Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 2


__ADS_3

Apakah menjadi ibu itu mudah?


"Afwan Laiqa.. biar Fattah sama saya. "


Tiba-tiba dosen mudanya datang, berucap seperti itu kemudian segera berjongkok dan memandang Fattah, punggung anak itu diusapnya dengan lembut


"Mau apa nak? mau dibersihin ya? ntar abi bersihkan ya..."


Laiqa diam seribu bahasa. Ia hanya terpana.. kenapa ada laki-laki sesempurna dosennya. Wajah ramah, suara lembut, sabar dan penyayang.


Astagfirullah, mikir apa dia, ga seharusnya akhlaq seperti itu muncul pada guru yang selama ini ia hormati.


"Afwan saya pamit ustadz..Assalamu'alaykum.."


"Tunggu.. tolong jaga rahasia ini ya.."


"Maksudnya ustadz..?"


"Azqila sedang terganggu mentalnya karena kehamilan ketiga ini, hanya saya dan kamu yang tahu.. ia sedang mengalami baby blues dan skizofrenia.. kamu mengerti?"


Laiqa menelan ludah, sambil mengangguk pelan.


Ustadz Salman langsung menuntun Fattah menuju toilet,setelah mengucapkan salam padanya. Anak kecil itu sudah berhenti menangis dan mencoba menuruti arahan abinya untuk membersihkan diri di toilet.


Apa yang terjadi, wanita sesempurna kak Azqila, lulusan psikologi, kemudian bersuamikan Ustadz Salman yang sangat sabar bisa mengalami gangguan mental ?


****


Sesampainya dirumah, Salman membanting pintu setelah mengucap salam. Sunyi, sedang di kamarnya Azqila sedang menangis ketakutan tanpa suara. Salman dengan cepat meletakan Fattah yang telah tertidur tadi di taksi online, di kamar anak.


Kemudian ia bergegas menuju kamarnya, ditemukan istrinya sedang memendam wajahnya di bantal besar. Ia duduk di depan istrinya sambil menghela nafas.


"kenapa seperti ini terus?, aku udah bilang kan jangan marahin anak-anak dan jangan nangis.."


"kenapa? abi malu !?"


"pikiran kamu itu kemana sih?!" suara lembut itu mulai meninggi, hal yang paling ditakutinya adalah kemarahan orang yang paling sabar dalam hidupnya. Ia tau Salman hanya tak ingin ia lemah dengan menangis, tapi kekuatan itu tak juga ditemukannya.


"wanita sholihah itu mampu menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, apa yang kamu cari ? gelar S2? kebebasan? cukup taat, dan buat suami ridho, insyaAllah surga untuk kamu.. "


"bisa ya abi ngomong gitu, kurang taat apa aku sampai akhirnya kehamilan ini terjadi, mana janji abi yang dulu ketika Faiza lahir ? !"


"pantas nggak kamu berbicara dengan nada seperti itu sama suami? ... ya Allah umi..." Salman mengusap wajahnya.


"Gapantas! iya aku ga sholehah puas?!" Azqila terus bercucuran air mata. Di sudut tempat tidur bayinya menangis kelaparan


"umiii...!" seru Salman, bangkit lalu segera menimang nimang Faiza. "tolong susuin dedek dulu"


Azqila mengambil alih bayinya dengan kasar, lalu mengancam Salman "aku banting nih ...!" pelototnya, segera Salman mengucap istighfar dan memeluk istrinya.


"Umi.. umi capek ya? apa kita perlu ke dokter sekarang ?"


Azqila mendekap Faiza yang kini telah minum asinya, sambil menangis dipelukan Salman.


Kamu memang lelaki tersabarku, maafkan aku dan penyakitku ini.. sayang. Ucap Azqila di dalam hati.


****


Ting !


Maafin kakak, Laiqa.. tadi harusnya kakak nggak ngomong seperti itu sama kamu..


Laiqa melirik pesan whatsapp yang terbuka dari Kak Azqila. Ia terdiam lalu segera memencet ikon telpon di pojok kanan atas.

__ADS_1


"Assalamualaykum Ka.."


"Waalaykumsalam ... "jawab suara diseberang tanpa semangat.


"Gimana kabarnya ka? Kaka udah mendingan? Tadi kata ustadz Salman kakak sedang nggak enak badan.." ucap Laiqa berbohong.


"Ukhti... mungkin cuma kamu satu-satunya yang bisa menolongku..."


"Masya Allah, maksud kakak apa? tentang penggantian guru untuk kelompok kita kah ka??" seruduk Laiqa seperti biasa dengan sifat kritisnya.


"Iya itu juga, kamu siapkan saja materinya... InsyaAllah urusan birokrasi sama pemimpin dakwah kakak dan suami yang urus"


Laiqa mengangguk, seperti biasa ia selalu sami'na wa atho'na, saya dengar saya taat.


"Tapi juga tentang Fattah dan Faiza.." lirih suara itu dan,


Brukk..


Terdengar seperti suara hape yang jatuh. Dan Azqila berhenti bicara.


"Kak? Kakak??" Laiqa tidak tau apa yang terjadi sampai ia mendengar seruan istighfar Ustadz Salman.


"Astagfirullah umi!! Umi kenapa? Bangun mi!"


"Kakak kenapa ka?" susul Laiqa di hapenya.


"Dia pingsan, afwan tolong kamu pergi ke rumah sakit Pasar Rebo sekarang, untuk jaga anak saya selama saya bawa uminya ke dokter"


"Tayyib Ustadz..."


****


"Abang Fattah..." bisik Laiqa menghampiri anak gemas itu yang sedang memandang ibunya masuk ke ruang igd.


"umi sakit tuu" tunjuknya, sementara pintu di tutup dan Ustadz Salman pamit sebentar sambil menggendong Faiza dengan kedua tangannya tanpa kain gendongan.


"iya lho.. abang kan do'a sama Allah " mulutnya dimonyongkan dengan ekspresif ketika menyebut nama Allah.


Laiqa tersenyum haru


"emang abang do'a apa?"


"abang kan do'a , ya Allah semoga abi umi banyak rezekinya aamiin"


"masya Allah...rezeki sehat ya, rezeki berlimpah buat abang sama adik ya...?"


"iya dong, abang kan mau dibeliin abi obilll(mobil mainan)"


Laiqa tertawa, ia cubit pelan pipi gembil bocah berambut gondrong dan berponi itu.


"Sekarang abang sama Ammah Laiqa dulu ya sampai umi sembuh"


"oh okey ! itu ide bagus"


Laiqa menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum seraya mengusap kepala anak itu.


****


Dini hari, Azqila terbangun, ia meraih handphone di meja kecil sebelah ranjangnya di kamar rumah sakit itu. Ia mulai membuka aplikasi Diary Online dan mengetik dalam kesunyian.


Dear Allah...


Tepat disampingku ia tertidur, semalaman ia telah menjagaku dan bayi kita. Suamiku, Salman.. waktu telah menunjukan pukul 04.15 . Aku tahu, ia belum melaksanakan sholat isya, seperti biasa, seperti hari hari selama beberapa tahun ini, mungkin itu yang terus membuatku depresi, stress, putus asa, patah arah dan merasa malu di hadapan engKau wahai Allah... Aku takut semua istidraj ini, segala kemudahan yang telah Kau limpahkan kepada keluarga kami, suatu saat entah kapan akan kau balas dengan azab nan pedih.

__ADS_1


Jemari itu bergetar. Ia tutup aplikasi Diary Onlinenya, lalu meletakan handphone nya di meja.


"Abi..." ia menyentuh lembut lengan suaminya, beberapa detik kemudian menggoyangkannya. Seorang Ustadz yang dihormati, dan telah bersanad itu ternyata adalah orang yang sering lalai dalam sholatnya, jika sedang berada di dalam rumahnya sendiri.


"Abi... udah mau shubuh.. Bangun.."


"Hemmm" Salman hanya menggumam, alarm di hapenya kembali berbunyi.


"Bi...bangun bi"


Kelakuan seperti itu sangat membuat Azqila sesak, seakan belum bisa menerima bahwa suaminya adalah orang yang seperti itu. Salman terlihat sempurna di depan para mahasiswa, para da'i, keluarga besar mereka dan rekan-rekannya. Tapi ketika hanya ada Azqila, sifat aslinya muncul dan belum berubah hingga sekarang.


10 menit sebelum adzan shubuh seperti biasa suaminya terbangun, tangisan bayi Faiza menambah suasana riuh. Azqila yang masih lengkap dengan infusan mulai menyusui Faiza, sambil terus meratap kepada gerakan sholat Salman yang terburu-buru di sudut kamar.


Ahli Fiqih itu, telah menciptakan penyakit yang besar di dalam diri istrinya sendiri, tanpa ia sadari.


Seusai membaca dzikir pagi,


Tiba-tiba ia teringat anak pertamanya di rumah, katanya Fattah dijaga oleh Ahsan ketika malam. Ia langsung mengambil hape untuk menanyakan kabar Fattah lewat telpon.


"Assalamualaykum Fattah..."


"Waalaykumsalam.. umii, umi udah sembuh ya?!"


"Doain ya sayang..kamu udah makan belum?"


"Udah dong, abang makan tahu!"


"Wah masyaAllah hebat abang." pujinya, segera bocah itu terdengar terkekeh, lalu berteriak senang.


"Umi nanti abang kan mau ke dokter ketemu umi" selorohnya


"Ohya?"


"Uhun teh (iya kak) kusabab simkuring aya kelas poe ieu..(Karena saya ada kelas hari ini)"


"oh uhun atuh... kadieu wae..hatur nuhun nyak .."


****


Azqila muntah-muntah lagi, Alhamdulillah abis dzuhur Laiqa mengunjunginya seusai kuliah dan membantu menjaga Fattah.


Bagaimana ya... aku tidak enak dengannya, tapi dia sudah mengetahui aibku


" Abang suka ya main sama Ammah(tante) .."


Laiqa tersenyum melihat reaksi abang Fattah yang loncat dan berlarian kegirangan sampai mencium tembok karena tidak memiliki rem yang pakem.


Gadis itu memeluk Fattah yang menangis kesakitan.


"Tidak apa kuat..." ucap Laiqa sambil mengusap kepala anak laki-laki bergigi ompong itu


"Laiqa ... aku boleh minta tolong sekali lagi?"


"Apa ka?"


"Aku dengar kamu sedang butuh uang... maukah kamu jadi baby sitter Fattah... aku akan bayar per jam. 30 rb cukup?"


Laiqa terdiam, seolah mendapati dirinya yang hampir masuk jurang, lalu ada helikopter yang terbang diatasnya mengulurkan tali. Memang seperti badai yang menyambar kata kata Azqila itu, seperti angin baling-baling helikopter yang bising, tapi itu benar-benar pertolongan Allah.


Ia memang sedang butuh uang.


"Aku akan kabari secepatnya jawabanku ka...mohon beri aku waktu .."

__ADS_1


Ada yang harus ia pastikan, yakni ridho orang tuanya.


****


__ADS_2