
di kantor.
brayen terlihat begitu sibuk dengan dokumen yang ada di depannya. pekerjaan yang begitu menumpuk membuatnya begitu serius hingga membuatnya lupa akan janjinya kepada sang adik.
hingga suara dering ponselnya menyadarkannya dari keseriusannya akan dokumen yang ada di depannya.
dengan sigap brayen langsung mengambil ponselnya lalu menekan tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelpon terlebih dahulu.
"kakak, kakak sudah di mana?" teriak lea dari seberang sana.
berlahan brayen langsung menjauhkan ponselnya karna telinganya terasa sakit karna teriakan adik perempuannya.
"kakak masih di kantor le. memang ada apa?" ucap brayen lembut.
"what..kakak masih di kantor? kami sudah lama nunggu kakak di sini" ucap lea kaget mendengar ucapan kakaknya.
mendengar ucapan adiknya brayen langsung melirik jam yang melingkar di tanggannya.
"maaf ya, kakak lupa. kakak langsung otw ke sana ya. bayy.." ucap brayen langsung mematikan ponselnya.
dengan sigap brayen langsung saja membereskan dokumen yang ada di depannya lalu mengambil jas yang dia letakkan di belakang kursinya.
brayen langsung menuju ke ruangan sang papa untuk meminta izin.
"pa" ucap brayen melihat sang papa sedang berdiskusi dengan sekertarisnya.
"ada apa boy?" ucap rayhan tersenyum melihat putranya.
"maaf pa. brayen mau minta izin" ucap brayen tak enak.
"ya sudah pergilah. pasti kamu lupakan janjimu dengan adikmu?" ucap rayhan menebak.
"ia pa. kalau begitu brayen permisi dulu pa, paman" ucap brayen ke pada papa dan pamannya zidan.
"ia sayang. semoga kali ini kamu tidak menolak pilihan adikmu ya" ucap rayhan tersenyum meledek.
"papa" ucap brayen merajuk.
"ingat umur nak. jangan sampai kamu keduluan oleh adik adikmu" ucap zidan tak mau kalah.
tak bisa menjawab brayen hanya menggendus kesal sambil pergi meninggalkan ruangan sang papa.
*****
di mol.
terlihat empat sekawan sedang menunggu seseorang di kantin mol ternama. mereka memakan makanan mereka masing masing sambil terus melirik jam tanggan mereka masing masing.
"apa kak brayen jadi datang le?" ucap galang kesal.
__ADS_1
"jadi, dia sudah di jalan" ucap lea terus memakan makanannya.
"gue lihat cara makan lho gak sebanding dengan tubuh kecil lho" ucap zion mengelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang satu itu tak berhenti makan.
"gue memang makan banyak. tapi gue juga jaga tubuh gue dengan terus berolahraga" jelas lea dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"hey. maaf lama menunggu" ucap brayen dengan ngos ngosan karna berlari dari parkiran.
tak lupa brayen langsung mengambil jus yang ada di depannya lalu meminumnya sampai habis.
"kakak, itu minuman lea" teriak lea melihat minumannya di habiskan sang kakak.
"oh. maaf habis kakak haus sekali karna berlari dari depan" ucap brayen tak merasa bersalah lalu duduk di samping adiknya.
"udah ini minum punyaku saja" ucap zion kasihan.
"terimakasi." ucap lea langsung meminum habis jus yang di berikan zion.
"eh, kak kenalin ini ayu" ucap lea memperkenalkan sahabatnya.
brayen langsung menatap wanita di depannya sambil membulatkan matanya kaget. sedangkan ayu hanya bisa menundukkan wajahnya malu karna dia tak menyangka ternyata pria yang dia hindari selama ini adalah kakak dari sahabatnya.
"kalian sudah pernah ketemu?" tabak galang heran melihat reaksi keduanya.
"tidak..sudah" ucap ayu dan brayen serentak.
"ya sudah ayo kita nonton" ucap galang mencairkan suasana.
"ayo jangan sampai nanti tiketnya keburu habis" ucap lea semangat empat lima. karna rencananya berhasil dengan sempurna.
karna lea bisa menebak dari tatapan dan reaksi sang kakak jika ayu adalah wanita yang mampu membuka gembok di hati brayen yang selama ini dia kunci dengan rapat.
meraka berlima langsung berjalan menuju bioskop untuk menonton film. brayen terus saja menatap ayu sambil tersenyum sendiri.
sadar dengan tatapan brayen, ayu hanya mampu menundukkan kepalanya karna malu.
"le gue ke kamar mandi dulu ya" ucap ayu.
"apa perlu gue antar" lea.
"tidak usah gue sendiri saja" ucap ayu langsung pergi dengan terburu buru.
"kakak juga mau ke kamar mandi. kalian pesan saja tiketnya duluan." ucap brayen.
"ok kak. galang lho pesan tiket. gue sama zion beli pop kron dan makanan ringan" ucap lea.
"tidak. biar zion yang pesan tiket." ucap galang terus menatap brayen yang berjalan terburu buru ke arah kamar mandi.
"ya sudah biar gue pesan tikernya." ucap zion sepertinya paham dengan perkataan galang.
__ADS_1
"ayo. tunggu apa lagi" ucap galang langsung menarik tanggan lea.
"tunggu bukannya ini arah ke kamar mandi" ucap lea binggung.
"ternyata bukan hanya tubuh lho aja yang pendek tapi ternyata pikiran lho juga pendek ternyata" ucap galang menghentikan langkahnya.
"apa lho bilang" ucap lea tak terima.
" ini bukan waktunya untuk berdebat. ayo ikut aku jangan banya bicara" ucap galang tak peduli dengan amarah lea.
****
di kamar mandi.
ayu langsung saja masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu dengan rapat.
"huff bodohnya gue. harusnya gue gak mau nuruti perintah key dan kawan kawanya haritu. sekarang harus di tarok ke mana muka gue" ucap ayu terus mengerutu sambil mondar mandir di dalam kamar mandi.
"sudah yu. lho harus biasa saja agap saja hal yang memalukan itu tidak pernah terjadi" ucap ayu berbicara sendiri.
"tapi bagaimana nanti jika kak brayen berpikir yang tidak tidak. apa gue harus bicara dengannya lalu mengatakan hal yang sebenarnya jika gue menyatakan cinta kepadanya karna terpaksa" ucap ayu sambil mengigit kukunya.
lelah berdebat dengan dirinya sendiri ayu mencoba untuk membasuh wajahnya lalu menarik napasnya pelan.
setelah selesai ayu langsung membuka pintu namun masih baru keluar tiba tiba sosok pria gagah mengalangi langkahnya.
melihat itu ayu langsung membundurkan langkahnya namun langkahnya terhenti karna terhalang oleh dinding.
"kakak ada apa kakak mengikutiku?" ucap ayu gugup tak berani menatap pria yang di depannya.
"apa kau lupa jika sejak di kampus haritu kita adalah sepasang kekasih?" ucap brayen tersenyum menatap sikap gadis kecil di depannya.
"itu.." ucap ayu mengentikan perkataannya.
"itu apa? apa kau sudah lupa atau pura pura lupa?" ucap brayen dinggin hingga membuat bulu kuduk ayu merinding.
"maaf kak kita bukan mahram jadi tidak enak jika berduaan seperti ini" ucap ayu mengalihkan pembicaraan.
"baiklah. aku akan segera menghalalkanmu" ucap brayen tiba tiba.
mendengar ucapan brayen ayu langsung tersentak kaget.
"apa?" ucap ayu menatap brayen.
" aku serius. aku akan langsung melamarmu" ucap brayen menatap netra ayu penuh kesunguhan.
mendengar ucapan brayen ayu hanya mampu diam membisu. karna terlalu serius dan saling mengatur detak jantung masing masing ayu dan brayen sampai tidak sadar jika sedari tadi ada yang memperhatikan mereka.
bersambung....
__ADS_1