
Kelopak bunga mawar muda segar berhamburan di udara dan jatuh mengenai sepasang pengantin yang sedang berjalan di atas karpet merah.
Luna tersenyum bahagia mengangkat satu tangannya dan mendapatkan 1 kelopak lalu menyimpannya di sana sembari terus melangkahkan kakinya bersama dengan suaminya menuju ke pelaminan.
Tepuk tangan dari semua hadirin dan juga orang tua kedua mempelai menggema di ruangan itu diiringi musik yang begitu romantis hingga membuat hati semua orang menjadi sangat hangat.
Perlahan-lahan keduanya terus melangkahkan kakinya sampai mereka menaiki tangga menuju pelaminan dan berdiri di sana sembari menghadap pada semua orang yang hadir di acara pernikahan mereka itu.
Luna sangat terkejut ketika dia meluaskan pandangannya dan melihat bahwa ternyata ada banyak sekali orang yang datang di acara pernikahan mereka.
"Kau mengundang semua orang-orang ini?" Tanya Luna yang tak menyangka akan melihat ada begitu banyak orang yang ada di tempat itu.
Dia juga melihat kamera yang berada di mana-mana karena dia memang mengetahui bahwa acara pernikahan mereka hari itu disiarkan secara live di seluruh negara mereka.
"Hm," jawab Amsterdam dengan singkat sembari tersenyum menatap istrinya yang tampak terbengong menatap banyaknya orang yang hadir di sana.
Sang pembawa acara yang berdiri di sisi kiri panggung kemudian mengambil micnya dan berkata, "inilah kedua mempelai kita Amsterdam dan Luna yang berbahagia pada hari ini. Sekali lagi berikan tepuk tangan yang meriah untuk kedua mempelai dan terutama kepada Tuhan Yang maha esa sehingga atas perkenaannya kedua mempelai bisa bersatu di hadapan kita saat ini."
Plok plok plok...
Semua orang bertepuk tangan, hingga membuat Luna akhirnya tersenyum senang dan dia mempererat terang bulannya pada lengan suaminya.
Amsterdam mengeuluarkan tangannya menepuk-nepuk tangan istrinya yang melingkar di lengannya sembari berkata, "proses selanjutnya ialah berciuman di depan umum. Apakah kau sudah siap?"
__ADS_1
Pertanyaan suaminya mengejutkan Luna karena tidak menyangka ada acara seperti itu, padahal di kampung mereka, hal seperti itu sangat Tabu untuk dilakukan.
Tetapi, se telah tepuk tangan para hadirin merendah, maka sang pembawa acara kembali memandu jalannya acara dengan berkata, "kedua mempelai silakan saling berhadapan dan bergenggaman tangan satu sama lain Lalu ucapkan janji pernikahan kalian di depan semua hadirin supaya yang ada di sini menjadi saksi atas ikatan cinta kalian berdua."
Dengan begitu, Amsterdam dan Luna mengubah posisi dan Luna merasa lega dalam hati bahwa tidak ada acara berciuman seperti yang dikatakan oleh Amsterdam.
Setelah saling berhadapan, dan bergenggaman tangan, maka Amsterdam mengulurkan satu tangannya menyalahkan mic yang telah disiapkan di kerah bajunya dan menyalakan juga yang ada pada pakaian istrinya.
Setelah itu, pria itu berkata, "Aku, Amsterdam Purnawirawan dengan ini berjanji di hadapan semua pasang mata yang hadir di tempat ini bahwa aku memilih perempuan yang sedang ku genggam tangannya ini, Lunawita Karismalia sebagai istriku dari mulai dari detik ini sampai seumur hidupku. Aku berjanji akan menjadikannya satu-satunya wanita dalam hidupku dan tidak akan pernah meninggalkannya baik dalam suka dan duka, dan berjanji untuk menjaganya dan menyayanginya lebih dari diriku sendiri sampai akhir hayatku."
Luna yang mendengarkan janji suaminya benar-benar terharu, jadi perempuan itu berusaha menenangkan dirinya dengan menghirup nafas panjang dan menghembuskannya, lalu dari dalam hatinya Luna berkata, "aku, Lunawita Karismalia menerima pria di hadapanku yang sedang kugenggam tangannya, Amsterdam Purnawirawan sebagai suamiku dan belahan jiwaku mulai saat ini sampai akhir hayatku. Aku berjanji akan menemaninya dan mendukungnya baik dalam suka dan duka dan akan terus bersama-sama dengannya sampai selama-lamanya dan menjadikannya sebagai satu-satunya pria dalam hidupku yang akan kucintai dan kubanggakan."
Plok plok plok....
"Kedua pengantin silakan berciuman," ucap sang pembawa acara mengejutkan Luna sehingga dia menatap ke arah pembawa acara karena merasa ada yang salah, tetapi perempuan itu belum sempat menatap lebih dari satu detik ketika Amsterdam sudah mengulurkan tangannya memegang lehernya dan kemudian mencium Luna di depan umum hingga membuat Luna melototkan matanya karena sangat terkejut.
Tentu saja dia sangat malu di hadapan ribuan orang yang hadir untuk berciuman seperti itu, sehingga membuat tubuhnya menjadi sangat tegang.
Amsterdam yang merasakan itu kemudian mengusap pinggang istrinya, "rileks lah atau orang-orang akan merasa aku memaksamu," ucap Amsterdam lalu dia kembali mencium perempuan itu.
Luna berusaha untuk rileks, tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga ciuman itu menjadi sangat panjang sampai akhirnya Luna menjadi rileks lalu Amsterdam menghentikan ciuman mereka sembari tersenyum menatap istrinya yang wajahnya telah memerah.
Saat itu juga, kelopak mawar berhamburan dari atas menandai keromantisan pasangan itu lalu musik dansa segera dinyalakan dan keduanya langsung berdansa di bawah guyuran kelopak mawar yang jatuh mengenai tubuh mereka dan juga lantai.
__ADS_1
Beberapa pasang orang di tempat itu juga ikut berdansa bersama, dan suasana pernikahan berlangsung dengan sangat romantis.
Di acara terakhir, Luna memegang buket bunga pengantinnya lalu semua perempuan berdiri berjajar di belakangnya dengan Inez yang juga berada di sana.
'Kalau aku mendapatkan buket bunga dari Kak Luna maka aku akan langsung berlari ke arah anggaran dan memeluknya!!!" ucap perempuan itu dalam hati sembari bersiap untuk mendapatkan buket bunga yang akan dilemparkan oleh Luna.
"Satu! Dua! Tiga!!!" teriak Luna kemudian melemparkan buket bunganya ke belakangnya dan buket Bunga itu diambil oleh seorang perempuan bergaun biru yang membuat Inez merasa sangat lesu.
Tetapi ketika perempuan itu berbalik hendak kembali ke tempatnya, dia terkejut bahwa jalannya dihalangi oleh seorang pria yang sedang berlutut padanya sembari memegang sebuah yang disodorkan padanya.
"Menikahlah denganku," ucap Anggara.
Ines siang melihat itu sangatlah terkejut, dan dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya sembari menatap ke arah ayah dan ibunya yang datang juga di resepsi pernikahan itu.
Ibunya tersenyum menganggukkan kepalanya, sementara ayahnya tetap berwajah datar, tetapi Ines tetap tersenyum dan dia menatap Anggara, "tentu! Aku mau menikah dengan Kak Anggara."
Anggara yang mendengarkan itu langsung berdiri dan memeluk perempuan itu lalu memasang cincin Di jari manis Ines.
...TAMAT...
@info
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️
__ADS_1