
Karena terlalu lama menangis sebab ketakutan mendengar suara tangisan Luna, maka Debora juga akhirnya pingsan hingga suaminya membawa perempuan itu ke ruangan lain untuk merawat perempuan itu.
Clarissa juga ikut menemani kedua orang itu, Bahkan dia hanya sendirian saja menemani Debora karena saat itu Vicky sedang pergi ke supermarket untuk membeli perlengkapan bagi mereka.
Sementara duduk menemani Debora, Clarissa menggigit kukunya dan dia begitu cemas jika nanti setelah sadar Debora benar-benar tidak lagi menentang pernikahan Luna dan Amsterdam Karena rasa bersalah perempuan itu.
'Pokoknya, aku tidak boleh kehilangan kesempatan untuk menikah dengan Amsterdam, karena dia satu-satunya pria yang aku sukai dan pria yang paling sempurna untuk dinikahi!!!' ucap perempuan itu dalam hati dan kini dia benar-benar cemas.
Beberapa saat terus berada dalam kecemasannya akhirnya, Clarissa memutuskan untuk kembali lagi ke kamar di mana Luna dirawat untuk memastikan keadaan di sana.
Begitu tiba, Dia mengintip dari pintu yang ia buka sedikit dan melihat bahwa ternyata perempuan itu sudah tenang, tetapi yang membuatnya merasa sangat kesal ialah ketika dia melihat bahwa perempuan itu tenang di dalam pelukan Amsterdam yang mana keduanya tidur sambil berpelukan.
__ADS_1
Hal itu sangat membuatnya marah dan cemburu hingga ia menggertakkan giginya Lalu dia pergi dari tempat itu dengan perasaan yang amat kesal.
"Lho, Clarissa?" Tiba-tiba ucap seorang pria dari belakang Clarissa membuat Clarissa berbalik dan ternyata itu adalah temannya di SMA yang mana pria itu menyukainya dan sekarang pria itu telah menjadi dokter.
"Bima?" Ucap Clarissa yang terkejut melihat pria itu dan tentu saja dia juga memperhatikan penampilan pria itu yang ternyata memakai setelan dokter lengkap dengan tanda pengenal yang ada di dada sebelah kirinya.
"Tidak menyangka kita bertemu di sini, tetapi Apa yang membuatmu berada di sini?" Tanya Bima semakin mendekati Clarissa dan terlihat jelas pada raut wajah pria itu bahwa dia sangat menyukai Clarissa.
Bima langsung menganggukkan kepalanya, "aku dokter jaga di sini, tapi jam kerjaku hanya sampai 2 jam saja, Lalu setelah itu aku akan berganti shift dengan salah satu rekan kerja aku lainnya." Ucap Bima dengan raut wajah yang bangga karena tentunya tidak sembarang orang yang akan bekerja di ruangan VIP.
"Ahh,, semoga kerjamu berjalan dengan lancar. Oya, bisakah aku meminta nomor teleponmu kalau nanti ada sesuatu yang aku butuhkan dan mungkin aku bisa meminta bantuanmu sedikit," ucap Clarissa langsung diangguki oleh Bima, lalu kedua orang itu kemudian bertukar nomor telepon dengan Clarissa yang langsung kembali masuk ke dalam ruangan tempat Debora di rawat.
__ADS_1
Clarissa menatap nomor ponsel yang baru saja ia ambil, lalu perempuan itu berpikir-pikir selama beberapa saat sampai akhirnya Vicky sudah kembali membawa barang belanjaan yang dibutuhkan oleh mereka semua di tempat itu.
"Biar aku yang membuat makanan untuk kita semua," ucap Clarissa langsung dianguki oleh Vicky, lalu perempuan itu kemudian pergi ke dapur untuk memasak.
'Kalau sekarang aku membuat masakan, selalu menaruh sesuatu di sana dan membawakannya pada Luna maka itu akan menyelesaikan masalahku. Tapi masalah baru akan timbul karena aku pasti akan diselidiki oleh polisi karena makanan yang kubuat,' ucap perempuan itu sembari menyertakan giginya dan dia merasa kesal karena belum menemukan cara untuk menyingkirkan Luna.
Sembari dia memasak, perempuan itu terus berpikir-pikir bagaimana cara yang tepat untuk melakukan sesuatu agar Amsterdam dan Luna bisa berpisah.
@info
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️
__ADS_1