengikuti langkah Pak Kosim,sambil bertanya " maksudnya terinspirasi bagaimana pak?"
"Dahulu, pak Haji secara tak sengaja suka mencicipi masakan istri bapak, katanya rasanya sangat enak, beliau menyarankan kita menjualnya. Akhirnya kami buka katering kecil-kecilan. Waktu itu juga Pak Haji ngasih dua kambing untuk keluarga kami pas lagi mulai merintis bisnis, awal awal itu sangat susah, tapi lama kelamaan kambing mulai berkembang biak sampai kita bisa beli tanah disini, dan menawarkan katering kita di pesantren tempat kamu dulu belajar. Dari situ kita nabung hasil dari usaha katering, usaha jualan kambing sampai jadilah restoran ini.." Pak Kosim menunjuk Restorannya yang tak jauh dari parkiran pemakaman.
Matanya tampak berkaca kaca, ia seperti sangat berterima kasih.
Syamil memperhatikan restoran bertuliskan Saung Tepi Bukit itu, dengan berkonsep lesehan yang tertata rapi dihiasi banyak lampion warna warni dan bunga juga tanaman hias.
Mereka pun makan bersama, dengan makanan yang rasanya sangat memanjakan lidah, sambil terus mendengarkan cerita Pak Kosim tentang begitu banyak kebaikan yang pernah dilakukan almarhum abinya semasa hidup.
Hingga selesai makan Syamil bertanya berapa ia harus membayar banyak sekali makanan yang sangat lezat itu.
"Jadi ..berapa semuanya pak? Ini semua sangat lezat Alhamdulillah.."
__ADS_1
"O gausah..anggap saja ini sebagai hiburan agar kamu tidak sedih lagi"
Syamil terperangah sambil menggeleng "aduh..gabisa begini pak saya ga enak..nasinya sampai habis itu sebakul.."
"Udah nggak apa apa, memang sengaja supaya kamu kuat"
Syamil berdecak tak percaya, ia terus tak bisa berhenti tersenyum dan merasa tidak enak hati.
Saat ia akan salim setelah berterimakasih, Pak Kosim kemudian menggenggam kedua tangannya. "Ingat, tidak ada masalah yang tidak ada solusinya.." ujar Pak Kosim mencengkram dan menatapnya lurus lurus.
"Selesaikanlah semua masalah dengan kepala yang dingin." Ujar Pak Kosim lagi.
Kini Syamil mengangguk lalu menunduk, ia merasa memiliki sedikit hal yang akan menjadi alasannya mempertahankan pernikahan ini.
"Baik..terimakasih atas nasihatnya pak ..saya pamit"
Pak Kosim mengangguk lalu mengusap pundaknya.
"Kalian sangat mirip, saya jadi makin rindu sama almarhum..hati hati di jalan, jangan menyetir dengan luapan emosi..."
Syamil menelan ludah,menghela nafas dan mengangguk pasti. Ia kemudian pamit masuk ke mobilnya, melajukan mobil dengan perasaan yang lebih stabil, dengan otak yang terus berpikir rencana-rencana selanjutnya.
***
Syamil telah tiba di rumah sakit. Ia menghentikan langkahnya membuka pintu saat pembicaraan istri ustadz Salman itu membuatnya terhenyak. Kenyataan yang amat mengganggunya tentang Ahsan yang juga memiliki rasa kepada istrinya membuat ia mengurungkan niat untuk masuk ke dalam.
Ia melangkahkan kaki dengan cepat ke meja administrasi.
"Maaf pasien atas nama Ahsan Abdul Aziz ada di kamar nomor berapa?" Tanya Syamil kemudian.
"Maaf untuk pasien atas nama Ahsan Abdul Aziz belum dimulai jam besuknya.."
"Oh begitu.. kira - kira kapan bisa dijenguk?" Tanya Syamil.
"Sekitar satu jam lagi pak dari sekarang.."
"Baik terimakasih.."
Syamil kembali menuju parkiran dan melajukan mobilnya ke sebuah tempat.
Masalah ini benar-benar harus diselesaikan sebelum mereka pergi ke Madinah. Karena ia sangat benci dengan hal yang mengganggu fokusnya.
Ia ingin segera berakhir semua ini dan tidak ada lagi yang bisa meresahkan hatinya.
__ADS_1
Akhirnya ia sampai di sebuah toko buah modern yang amat besar. Ia segera turun dan bergegas masuk.
***