
[ Betapa Hebatnya Rindu ]
Malam itu, Laiqa tahu suaminya mendekati dirinya ketika ia terpejam. Ada perasaan rindu yang luar biasa saat laki-laki itu mungkin saja akan menciumnya dan menjamahnya secara diam-diam.
Namun tidak terjadi. Syamil malah bangkit dan keluar kamar dengan cepat.
Sungguh ia tidak bisa percaya ada laki-laki yang tidak tergoda dengan apa saja yang ia pakai malam ini. Ia sebenarnya pura-pura tertidur.
Laki-laki itu kini masuk kamar lagi setelah beberapa menit, mungkin ia telah makan sesuatu di ruang makan, ia datang sambil membawa beberapa iris buah yang diletakan begitu saja di meja kerjanya.
Laki-laki berbadan tegap dengan postur proporsional itu duduk di sebuah bangku tepi jendela yang di luar terdapat kolam ikan dan beberapa tanaman hias.
Memurojaah beberapa hadist dan surat Al Mulk, kebiasaannya ketika akan tidur. Karena Fadhilah dari Al Mulk itu sendiri jika dibaca sebelum tidur akan mendapatkan cahaya kelak di liang kubur ketika kita telah tutup usia.
Beberapa lama kemudian suara yang amat merdu itu hilang, dan bahkan suaminya sampai tertidur di tempat itu.
__ADS_1
Laiqa bangkit menghampirinya, menatapnya tak percaya. Ia melepas kacamata yang terpasang di wajah laki-lakinya itu secara perlahan.
Tidak ada pergerakan apapun dari suaminya. Tapi kemudian suaminya terperanjat kaget saat Laiqa meletakan bantal di belakang kepalanya dengan posisi seperti akan memeluknya.
Mereka saling menatap, Syamil bahkan tak bisa berkedip melihat pemandangan yang sangat indah itu. Meskipun ia tak memakai kacamata, ntah kenapa semua itu seperti sangat jelas.
"Seberdosa itukah aku, ka?" Tanya Laiqa tiba-tiba sambil melihat seluruh badannya dari atas sampai bawah
"Maksud kamu?"
Syamil menelan ludah, matanya seperti terhipnotis masuk ke tatapan dalam yang ditampilkan istrinya.
Laiqa kemudian duduk dengan rapih di hadapannya. Tepat di ujung kakinya. Ia yang melihat itu langsung bergerak duduk di samping akhwat itu secara perlahan. Mungkin hatinya sedikit luluh.
"Aku cukup syok saat qodarullah pernikahan tidak terjadi antara aku sama dia.. cukup lama terpuruk dan menjadi seseorang yang seperti bukan diriku."
__ADS_1
"Setiap hari aku meminta agar Allah putuskan rasa ini, dan mengirimkan aku calon imam pengganti terbaik menurut kacamataNYA. Dan lihat, Allah benar-benar mengirimkan Kaka untukku .."
Laiqa mengelus pahanya dengan lembut dan itu sangat membuat bulu kuduknya meremang.
"Aku yang tidak tau apapun tentang kakak. Tapi pernikahan begitu mudah terjadi, seperti segala sesuatu adalah tanganNYA yang membuatnya terjadi."
"Aku tak pernah menunggumu.. dan kamu tak pernah sengaja datang, tapi kita dipertemukan..dengan cara Allah, dan tidak ada lagi alasan untukku pergi ke tempat manapun, atau kepada siapapun.." ujar Laiqa kini menatapnya lagi dengan tatapan yang begitu cantik. Tanpa sadar seperti ada yang menarik dirinya mendekati akhwat itu. Ia hanya tau pasti, bahwa saat ini dirinya sedang sangat ingin mengecup bibir yang mungil dan basah karena berbicara sejak tadi.
Laiqa membalas kecupan lembut yang ia berikan, hal yang sangat lembut itu berubah menjadi pagutan yang sangat terburu-buru di saat Laiqa terus mengelus pahanya. Sampai mereka hampir terjatuh dan membuat jendela dibelakang mereka itu terbuka.
"Sayang kamu .. kangen kamu ..." ucap Syamil lirih sambil menatapnya dalam.
"Alhamdulillah akhirnya aku bisa mengambil hati kamu lagi.." ucap Laiqa tersenyum. Syamil kemudian dengan cepat mengangkatnya dan meletakkannya dengan lembut di atas ranjang.
"Sayang.." ucap Laiqa saat laki-laki itu baru saja akan menciumnya kembali. "Tidak ada lagi cerita tentang dia. Hanya ada tentang aku dan kamu, hanya kita." Ujar Laiqa kemudian langsung mengambil alih posisi. Suaminya masih terkejut saat hal itu terjadi. Ia tidak percaya malam ini adalah malam yang akan memberikan dirinya pengalaman pertama merasakan betapa hebatnya istrinya memuaskannya dari posisi atas sana. Dan itu bukan kehebatan yang kosong, tapi dilandasi dengan rasa rindu dan cinta yang selalu ia pinta kepada Allah tumbuh di hati istrinya untuknya.
__ADS_1
***