
Setelah kedua orang tuanya meninggalkan apartemen, maka Luna hanya bisa menerima takdirnya ketika seorang pria memasuki apartemen lalu tatapan mereka bertemu, karena saat itu Luna sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
"Itu,, aku sudah menyiapkan makan malam," ucap Luna dengan kikuk sambil berdiri untuk pergi bersama pria itu ke meja makan.
Tetapi Amsterdam berkata, "aku akan mandi terlebih dahulu."
Ucapan pria itu langsung diangguki oleh Luna, lalu Luna membiarkan Amsterdam masuk ke kamarnya sementara Luna kembali duduk di sofa sambil menatap ke arah TV.
'Aku sangat gugup,' ucap Luna dalam hati yang jelas tahu bahwa jika pria itu benar-benar berniat macam-macam padanya, maka tidak akan ada yang menolongnya sebab Ayah dan Ibunya telah pergi ke kampung.
Tetapi dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan berpikir bahwa Amsterdam tidak mungkin merupakan pria yang berotak kotor dan jahat.
Jadi dia terus menghilang nafas untuk menenangkan dirinya sendiri sampai akhirnya pintu kamar Amsterdam terbuka.
Clek!
__ADS_1
Luna langsung berdiri mematikan TV lalu perempuan itu kemudian berjalan ke arah ruang makan agar mereka berdua bisa makan bersama.
Sambil makan, Luna sesekali melihat ke arah Amsterdam dan dia sangat-sangat gugup pada pria itu, serta ada juga ketakutan jika pria itu tiba-tiba saja menyerangnya.
"Apa kau sudah mengganti perbanmu?" Tanya Amsterdam langsung dijawab gelengan kepala Luna sebab Dia lupa melakukannya karena terlalu sibuk untuk menyiapkan makan malam, dan terlalu gugup memikirkan kedatangan pria itu ke apartemen.
"Aku akan membantumu setelah makan malam," ucap Amsterdam diangguki oleh Luna karena entah kenapa dia begitu sulit mengucapkan sepatah kata pun setelah menyadari bahwa dia akan menghabiskan beberapa hari bersama pria itu tanpa pengawasan dari orang lain.
"Makan malam ini sangat enak, kalau memasaknya dengan sangat baimk, jadi biar aku yang membereskan semua piring kotornya," ucap Amsterdam ketika mereka selesai makan malam, dan Luna menatap pria yang berjalan ke wastafel sambil membawa piring kotor mereka.
Amsterdam tidak mengatakan apapun, tetapi pria itu cepat-cepat menyelesaikan acara bersih-bersih piringnya lalu mengelap tangannya yang basah dan pergi menghampiri Luna yang sudah duduk di sofa sambil menunggunya.
"Tunggu sebentar," ucap Amsterdam berjalan ke dalam kamarnya dengan Luna yang memperhatikan pria itu.
Dia tidak mengatakan apapun dan hanya dia menunggu pria itu sampai akhirnya Amsterdam kembali menemuinya dan memberikan sebuah paper bag.
__ADS_1
"Ini untuk mu," ucap Amsterdam mengejutkan Luna karena tidak menyangka akan mendapat hadiah dari pria itu.
Tetapi Luna tetap mengambil paper bag itu dan melihat isinya bahwa ternyata itu adalah sebuah handphone.
Maka perempuan itu mengerjapkan matanya dan kemudian menatap Amsterdam dengan tetapan bingungnya, sebab tak menyangka pria itu akan memberikannya sebuah hp.
Amsterdam tersenyum, "aku tahu selama ayah dan ibu pergi ke kampung Kau pasti akan merasa bosan di sini, karena aku juga akan bekerja sepanjang hari, jadi aku membelikan mu ponsel itu supaya bisa mengurangi sedikit rasa bosanmu. Ahh,, aku juga sudah menyimpan nomor ponselku di dalam hp, jadi kalau kau kangen padaku kau bisa meneleponnya." Ucap Amsterdam dengan percaya diri membuat Luna langsung menunduk tersenyum malu mendengar ucapan pria itu.
Setelah beberapa saat tertunduk sambil tersenyum, perempuan itu kemudian mengangkat lagi wajahnya menatap Amsterdam lalu berkata, "itu, Sebenarnya aku merasa sangat tidak enak padamu karena keluargaku sudah sangat banyak membebanimu. Kau memberikan kami tempat tinggal di ibukota, membiayai semua keperluanku di rumah sakit dan juga meluangkan banyak waktumu untuk kami. Jadi--"
"Jangan merasa terbebani," Amsterdam menyela ucapan Luna, "Aku calon suamimu, jadi aku harus melakukan semua itu. Ahh,,, nanti kalau kau butuh sesuatu yang lain Kau bisa mengatakannya padaku." Ucap Amsterdam benar-benar membuat Luna tak mampu berkata-kata, jadi perempuan itu hanya terdiam saja lalu melihat pria itu kemudian mengambil P3K untuk mulai mengganti perban di lehernya.
'Aku takut kalau aku membantah ucapannya, dia akan marah,' ucap Luna dalam hati yang sebenarnya takut kalau pria itu marah lalu melakukan hal buruk terhadapnya Karena bagaimanapun dia masih merasa begitu asing pada pria di depannya.
@info
__ADS_1
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️