
[ The Day ]
Berselang 3 hari kemudian. Hari ini hari resepsi pernikahan Laiqa. Gadis bergaun rosegold itu memandang jendela besar yang terletak di masjid berarsitektur modern. Menatap dirinya yang merasa menjadi manusia paling tega.
Tentang rasa, hanya dia yang mengetahuinya bahwa semata-mata calon suaminya hanyalah tempat pelampiasan belaka.
Ia memejamkan mata, tak ada salahnya. Cinta itu akan tumbuh.
Semua akan baik-baik saja. Bismillah... Ia niatkan semua untuk beribadah kepada-Nya.
Laki-laki baik.
Tidak baik untuk disiakan.
**
Semua syukuran semanis yang ia bisa, silaturahim dan prosesi jamuan sudah selesai. Kini ia berada di sebuah rumah nan megah. Namun tetap syahdu dihiasi rerimbun daun hias dan beberapa kolam ikan. Tak ada furniture mewah, didominasi kayu dan khas desain Compact yang simple dan multifungsi.
Ini adalah rumah mertuanya. Hari ini lebih berbunga karena sengaja dirias untuk menyambutnya. Jam menunjukan pukul 19.30. Para laki-laki, kakak ipar dan termasuk suaminya baru saja pulang dari Masjid. Ibu mertua menghampiri Laiqa lalu mengelus punggung tangannya yang sedang fokus mengelap piring di meja.
"Kembalilah ke kamar Syamil..mungkin ada yang ingin dibicarakan."
Laiqa menyimak ibu mertua sambil menunduk.
Ibu mertua tersenyum.
"Pakailah sedikit lipstik.."
__ADS_1
Laiqa hanya bisa tersenyum kecil.
**
Ia membuka pintu kamar dengan lemari besar yang langsung menyambutnya di sisi kanan.
Berjalan menghampiri dia yang sedang asyik di depan laptopnya.
"Makan malam masih setengah jam lagi.." ucapnya sangat tidak romantis bagi Laiqa.
Air wudhu yang masih bersisa di pelipisnya Laiqa coba elap dengan tissue.
Suaminya senantiasa menjaga wudhunya. Ia pasti baru saja wudhu, karena mana mungkin sholat isya menyisakan air wudhu yang sebanyak ini. Dan Laiqa mengangguk, itu tidak aneh untuk seorang ahlul Qur'an seperti suaminya.
Tapi...
Mungkinkah ini sesuatu yang mendebarkan untuk suaminya..
Suaminya memegang telapak tangannya, memandangnya tersenyum dan mencium tangannya lembut.
"Kamu capek?"
Laiqa menggeleng meskipun ingin sekali ia mengatakan yang sebenarnya. Suaminya berdiri lalu berniat melepaskan peniti di jilbabnya. Tapi Laiqa menahannya.
"Kakak..sedang menulis apa ?"
Syamil, laki-laki tampan berkaca mata itu terdiam sejenak dan tersenyum.
__ADS_1
"Itu buku pertama, insyaAllah sebentar lagi launching. Lagi proses edit sedikit. Doain ya ..."
Syamil menggenggam tangan halus gadis yang mengangguk perlahan itu. Ia sedikit kecewa dengan sikap yang baru saja dilakukan Laiqa. Sudah lebih dari tiga hari dengan kesibukan yang mereka berdua lakukan, Laiqa belum juga ingin membuka jilbabnya.
Ia pun kembali menatap laptopnya.
"Maaf.. bukan maksudku menyinggung kakak.."
Tidak ada jawaban.
Hening.
Hanya ketikan suara keyboard.
Lalu dengan penuh rasa bersalah Laiqa mulai memijat pundaknya pelan. Itu membuat rasa kecewa itu berubah menjadi kerinduan.
Laki-laki akan selalu luluh dengan sentuhan. Terlebih telah lama ia menunggu saat-saat dimana ada seorang kekasih halal yang menyentuh dan membelainya dengan penuh kelembutan.
Beberapa bulu kuduknya meremang, rasanya ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Namun, entah apa yang membuat diantara dirinya dan istrinya itu seperti masih terdapat sebuah benteng besar yang memisahkan.
"Baiklah, bagaimana kalau setelah ini kita membuka hadiah terlebih dahulu?" Ujar Syamil kemudian.
Laiqa mengangguk sambil tersenyum, dan itu sangat manis, ingin rasanya Syamil mencicipinya saat itu juga. Tapi, gadis itu selalu seolah membuat jarak.
Dan pintu pun diketuk. Waktunya makan malam.
**
__ADS_1