
Di ruang kerja Anggara, ines yang saat itu menjadi asisten Anggara kini merasa sangat senang karena mereka juga makan siang bersama di dalam ruangan pria itu dengan Anggara yang bersikap hangat padanya sesekali menaruh makanan ke piringnya.
Hal seperti itu tentulah sangat membuat Ines merasa begitu percaya diri bahwa pria itu menyukainya, sebab dalam pandangan orang kampung, hal-hal seperti itu tidak akan pernah dilakukan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya kecuali jika sangat menyukainya.
Terlebih lagi, mereka adalah lawan jenis yang tentunya tidak bisa bersikap sembarangan seperti itu.
"Besok baru aku akan mengajarimu cara menggunakan komputer, jadi nanti setelah makan siang Kau hanya perlu merapikan berkas-berkas yang ada di sana sesuai dengan abjatnya." Ucap Anggara langsung diangguki oleh ines dan perempuan itu begitu bersemangat sebab Dia bisa berdekatan terus dengan pria yang ada di depannya.
Tetapi, di tengah jam makan siang perempuan itu terdiam di tempatnya Ketika seseorang tidak tiba-tiba saja datang memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu.
Hal itu langsung membuat Ines kebingungan karena sedari tadi setiap orang yang hendak masuk ke tempat itu, bahkan jika itu atasan dari Anggara pun masih harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kakak Sayang," ucap perempuan itu langsung membuat Anggara berdiri dan memeluk perempuan itu bahkan mencium pipi perempuan itu.
"Apa kau sudah makan?" tanya Anggara langsung dijawab anggukan kepala oleh Sang Perempuan lalu perempuan itu kemudian duduk di samping Anggara sambil memperhatikan Inez yang ada di depan mereka.
"Siapa dia?" Tanya perempuan itu pada Anggara.
"Ah,,, dia adalah asisten baruku," jawab Anggara langsung membuat Sang Perempuan mengganggukan kepalanya dan memperhatikan Inez untuk menilai perempuan itu.
__ADS_1
Lalu ketika dia melihat bahwa penampilan ini sangat tidak sesuai untuk menjadi asisten Anggara, maka perempuan itu berkata, "Bagaimana kalau aku membawanya untuk berbelanja dan aku akan menyulap penampilannya supaya dia lebih cocok menjadi asisten mu dan tidak mempermalukanmu?"
Ucapan perempuan itu benar-benar membuat terkejut Inez karena tak menyangka bahwa ternyata penampilannya mempermalukan Anggara dan dia juga sedang terbakar cemburu serta rasa marah setelah melihat kemesraan kedua orang itu.
Namun dalam hatinya, dia berharap agar Anggara akan menipis ucapan perempuan itu setidaknya mengatakan bahwa pemimpin penampilannya masih baik-baik saja dan tidak akan mempermalukan pria itu.
Namun sayang sekali, ucapan Anggara yang menyetujui permintaan itu langsung membuat raut wajah Inez menjadi sangat muram.
Anggaran menganggukkan kepalanya pada perempuan yang duduk di sampingnya, "Baiklah, kau boleh membawanya, tapi dia berasal dari kampung jadi--"
"Kau tenang saja, aku akan mengatasinya!!!" Ucap perempuan itu sembari tersenyum ke arah Inez dengan ines yang hanya berwajah murung karena sesungguhnya dia tidak bisa tersenyum pada perempuan di depannya yang sudah membuatnya sangat cemburu.
Sampai akhirnya setelah mereka selesai makan Ines membersihkan semua makanan yang ada di sana sebelum ikut bersama dengan perempuan yang belum ia ketahui namanya untuk pergi berbelanja.
Berdiri dalam lift, Inez kemudian menatap perempuan itu sambil berkata, "Maaf, tapi nama Kakak siapa?"
Sang Perempuan yang duduk berdiri di samping Inez kemudian menatap Inez sambil berkata, "panggil aku Kak Anggi."
Ines langsung mengganggu kan kepalanya, "baik Kak Anggi," jawab Inez meski dalam hatinya dia benar-benar kacau, marah dan kesal dengan perempuan yang ada di sampingnya, karena perempuan itu jelas-jelas terlihat sangat serasi dengan anggaran.
__ADS_1
Jadi, sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan, perempuan itu terus memperlihatkan wajah murungnya, Bahkan dia tidak tertarik untuk melihat hal-hal baru yang ada di kota, tetapi perempuan itu hanya terdiam sampai akhirnya mereka memasuki pusat perbelanjaan.
Anggi kemudian mengambil beberapa pakaian yang ada di sana Lalu memberikannya pada pelayan, "bantu dia untuk mencoba semua pakaian ini," ucap perempuan itu langsung membuat ines kebingungan.
Perempuan itu baru menatap Anggi sambil berkata, "itu, aku tidak punya uang untuk membeli semua itu, dan juga--"
"Anggara yang membayarnya, Jadi kau cukup menerima saja apa yang ku ambilkan untukmu," ucap Anggi benar-benar membuat Inez tak mengerti, tetapi ketika dia melihat perempuan itu kemudian berjalan menjauhinya, maka Ines hanya menghela nafas dan mengikuti seorang pelayan yang akan membantunya mencoba pakaian.
Di dalam ruang ganti, Inez merasa begitu risih dengan pelayan yang bersamanya karena tentunya dia tidak terbiasa bersama dengan seorang asing yang kemudian melihat lekuk tubuhnya.
"Nona jangan khawatir, kita sama-sama perempuan, jadi saya tidak mungkin berniat macam-macam pada nona," ucap perempuan itu langsung diangguki oleh Inez meski Sebenarnya dia sangat risih.
Maka, setelah selesai mencoba satu pakaian, Ines kemudian keluar dari ruang pas dan melihat Anggi sudah menunggunya di luar.
Anggi menggelengkan kepalanya, "coba yang lain," ucap Anggi langsung membuat Inez menganggukkan kepalanya, lalu perempuan itu kembali lagi ke dalam kamar sambil berpikir bahwa perempuan bernama Anggi itu memiliki selera yang sangat tinggi.
'Sekarang aku berpikir untuk kembali saja ke kota, karena aku merasa bahwa aku benar-benar tidak bisa bersaing dengan Kak Anggi yang terlihat begitu cantik dan sangat keren,' ucap ines dalam hati yang merasakan nyalinya sudah menciut.
@info
__ADS_1
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️