
[ Mimpi ]
Tripod dan kamera untuk kebutuhan promosi sudah terpasang rapih di depan tumpukan buku yang akan suaminya tanda tangani. Malam ini mereka akan membuat timelapse aktifitas suaminya menanda tangani 1000 lebih buku yang beruntung.
Laiqa merasa sedikit lelah, ia meluruskan kakinya bersandar di ranjang penuh buku itu, sementara menunggu suaminya selesai mandi.
Syamil kemudian datang dengan menggunakan setelan Koko rapih lengkap dengan peci untuk kebutuhan merekam nanti. Melihat Laiqa yang tertidur, Syamil segera menghampirinya mengelus rambut yang sedikit berantakan. Lalu tidur di pangkuan istrinya dengan manja.
Sesungguhnya ia sangat lelah, ia berpikir bisakah hanya ada dirinya saja di cerita hidup Laiqa. Tapi tentu saja tidak akan semudah itu.
Laiqa yang tersadar melihat suaminya tidur di pangkuannya terkejut sekaligus terpana dengan aura kesholehan yang dipancarkan suaminya tersebut. Ia berniat bangkit untuk bersih-bersih dan memakai pakaian lebih tertutup, tapi tangannya ditahan oleh Syamil.
Syamil tersenyum padanya.
"Bidadarinya aku mau pergi kemana..?"tanya Syamil.
Laiqa hanya tertawa, rasa lelahnya hilang begitu saja saat akhirnya ia duduk dan memilih membiarkan bibirnya dilumat bertubi-tubi oleh suaminya. Wajah yang ia tangkap sedang menciuminya terlihat amatlah lelah, tapi terus saja melakukan hal itu membuat ia berinisiatif cepat memijat kepala suaminya sambil terus berciuman.
__ADS_1
Perjalanan ke depan mungkin akan sangat berat, dan Laiqa sadar ia memiliki bahan bakar energi untuk melesat melewati segala masalah. Begitupun suaminya. Laiqalah energi terbesarnya di jalan berliku yang mengharuskan mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk melewatinya.
Meski selelah apapun, seberat apapun masalahnya, mereka harus senantiasa tidak lupa mengisi energi dengan bahan bakar ini. Bahan bakar yang didalamnya berhadiah banyak pahala saat mereka memakainya dengan baik.
***
Syamil El Fath tampak membereskan semua buku yang telah ia tanda tangani malam itu, memasukannya ke dalam kardus. Ia melihat istrinya yang tampak sudah lebih dahulu tidur di kasur. Ia membetulkan posisi tidur seseorang yang sangat ia cintai tersebut. Semburat kelelahan terlihat jelas di wajah imut itu.
Syamil memandangnya lama lalu tersenyum. Teringat betapa sigapnya tadi istrinya memasukan dengan rapih puluhan buku ke kardus. Ia kemudian bergegas duduk di samping Laiqa dan mencoba menarik selimut dan memejamkan mata.
Sampai tiba-tiba Laiqa bergerak dan bersuara lirih.
"Sebagai istrimu.." ucap Laiqa lagi.
Syamil memandang istrinya, dan tidak ada tanda tanda ia terjaga.
Mungkinkah istrinya sedang bermimpi. Ia merasa gemas, baru saja ingin mengusap kepalanya. Tapi tiba tiba kata kata yang amat menyakitkan itu menghentikan gerakannya.
__ADS_1
"Ahsan.."ucap Laiqa lagi kali ini dengan sedikit senyuman.
Syamil terperanjat, ia menatap istrinya yang masih tertidur itu mencoba mengingat apa yang baru saja ia dengar.
Ia pasti tidak salah dengar. Nafasnya seketika mulai memburu, ia memejamkan matanya sambil menghela nafas kasar. Merasa tidak percaya, dan beristighfar mendapati kenyataan bahwa selama ini masih terdapat banyak ruang di hati istrinya untuk orang lain selain dirinya ....
***
Pagi ini Syamil tampak berbeda dalam memandang istrinya. Itu dirasakan Laiqa saat sarapan. Bahkan Syamil menolak segelas susu yang ia berikan dengan alasan takut mengantuk saat menyetir nanti. Mereka sudah bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Setelah memacking semua buku di kardus-kardus besar untuk di angkut mobil pick up ke penerbit, Laiqa pikir Syamil akan tersenyum karena Laiqa telah membantunya mengangkat kardus yang lumayan berat itu.
Tapi wajah itu cenderung tidak memiliki ekspresi apapun.
Laiqa mencoba mencerna sikap suaminya, mungkinkah ini karena mereka akan ke rumah sakit? Tapi apa yang salah dengan itu? Toh Laiqa juga tak akan bertemu dengan Ahsan.
Tangan Syamil dan tangannya tak sengaja bersentuhan ketika sama-sama ingin mengambil kardus lainnya. Dan Syamil langsung menarik tangannya, juga sedikit menjaga jarak.
Melihat itu Laiqa sangat heran, sementara umi merasa lucu dengan kejadian itu.
__ADS_1
"Megang tangan istri kok kayak ga sengaja pegang akhwat asing, biasa aja kali dek..sama umi mah gausah malu gitu" ujar umi tertawa kecil.
Laiqa terpaksa tersenyum meski di dalam hatinya merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal.