
Amsterdam yang mendapat pesan dari istrinya langsung mengerutkan rekeningnya melihat itu Dan pria itu berpikir bahwa ibunya tidak mungkin menyerah secepat itu.
Oleh sebab itu dia kemudian melakukan panggilan telepon pada istrinya untuk memastikan keadaan perempuan itu sebab dia takut yang akan membuat mereka mengalami salah paham.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
"Halo," ucap Luna dari seberang telepon ketika panggilan telepon itu terhubung.
Mendengar suara istrinya, Amsterdam merasa lega bahwa saat itu istrinya masih baik-baik saja, tetapi Tentu saja dia tetap saja kau kuatir pada perempuan itu sebab Luna akan pergi bersama dengan ibunya tanpa seseorang yang menjaganya di sisinya.
Oleh sebab itu, Amsterdam berkata, "tanyakan pada Ibu ke mana kalian akan pergi, lalu beri tahu aku."
Luna yang mendengarkan ucapan suaminya langsung menatap ke arah Ibu mertuanya lalu perempuan itu dengan suara yang pelan berkata, "ibu, Amsterdam menelponku dan dia menyuruhku menanyakan pada Ibu ke mana kita akan pergi karena dia ingin mengetahuinya."
Debora yang mendengarkan ucapan menantunya langsung merasa kesal, tetapi perempuan itu kemudian mengulurkan tangannya pada Luna.
"Berikan ponselnya padaku, biar ibu yang berbicara dengannya," ucap Debora langsung membuat Luna menyerahkan ponselnya pada ibu mertuanya.
__ADS_1
Perempuan itu kemudian terdiam di tempatnya meski telinganya berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu, tetapi Tentu saja dia tidak bisa mendengar suara Amsterdam dan hanya bisa mendengarkan ucapan Ibu mertuanya saja.
"Kami mau pergi ke kuil, Memangnya ada apa?" Tanya Debora pada putranya dengan suara yang ketus.
"Memangnya di kuil mana ibu akan berdoa? Kalau Ibu mau pergi ke kuil yang jauh dan membutuhkan tenaga yang ekstra untuk menggapainya, maka sebaiknya Ibu pindah saja ke kuil yang lebih dekat untuk dijangkau, sebab istriku tidak boleh kelelahan," ucap Amsterdam dari seberang telepon benar-benar membuat Debora merasa kesal pada putranya.
Pria itu khawatir istrinya akan kelelahan, tetapi tidak khawatir jika ibunya yang kelelahan.
Oleh sebab itu, masih dengan suara ketusnya Debora kemudian berkata, "Ibu tahu apa yang ibu lakukan, jadi jangan mengganggu kami lagi!!!"
Setelah berbicara, maka Debora cepat-cepat mengakhiri panggilan telepon itu lalu dia juga mematikan telepon Luna dan menyimpan telepon itu ke dalam tasnya.
"Ibu akan mengambil dulu ponselmu sampai kita kembali ke rumah, karena suamimu itu benar-benar bawel dan terus saja mencurigai bahwa ibu akan melakukan sesuatu yang buruk padamu." ucap Debora dengan suara yang ketus langsung diangguki oleh Luna.
Luna tidak ingin membuat perempuan itu menjadi semakin kesal, Jadi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah menuruti semua keinginan perempuan itu supaya dia tidak terkena amarah dari perempuan itu.
Setelah cukup lama berkendara, Luna terkejut ketika melihat mobil mereka berbelok ke sebuah restoran mewah lalu seorang perempuan yang dikenali Luna sebagai perempuan yang kemarin dilihat fotonya bersama dengan Amsterdam kini berdiri dan langsung membuka pintu mobil.
"Ibu,,," ucap perempuan itu ketika membuka pintu mobil, tetapi ketika melihat bahwa Luna ternyata duduk di tempat yang seharusnya ia tempati, maka Clarissa mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Debora yang melihat itu kemudian menatap Luna sambil berkata, " Clarissa tidak terbiasa duduk di belakang, jadi kau pindah ke belakang dan biarkan Clarissa duduk di situ."
Ucapan mertuanya tentu saja mengejutkan Luna karena tidak menyangka bahwa dialah yang akan disuruh berpindah, padahal seharusnya perempuan itu yang terakhir masuk ke mobil maka dia yang harus menyesuaikan posisi.
Tetapi ketika Luna masih terdiam beberapa saat dia melihat bahwa ibu mertuanya kembali memberinya kode dengan wajah yang tidak tampak menyenangkan hingga membuat Luna akhirnya secara terpaksa berpindah ke belakang.
"Terima kasih sudah membiarkanku duduk di samping ibu," ucap Clarissa yang merasa puas lalu perempuan itu kemudian duduk di sebelah Debora sembari menutup pintu mobil.
"Tentu saja ibu akan memberikanmu tempat terbaik karena kau adalah calon menantu ibu yang paling sempurna. Tapi, di mana kalung yang Ibu berikan padamu? Mengapa tidak kau kenakan?" Tanya Debora ketika melihat leher perempuan itu tidak dihiasi oleh apapun.
Clarissa yang sebenarnya tadi sengaja tidak menggunakan kalung itu agar Debora membahas kalung itu kemudian mengambil kalungnya dari dalam tasnya dan memperlihatkan kalungnya pada Debora.
"Tadi aku benar-benar sibuk mengelola restoran, jadi aku menyimpan kalung ini supaya tidak jatuh dan tercecer." Ucap Clarissa dengan hati yang sangat senang lalu perempuan itu kemudian memakai kalungnya.
Luna yang melihat itu merasa sangat cemburu pada Clarissa yang ternyata diberi kasih sayang yang sangat tulus dari Debora, sementara dirinya yang merupakan menantu resmi perempuan itu malah tidak pernah diberikan apapun oleh perempuan itu bahkan hati perempuan itu pun tak pernah sedikitpun diberikan padanya.
Tetapi Luna tidak mengatakan apapun, dan dia hanya duduk di belakang mobil sembari melihat ke jendela berusaha menghilangkan rasa kecemburuan yang ada di dalam hatinya.
@info
__ADS_1
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️