Istri 1 Milliar Tuan Muda

Istri 1 Milliar Tuan Muda
71


__ADS_3

Hari-hari cepat berlalu dengan kebahagiaan, dan setiap hari ketika Ines kembali bekerja Luna akan mendengarkan keseruan perempuan itu bekerja di kantor dan bagaimana dia merasa sangat senang bisa bekerja dengan Anggara.


Selain mendengarkan cerita Inez, perempuan itu juga menghabiskan waktunya bersama dengan suaminya dan hubungan mereka menjadi lebih dekat lagi, apalagi ketika suaminya terus menjaganya dengan baik karena pria itu sangat berhati-hati akan kehamilan istrinya yang baru berada pada trisemester pertama.


"Sayang!!" Teriak Luna yang saat itu mandi di kamar mandi, tetapi dia menyadari bahwa sabun telah habis dan sabun yang baru saja dibeli belum dimasukkan ke dalam kamar mandi.


"Ya," jawab Amsterdam yang sedang berada di kamar dengan kaki pria itu melangkah ke arah pintu kamar mandi untuk mendengar lebih jelas Apa yang dibutuhkan oleh perempuan itu.


"Tolong ambilkan aku sabun, ada di bawa meja di ruang tamu," ucap Luna dari seberang telepon dengan nada suara perempuan itu satunya berteriak pada suaminya.


"Baiklah, tunggu sebentar," ucap Amsterdam lalu pria itu segera mengambil sabun yang dimaksud oleh 5 lalu kembali ke dalam kamar dan mengetuk pintu kamar mandi.


Tok tok tok...


"Sayang, ini sabunmu," ucap Amsterdam langsung membuat suara pintu yang dikunci kemudian dilonggarkan lalu sebuah lengan terulur keluar untuk mendapatkan sabun dari Amsterdam.


"Apakah kau butuh bantuanku?" Tanya Amsterdam sembari menjauhkan sabun dari tangan istrinya.

__ADS_1


Ucapan suaminya benar-benar membuat Luna agak kesal karena dia tahu kalau pria itu hendak menerobos masuk ke dalam kamar mandi sama seperti yang dilakukan oleh pria itu selama beberapa hari terakhir.


Jadi dia kemudian kembali menutup pintu dengan keras sambil berkata, "mau berikan sabunnya Sekarang atau tidak?!!!"


Mendengar bentakan istrinya, maka Amsterdam tersenyum sambil berkata, "aku akan berikan, Cepat buka pintumu."


Mendengar itu, maka Luna sedikit mengerutkan keningnya tetapi perempuan yang membutuhkan sabun itu tidak bisa berbuat apa-apa dan dia langsung membuka pintu kamar mandi namun begitu pintu kamar mandi terbuka sedikit maka sebuah dorongan dari luar membuat Luna menjadi panik.


"Aku tidak tega melihat istriku mandi sendirian, jadi aku akan membantunya," ucap Amsterdam sembari berbalik menutup pintu kamar mandi membuat Luna menggertakan giginya menatap pria itu.


Sementara Amsterdam, dia hanya tersenyum pada istrinya lalu pria itu dengan cepat meletakkan sabun di meja dan melepaskan satu persatu pakaiannya agar dia bisa mandi bersama dengan istrinya.


'Hanya tinggal dua minggu lagi maka aku sudah 1 bulan berada di tempat ini, jadi aku harus melakukan sesuatu untuk membuat kak Anggara semakin dekat denganku,' ucap perempuan itu dalam hati yang sangat cemas Kalau sebentar lagi dia akan dipanggil ke kampung, apalagi setiap hari ibunya terus meneleponnya dan mengatakan bahwa perempuan itu sangat merindukannya dan berharap supaya dia berubah pikiran agar cepat-cepat kembali ke kampung.


Tetapi, meski dia juga merindukan ibunya, namun tentunya dia tidak ingin merusak di masa depannya dengan menikahi seorang pria yang berkelakuan buruk hingga perempuan itu berusaha bersikap keras kepala di depan Ibunya dan tetap menguatkan tekadnya untuk terus berada di kota.


Sembari memasak bawang, tiba-tiba saja ponsel yang diletakkan Inez di salah satu meja kecil yang ada di dapur kini berdering.

__ADS_1


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Ines cepat-cepat membasuh tangannya lalu mengelap tangannya dan pergi mengambil ponselnya.


Perempuan itu langsung mengukir sebuah senyum indah di wajahnya ketika dia melihat bahwa ternyata yang meneleponnya adalah atasannya sendiri yang tak lain ialah Anggara.


"Halo Kak," ucap Ines menjawab telepon dari Anggara.


"Kalau kau ada waktu malam ini, bisakah kau menemaniku pergi ke sebuah pesta?" Tanya pria dari sekarang telepon langsung membuat Inez kegirangan, namun dia tetap berusaha menahan suaranya agar tidak ketahuan bahwa dia sedang merasa sangat senang.


"Tentu!! Malam ini saya tidak punya jadwal untuk melakukan apapun!" Ucap perempuan itu.


"Aku akan menjemputnya satu jam lagi," udah pria dari seberang telepon diikutin nada suara sambungan telepon yang diputus hingga membuat Inez kemudian bersorak kegirangan sampai-sampai suara perempuan itu terdengar ke ruang tamu di mana saat itu Luna dan Amsterdam sudah keluar dari kamar.


.

__ADS_1


@info


Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️


__ADS_2