Istri 1 Milliar Tuan Muda

Istri 1 Milliar Tuan Muda
54


__ADS_3

Luna terbangun di pagi hari, dan perempuan itu mendapati dirinya sedang berada di pelukan suaminya.


Meski dia masih merasa canggung dengan pelukan itu, tetapi dia tetap bertahan dan membiasakan diri hingga perempuan itu tersenyum lalu dia kemudian berbalik menatap suaminya.


"Apa kau sudah bangun?" Langsung membuat Amsterdam membuka matanya dan menatap perempuan yang ada di pelukannya.


"Hari ini hari libur, jadi aku tidak bekerja. Kita tidur 10 menit lagi baru bangun," ucap Amsterdam kemudian mempererat pelukannya pada istrinya, lalu pria itu memejamkan matanya untuk menyambung tidurnya selama 10 menit lagi.


Tetapi perempuan itu hanya ikut memejamkan matanya dan dia berusaha untuk tertidur.


Sementara itu, di luar kamar ines sudah bangun sejak tadi dan perempuan itu sudah selesai memasak, sudah selesai membersihkan dan dia sedang duduk di depan TV sambil menonton dan menikmati susu coklat yang ia buat.


"Aku sudah 3 hari berada di kota, tapi belum pernah lagi bertemu dengan Anggara." Ucap perempuan itu yang merasa cemas Jika saja 1 bulan telah berlalu Tetapi dia belum dekat dengan Anggara dan dia harus dipaksa untuk pulang menikah dengan pria bernama Sarimin.


Jadi, perempuan itu menatap ke arah pintu kamar Luna dan melihat bahwa tidak ada tanda-tanda kedua penghuni kamar itu sudah bangun.

__ADS_1


Maka, Ines hanya bisa menghela nafas dan duduk sambil melihat ke arah TV meski pikirannya sedang melayang-layang memikirkan Bagaimana caranya dia berbicara dengan Luna supaya perempuan itu mau membantunya untuk bertemu lagi dengan Anggara.


Cukup lama berpikir, akhirnya pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Luna dan Amsterdam sudah keluar, lalu kedua orang itu berjalan ke arah meja makan dengan ines yang langsung berlari menyusul mereka.


Ketiga orang itu pun sarapan bersama dan di tengah-tengah sarapan ines tidak tahan untuk berbicara, "itu,,, kak Anggara Apakah dia tidak akan pernah datang lagi kemari?"


Pertanyaan Ines langsung membuat Luna menatap ke arah suaminya karena tentunya dia tidak tahu menahu tentang Anggara, dan suaminya lah Yang sering bertemu dengan pria itu.


Melihat tatapan istrinya, maka Amsterdam kemudian berkata, "aku memindahkannya untuk bekerja di kantor karena seseorang baru saja memasukkan surat pengunduran dirinya."


Ines langsung memperlihatkan wajah kecewanya, "Itu,, jadi aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya?" Ucap Ines sambil menghela nafas dan wajah perempuan itu menjadi murung sambil berusaha menikmati makanan di hadapannya yang sudah tidak enak lagi.


Mendengar ucapan istrinya, maka Anggara mengerutkan keningnya karena awalnya dia berpikir bahwa perempuan itu berusaha mencari kesempatan untuk dekat-dekat dengannya, tapi ternyata malah menyukai orang lain.


Maka Amsterban berpikir jika dia kemudian menyuruh perempuan itu bekerja bersama Anggara dan mencarikan mes untuknya maka perempuan itu tidak akan mengganggu kebersamaannya dengan istrinya.

__ADS_1


Oleh sebab itu, Anggara kemudian berkata, "Bagaimana kalau kau bekerja sebagai asisten Anggara dan kau bisa tinggal di mess perusahaan?"


Ucapan Amsterdam langsung membuat ines bersemangat menatap kakak iparnya sambil berkata, "benarkah? Aku menjadi asisten, itu artinya aku bisa dekat-dekat dengan Anggara?"


Pertanyaan Ines langsung diangguki oleh Amsterdam hingga membuat Inez merasa sangat senang, tetapi kemudian perempuan itu berhenti tersenyum saat dia kemudian teringat sesuatu.


"Tapi,,, aku tidak bisa jauh-jauh dari Kak Luna, karena aku tidak tahu apapun di kota. Jadi kalau aku tidak tinggal satu rumah dengan Kak Luna,, Aku khawatir." Ucap ines yang merasa bahwa dia tidak bisa meninggalkan Luna sebab Dia sendiri bahkan belum pernah menaiki lift dan tidak tahu cara menggunakan lift.


Amsterdam yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya, dan dia hendak berbicara Ketika istrinya mendahuluinya berbicara.


"Biarkan saja dia tinggal di sini bersama kita, lagi pula hanya satu bulan saja. Nanti kalau dia sudah terbiasa dengan keadaan di kota Baru lah boleh mengizinkan dia tinggal sendirian." Ucap Luna yang sebenarnya takut jika saja perempuan itu malah dijebak seperti dirinya yang lalu dan dimanfaatkan oleh seseorang.


Melihat istrinya yang mencemaskan Ines, maka Amsterdam tidak bisa mengecewakan perempuan itu hingga Dia kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu mulai besok kau akan berangkat bersamaku ke kantor dan bekerja sebagai asisten Anggara," ucap Amsterdam langsung membuat ines bersorak kegirangan dan dia merasa sangat senang.

__ADS_1


@info


Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️


__ADS_2