
"apa kalian tidak mau menyambut kedatanganku?" ucap zion tersenyum menatap ketiga sahabatnya yang masih bengong menatapnya.
"lho zion?" ucap ketiganya serentak.
"apa kita perlu berkenalan lagi? kalau begitu kenalkan nama gue zion andara putra tunggal dari zidan andara dan sarah andara" ucap zion dengan penuh percaya diri.
"zion gue kangen banger sama lho" ucap galang langsung memeluk sahabat kecilnya itu begitu eratnya.
"gue juga kangen sama lho. tapi jangan seperti ini gue gak bisa napas bro" ucap zion mencoba mengatur napasnya yang sesak karna ulah galang
"maaf bro, habis lho banyak sekali berubahnya" ucap galang melepaskan pelukannya sambil cengegesan
"lho beneran zion? gue gak mimpi kan" ucap lea memutar tubuh zion.
"aw.." ucap lea kesakitan karna tangannya di cubit galang.
"bagaimana sakit kan?" ucap galang tak merasa bersalah. lea hanya mengelengkan kepalanya pelan.
"berarti lho tidak mimpi" ucap galang tertawa kecil.
"wah... berarti ini beneran lho zion? gue kangen" ucap lea gembira hendak memeluk zion.
namun dengan sigap zion langsung menghentikan lea dengan menahan kepala lea dengan jari telunjuknya.
"etzz,,, jangan peluk peluk. kita bukan m**ahram jadi harus jaga jarak" ucao zion menasehati.
mendengar ucapan zion, galang langsung meletakkan punggung tanggannya di kening zion. untuk memastikan sahabatnya itu baik baik saja.
"lho baik baik saja kan?" ucap galang terus memeriksa keadaan sahabatnya.
"ia gue baik baik saja kok" ucap zion menepis tanggan galang. lalu kembali menatap kedua sahabat wanitanya secara bergantian.
"lho pasti si bar bar lea kan" ucap zion tersenyum.
"is apaan sih. gue gak bar bar ya" ucap lea tak terima di sebut bar bar oleh zion.
"lho ayu" ucap zion menatap kagum perubahan sahabatnya yang satu itu.
"ia " ucap ayu tersenyum.
"allhamdullillah sebuah peningkatan buat mu yu. le lho juga harus mengikuti jejah ayu. jaga kehormatanmu sebagai seorang wanita" ucap zion menasehati.
"ia ia insya Allah gue akan mencoba berubah" ucap lea menunduk.
__ADS_1
"bagus. coba dulu merubah penampilan lho terlebih dahulu. gue yakin lho pasti bisa" ucap zion memberi semangat.
"ehem. hai zi, lho masih ingat gue kan?" ucap anggel tiba2.
"hem. lho anggel kan?" ucap zion datar.
"ternyata lho masih ingat." ucap anggel tersenyum.
"hem" dehem zion datar membuat anggel jadi merasa di abaikan.
sama seperti brayen. galang dan zion juga menjauh dari anggel karna sudah tau kelakuan luna di masa lalu ke tante mereka anissa dari mulut ember ibu mereka masing masing.
lain dengan lea dan ayu walaupun sudah tau kejadian sebenarnya mereka tetap mencoba baik ke anggel.
walaupun mereka juga membenci enggel ibunya tetap saja mereka hanya memendamnya di dalam hati.
karna anissa terus menasehati mereka agar tidak ikut membenci anggel. karna anggel juga korban dari kelakuan kedua orang tuanya.
"ya sudah ayo kita masuk ke kelas. sebentar lagi jam kuliah sudah di mulai" ucap galang memecahkan ketengan.
"ya sudah ayo. kak kami ke kelas dulu ya" ucap lea tersenyum ke anggel.
"oh baiklah" ucap anggel tersenyum.
"ia yu wallaikum sallam" ucap anggel tersenyum.
melihat wanitanya yang di abaikan key merasa tak terima. karna di abaikan oleh zion anggel jadi murung.
"sayang sudah gak usah pedulikan mereka" ucap key membujuk anggel.
"ia sayang" ucap anggel mencoba tersenyum.
"kenapa mereka terus membenciku dan menjaga jarak denganku? bukan cuman kamu yang membenciku kak. tapi sepupu mu juga" batin anggel.
"ayo kita sudah masuk jam kuliah ni" ucap anita mengengam tanggan anggel.
anggel hanya mengangguk dan mengikuti sahabatnya anita masuk ke kelas mereka. sedangkan key masih terus penasaran bagaimana hubungan wanitanya dengan kelompok lea.
"apa kalian tau apa hubungan anggel dengan mereka?" ucap key kepada kedua sahabat sekaligus anggotanya.
"kami tidak tau bos. tapi beberapa hari lalu kami melihat kakaknya lea berbicara kepada nona anggel. kami lihat sepertinya kakaknya lea sangat membenci nona anggel bos" jelas wandi.
"coba kalian cari tau yang sebenarnya. terus satu lagi, kalian harus mencari tau kenapa pak jeniver sangat menghormati kakaknya lea." ucap key yang terus tak menyangka jika jeniver berani melawan kedua orang tuanya karna brayen.
__ADS_1
"baik bos" ucap wandi dan widi.
****
di kantor.
brayen sedang pokus dengan dokumen yang ada di depannya. namun tiba tiba sosok yang sangat ia kenal masuk tanpa mengetuk pintu berdiri di depannya.
"ada apa ayah kemari" ucap brayen datar.
"ayah mau bicara kepadamu nak" ucap leon lembut.
"apa ini tentang perempuan itu lagi?" ucap brayen menebak.
"nak bagaimana pun dia juga adikmu" jelas leon berharap putranya bisa menerima putrinya dan memperlakukannya layak seperti adiknya.
"aku hanya punya satu adik yang terlahir dari rahim mama" ucap brayen dinggin.
"nak ayah tau ayah salah. tapi jangan kau lampiaskan kekesalanmu ke adikmu nak. dia tidak tau apa apa nak, jika dia bisa memilih dia juga tidak ingin terlahir di dalam keadaan seperti ini nak" jelas leon memberi pengertian ke brayen.
"maaf yah, brayen sedang sibuk. jika tidak lagi yang mau ayah sampaikan lebih baik ayah pulang saja" ucap brayen mengusir sang ayah secara tidak langsung.
mendengar ucapan putranya tak terasa dada leon terasa sakit. dia tak menyangka kesalahannya di masalalu menumbuhkan luka yang sangat mendalam ke putranya.
hingga sekarang putrinya juga menjadi korban karna tak di anggap oleh putranya. bahkan luka yang pernah dia lukis di hati putranya masih terlihat jelas sampai sekarang.
tak punya pilihan karna takut membuat putranya murka leon lebih memilih untuk menghentikan niatnya lalu pergi meninggalkan ruangan puyranya dengan penuh rasa kecewa.
rayhan yang melihat leon keluar dari ruangan brayen dengan wajah yang penuh kesedihan langsung bisa menebak apa yang sedang terjadi.
setelah kepergian sang ayah, brayen langsung menarik napasnya dalam dalam untuk mengontrol emosinya.
tah mengapa ketika menjangkut sang ayah dan keluarga barunya ingatan brayen di masa lalu langsung terputar bagaikan film di memori kepalanya.
"ahhh... kenapa kenapa harus mama yang pernah kau sakiti? aku sangat membenci mu bahkan yang berhubungan denganmu " teriak brayen karna tak kuasa menahan diri.
brayen memang sangat menyayangi anissa. bahkan sampai sekarang dia tidak mau membuka hati ke wanita lain karna takut melakukan kesalahan yang sama seperti ayahnya.
brayen terus saja mengumpat kesal seorang diri sebagai pelampiasan amarahnya. walaupun dia masih membenci sang ayah dia tetap mencoba menjaga tata bicaranya ke ayahnya.
kerna sibuk meluaskan amarahnya brayen tak menyadari jika seorang pria gagah sedang berdiri memperhatikannya.
bersambung...
__ADS_1