Istri 1 Milliar Tuan Muda

Istri 1 Milliar Tuan Muda
80


__ADS_3

Ketika Luna tersadar, perempuan itu terkejut mendapati dirinya berada di rumah sakit dan dia melihat suaminya yang tampak sangat sedih melihat keadaannya.


"Sayang," ucap Luna langsung membuat Amsterdam yang sudah dari tadi tertunduk menangis kini mengangkat wajahnya menatap istrinya dan pria itu benar-benar senang melihat istrinya Yang telah sadar.


"Sayangku," ucap pria itu merasa sangat senang melihat istrinya yang sudah siuman sehingga pria itu tidak bisa menahan untuk mendekatkan wajahnya ke wajah perempuan itu dan memperhatikan dengan seksama mata perempuan itu.


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu terlalu cemas," ucap Luna yang bisa melihat bahwa pria itu sangat cemas.


Amsterdam berusaha menganggukkan kepalanya, "baiklah,, aku tahu kau baik-baik saja," ucap Amsterdam meski dia tahu bahwa saat itu istrinya hanya berbohong saja karena mana ada seseorang yang baru bangun dari komanya setelah operasi dan langsung merasa baik-baik saja?


Amsterdam kemudian menjauhkan wajahnya dari perempuan itu lalu dia kemudian memperbaiki selimut Luna sambil berkata, "Apakah kamu haus?"


Dengan pelan, Luna mengganggukkan kepalanya hingga membuat Amsterdam cepat-cepat mengambil air putih yang sudah tersedia di kamar itu lalu memberikannya pada istrinya.


Sembari meneguk minuman itu, Luna merasa sakit pada perutnya, tetapi perempuan itu tidak mengatakannya dan dia hanya menahan rasa sakitnya sembari memperlihatkan raut wajahnya yang baik-baik saja.

__ADS_1


Tetapi setelah dia selesai minum, perempuan itu meraba perutnya dan dia terkejut mengingat bayinya hingga Dia kemudian menatap suaminya yang sudah selesai meletakkan gelas di meja.


"Bayi,, bayi kita?" Tanya Luna langsung membuat Amsterdam menatap istrinya dan dia harus bingung mengatakan apa karena dia takut perempuan itu akan sangat syok ketika mengetahui bahwa bayi Mereka telah tiada.


"Itu,," Amsterdam mengulurkan tangannya memegang lembut tangan istrinya yang terasa begitu dingin, lalu pria itu lanjut berkata, "Jangan pikirkan hal lain dulu, yang penting sekarang ialah kesehatanmu dan menjaga pikiran mu supay--"


"Bagaimana bisa aku tidak memikirkan bayi kita? Cepat katakan padaku! Apa kata dokter tentang bayi kita?" Tanya Luna yang benar-benar khawatir terhadap kondisi bayi Mereka sebab beberapa waktu terakhir dia sering menangis dan stress hingga membuat kandungannya dikatakan oleh dokter bahwa sangat rentan.


Hal itu membuatnya sangat cemas bila saja apa yang ia alami di atas kuil benar-benar berpengaruh terhadap kehamilannya.


Sementara Amsterdam yang melihat istrinya, pria itu merasa sangat berat untuk mengatakan yang sebenarnya, tetapi karena tahu bahwa hanya akan menyakiti perempuan itu saja jika dia berbohong, maka Amsterdam mempererat pegangannya pada tangan istrinya.


"A,, apa?!!" Luna langsung merah dan Dia meneteskan air matanya mengetahui bahwa ternyata bayi Mereka telah tiada.


Amsterdam yang melihat itu merasa benar-benar gagal menjadi seorang suami, dan dia kemudian memeluk istrinya sembari meminjamkan matanya.

__ADS_1


"Jangan menangis, bayi kita yang ada di surga akan sedih melihatmu seperti ini. Kita harus membiarkan dia pergi ke tempat yang tenang," ucap Amsterdam berusaha menenangkan perempuan itu.


Tetapi, bukannya merasa tenang, Luna malah menangis sangat histeris dan tubuh Perempuan itu bergetar sangat hebat hingga membuat Amsterdam semakin cemas akan terjadi apa-apa pada perempuan itu jika dia terus menangis histeris.


"Sayang,, tenangkan dirimu, tidak baik menangis seperti ini," ucap Amsterdam meski saat itu juga dia sudah meneteskan air matanya sebab tentunya dia bisa merasakan kesedihan berkali-kali lipat yang dirasakan oleh istrinya.


Tetapi tentu saja Luna tidak bisa tenang begitu saja, dia terus menangis dan merasakan kepedulian atas kebodohannya terus mengikuti ucapan Ibu mertuanya demi memenangkan hati perempuan itu hingga membuatnya harus kehilangan satu orang yang sangat berharga di hidupnya.


"Bayi,, bayi kita,," Luna terus-terusan dan dia kembali teringat ketika dia mengetahui kehamilannya dan entah kenapa saat itu dia benar-benar belum siap untuk memiliki bayi Mereka, tetapi saat ini dia kini menyesal sempat berpikiran seperti itu sebab apa yang telah diambil Tuhan darinya seperti teguran untuknya.


"Hiks,,,, hiks,, hiks,,," tangisan Luna yang sangat keras sampai membuat 3 orang yang berada di luar kamar kini mendengar tangisan itu.


Debora yang sedari tadi sudah tenang kini kembali lagi menangis diperlukan suaminya dan dia benar-benar merasa bersalah dan menyalahkan dirinya atas apa yang sudah terjadi.


Meski Luna selamat, tetapi satu nyawa yang lain sebuah nyawa yang tidak berdosa yang belum tahu apa-apa harus kehilangan nyawanya karena perbuatannya.

__ADS_1


@info


Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️


__ADS_2