
Situasi sangat panik apalagi ketika melihat bahwa keadaan Luna semakin memburuk.
Sementara dia berada dalam kepanikan, Debora juga terus berusaha menghubungi putranya, namun saat itu karena berada di dalam lift maka panggilan tidak masuk ke ponsel Amsterdam sebab tidak ada sinyal dalam lift.
Ting!
Ketika keluar dari lift, Amsterdam berjalan ke arah kamar Luna bersama dengan seseorang yang mengikutinya di belakangnya.
Ketika masuk ke dalam kamar Dia sangat terkejut melihat para suster yang sedang panik dan ibunya yang juga sangat panik menelpon seseorang.
"Cepat kemari menantumu dalam keadaan gawat!!!" Teriak Debora pada orang di seberang telepon dengan suara perempuan itu yang sangat cemas.
Sementara Amsterdam, dia langsung berjalan ke sisiranjang diikuti oleh pria yang bersamanya yang langsung menyingkirkan para dokter dan pria itu segera memeriksa keadaan Luna.
"Apakah anda dokter?" Tanya seorang suster di sana ketika dia melihat pria itu segera membuka sebuah tasnya dan mengambil beberapa peralatan dari sana.
"Siapkan defribrilator!!!" Bentak pria itu pada para suster membuat suster merasa sangat ragu untuk melakukannya karena tentunya mereka belum mengetahui identitas pria itu.
Tetapi ketika Amsterdam melihat keraguan para suster itu maka dia langsung berteriak, "cepat lakukan!!!"
Teriakan Itu otomatis membuat salah satu suster kini cepat-cepat bergegas mengambil alat itu dan menyiapkannya.
Sementara pria yang datang bersama dengan Amsterdam, dia langsung menyambungkan alat pemeriksa denyut jantung ke arah jari Luna dan melihat ke arah monitor yang telah menyala.
"Ini gejala keracunan," ucap pria itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu menyuntikkan sebuah cairan ke selang infus Luna.
Sementara Debora yang mendengarkan ucapan dokter itu, dia benar-benar runtuh di tempatnya dan tak menyangka bahwa perempuan itu mengalami keracunan ketika dia bahkan hanya memberikannya sebuah cemilan yang ia masak secara pribadi dan dipastikan bahwa cemilan itu tidak mengandung sesuatu yang buruk.
Amsterdam yang melihat ibunya runtuh di sofa tidak bisa melakukan apapun, Tetapi dia hanya fokus pada Luna dan melihat perempuan yang tampak tidak berdaya itu di atas ranjang.
__ADS_1
"Aku harap kondisinya mulai normal," ucap sang pria yang takut sekali Jika dia harus menggunakan defribrilator pada perempuan itu.
Karena bagaimanapun, dia melihat gejala perempuan itu sangatlah buruk. Jadi untuk berjaga-jaga dia harus menyiapkan segala sesuatu supaya bisa langsung digunakan jika terjadi hal-hal yang lebih buruk daripada yang ia hadapi sekarang.
Sementara Debora yang ada di tempatnya, perempuan yang lemas itu mengambil ponselnya lalu dia berusaha untuk menelpon suaminya supaya cepat-cepat datang ke rumah sakit tetapi karena terlalu lemas maka dia hanya bisa meneteskan air matanya dan tidak jadi menelpon suaminya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Amsterdam.
"Kita harus memompa lambungnya supaya mengeluarkan racun yang ada di sana," ucap pria itu langsung membuat para suster menjadi panik tetapi kemudian mereka tidak punya pilihan lain selain membantu pria yang tidak mereka kenal itu.
Maka seorang suster langsung menutup tirai dan mereka membantu dokter itu melakukan penanganan darurat pada Luna.
"Bukankah seharusnya dia dibawa ke ruang operasi?" Tanya Debora dengan suara cemas dan tubuh yang gemetar karena terlalu takut dengan apa yang terjadi pada Luna.
"Dia bukan dokter di rumah sakit ini, jadi akan sulit untuk mendapatkan ruang operasi." Ucap Amsterdam mendekati Ibunya dan memeluk perempuan itu untuk menenangkannya meski Sebenarnya dia juga sangat takut memikirkan istrinya yang sedang ditangani oleh dokter yang datang bersamanya.
Para suster keluar masuk ruangan itu mengambil alat, mereka berlarian dalam keadaan darurat tanpa mengetahui dengan siapa mereka bekerja sama.
Dengan begitu, Semua orang kini bekerja dengan sangat panik sampai akhirnya ketika tirai dibuka Amsterdam dan Ibunya bisa melihat bahwa Luna dalam kondisi baik-baik saja meski semua alat masih dipasang di tubuhnya.
Debora langsung berdiri menghampiri ranjang dan menatap menantunya dengan perasaan yang begitu cemas, "Bagaimana keadaannya?" Tanya perempuan itu sembari meneteskan air matanya sebab rasa penyesalan dalam hatinya atas apa yang ia lakukan pada Luna benar-benar membuatnya begitu takut.
"Tante Tenang saja, dia akan baik-baik saja. Sementara ini semua tanda vitalnya sudah membaik, dan saya juga sudah memberinya obat, jadi dia mungkin akan ciuman dalam beberapa jam ke depan." Ucapkan dokter yang sebenarnya agak cemas juga dengan kondisi perempuan itu karena dia baru saja menjalani operasi jadi tubuhnya masih sangat rentan dan sekarang mengalami keracunan lagi.
Oleh sebab itu, akan sangat mudah terjadi perubahan kondisi pada perempuan itu meski sekarang semuanya tampak baik-baik saja.
Debora yang mendengarkan ucapan teman dari Amsterdam merasa sangat lega hingga perempuan itu memeluk putranya dan dia berusaha menenangkan dirinya.
"Ibu, aku perlu mengurus beberapa sesuatu di rumah sakit ini jadi ibu harus tenangkan diri ibu dan temani menantu Ibu di sini. Dan lagi, Tolong jangan menyentuh apapun di kamar ini dulu karena Aku ingin seseorang menyelidiki tempat ini untuk melihat apakah istriku benar-benar diracuni oleh seseorang atau tidak," ucap Amsterdam langsung diangguki oleh Debora lalu perempuan itu kemudian duduk di kursi dan sembari memegang tangan dingin Luna yang masih dipasangi infus.
__ADS_1
Amsterdam yang melihat itu merasa bahwa ibunya juga perlu meluapkan rasa bersalahnya terhadap Luna, jadi pria itu berusaha menguatkan dirinya bahwa istrinya akan baik-baik saja lalu dia kemudian keluar dari ruangan itu bersama dengan semua petugas medis yang ada di sana.
Begitu keluar, Amsterdam tidak mengizinkan satupun suster meninggalkan tempat itu tetapi dia menatap semuanya dan berkata, "seandainya aku dan temanku tidak datang kemari, Apakah kalian akan melihat-lihat saja istriku mati begitu saja dan kalian semua tidak memanggil satupun dokter untuk menanganinya?!!! Kalian semua, aku harap kalian bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kalian di pengadilan!!!"
Para suster yang mendengarkan itu sangat ketakutan, apalagi ketika mereka yang tentunya akan membuat mereka bergidik dan tak akan mampu melawan pria itu jika dia sudah berbicara.
Karena tak ada yang berbicara, maka Amsterdam menatap ke arah temannya sambil berkata, "Apakah dia benar-benar keracunan?"
Pria yang berpakaian kemeja kotak-kotak itu menganggukkan kepalanya dengan pelan, "gejala yang ia alami adalah gejala keracunan, tetapi kita masih harus memeriksa sampel dari makanan yang telah dipompa dari lambungnya. Aku akan membawanya ke klinik untuk memeriksanya, dan kau seharusnya memanggil beberapa orang detektif kemari untuk melihat ruangan ini supaya mengetahui dari mana datangnya racun tersebut.
"Ah,,, istrimu dirawat di ruang VIP, jadi seharusnya ada dokter jaga yang bertugas 24 jam di sini, cari tahu juga tentang itu," ucap sang dokter benar-benar membuat Amsterdam mengepal kuat tangannya karena dia benar-benar marah dan kesal atas apa yang telah dilakukan oleh rumah sakit itu terhadap istrinya sehingga membiarkan posisi dokter jaga kosong di saat istrinya mengalami kritis.
Maka begitu, Amsterdam menganggukkan kepalanya, lalu dia membiarkan temannya pergi membawa sampel dari makanan yang dipompa dari lambung Luna.
Setelah dokter pergi, maka Amsterdam meninggalkan para suster yang masih berdiri ketakutan di depannya lalu pria itu kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi asistennya.
"Ya Tuan," jawab seorang pria dari seorang telepon.
"Aku ingin kau menyewa detektif swasta datang ke tempat ini dan juga Aku ingin kau menghubungi jenderal untuk datang ke rumah sakit xx!!! Juga, kirim pengacara kita ke rumah sakit xx. Aku ingin dia menyiapkan berkas tuntutan pada rumah sakit ini, dan juga urus berkas perpindahan istriku ke rumah sakit milik keluargaku!!" Perintah Amsterdam dengan tegas selalu pria itu kemudian menutup teleponnya dan dia berbalik kembali ke dalam kamar untuk melihat istrinya.
Begitu masuk, pria itu melihat Debora sudah tampak lebih tenang meski sesekali perempuan itu meneteskan air matanya.
Oleh sebab itu, Amsterdam mendekati Ibunya dan memeluk ibunya dengan hangat sambil berkata, "Ibu jangan menangis seperti ini, kalau dia sadar nanti dan melihat mata Ibu bengkak maka dialah yang akan merasa bersalah pada ibu. Jangan pikirkan juga kesalahan Ibu, karena dia adalah perempuan yang sangat pemaaf dia pasti akan memaafkan semua kesalahan ibu."
Ucapan Amsterdam yang terdengar menguatkan malah membuat perempuan itu semakin menangis, sebab Dia benar-benar tidak menyangka bahwa dia mendapatkan seorang menantu yang sangat baik hati, tetapi dia malah berniat untuk menyingkirkan menantu baik hati itu.
Melihat ibunya yang benar-benar tak kuasa maka Amsterdam hanya bisa memeluk erat perempuan itu kembali memberinya penguatan supaya perempuan itu tidak menjadi rapuh.
@info
__ADS_1
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️