Istri Kecil Pilihan Adikku

Istri Kecil Pilihan Adikku
13# nasehat sang papa


__ADS_3

tak terasa malam haripun telah tiba anissa dan rayhan sedang bersiap siap untuk pergi ke kediaman robert.


walaupun anissa dan rayhan sudah punya kehidupan baru tapi robert masih sangat menyanyangi anissa.


masih sama seperti dulu robert tetap menganggap anissa sebagai putrinya sendiri bahkan mereka masih sering berkumpul bersama.


rayhan tak pernah mempersalahkan kedekatan sang istri dengan mantan mertuanya. bahkan rayhan juga menyayangi robert dan juli seperti orang tuanya sendiri.


"sayang, kakak mana?" ucap anissa melihat putrinya sudah rapi.


"masih di kamar ma" lea.


"sudah biar papa saja yang memangilnya" ucap rayhan mengerti perasaan putranya.


"ya sudah. mama tunggu di depan ya" ucap anissa tersenyum.


"ia sayang." ucap rayhan tersenyum lalu mencium mesra kening sang istri.


"papa sama mama mesra banget sih" ucap lea yang sedari tadi hanya menonton kemesraan orang tuanya.


"ya ia lah. walaupun sudah tua tapi harus tetap mesra. ia kan sayang?" ucap rayhan melingkarkan tangannya di pingang sang istri.


"sayang apa sih. malu sama umur" ucap anissa malu malu.


"papa ingat putrimu ini masih jomblo" ucap lea memayunkan bibirnya.


"itu makanya kelak kamu juga harus cari suami seperti papa. sudah tampan ,kaya, romantis lagi" ucap rayhan dengan begitu pedenya.


"sudah sana lihat putramu sudah selesai belum" ucap anissa mengalihkan pembicaraan.


"oh ia papa sampai lupa. maklum ma sudah tua" ucap rayhan cengengesan lalu mulai melangkahkan kakinya menuju kamar brayen.


"ayo ma kita tunggu kakak dan papa di depan" ucap lea tersenyum lalu mengandeng tangan sang mama.


di kamar brayen.


brayen yang sudah rapi masih betah berdiri di depan cermin. dia menatap pantulan dirinya dengan tatapan kosong.


tah apa yang sedang ia pikirkan hingga dia tak sadar jika di belakangnya sudah berdiri sang papa sambil menatapnya lekat.

__ADS_1


"boy" ucap rayhan yang melihat putranya termenung.


"ia pa" ucap brayen tersadar dari lamunannya.


"kamu sudah siap?" ucap rayhan mendekat.


"sudah pa. ayo kita berangkat" brayen.


di saat brayen sudah melangkahkan kakinya rayhan masih diam sambil menatap putranya.


"kenapa papa diam saja. ayo kita berangkat" ucap brayen melihat sang papa masih betah berdiri di tempatnya.


"ayo kita duduk sebentar" ucap rayhan duduk di tepi ranjang brayen.


tak punya pilihan brayen langsung duduk di samping sang papa sambil menundukkan kepalanya.


"apa kamu tidak menganggap papa sebagai papamu nak?" ucap rayhan tiba tiba.


mendengar ucapan sang papa, brayen langsung mengangkat kepalanya.


"kenapa papa bicara seperti itu" ucap brayen menatap rayhan.


"brayen binggung pa mau bicara dari mana" ucap brayen menarik napasnya pelan.


"bicaralah dari awal nak. papa akan mendengarkannya" ucap rayhan tersenyum.


"pa jujur brayen sudah jatuh hati pada seorang wanita. tapi.." ucap brayen menghentikan perkataannya.


"tapi apa nak? coba cerita sama papa mana tau papa ada solusinya" rayhan.


"tapi brayen takut pa. takut tidak bisa jadi imam yang baik untuknya. brayen takut akan menyakitinya seperti yang di lakukan ayah ke mama dulu pa" ucap brayen menitikkan air matanya.


di besarkan dari keluarga broken home memang sangat tidak mudah untuknya. walaupun dia mempunyai ayah sambung yang sangat menyayanginya tapi tetap saja bayangan di masa lalu terus saja menghantuinya.


dendam dan kebencian kepada setiap orang yang pernah menyakiti sang mama membuat brayen enggan untuk menjalin hubungan dengan yang namanya wanita.


"kenapa kamu berpikir seperti itu nak?" rayhan.


"karna di tubuhku mengalir darah seorang penghianat pa..." ucap brayen penuh amarah mengingat penghianatan ayah kandungnya.

__ADS_1


"jika di tubuhmu mengalir darahnya apa kamu juga sama sepertinya nak? ingat nak tak selamanya buah itu jatuh tepat di bawah pohonnya, ada juga saatnya buah itu terjatuh dan mengelinding jauh dari pohonnya nak" jelas rayhan.


mendengar ucapan sang papa brayen langsung menatap sang papa sambil mengerutkan keningnya.


"dengarkan papa nak tak selamanya seorang penghianat mempunyai anak penghianat juga nak. itu semua tidak ada hubungannya nak karna apa yang kamu lakukan itu tergantung pada hatimu sendiri tidak ada hubungannya dengan darah yang mengalir di darahmu." rayhan.


"*jika kamu ragu coba minta petunjuk pada allah nak. karna allah akan memberikan jawaban yang baik untukmu. ingat nak allah tidak akan memberi cobaan yang hambanya tidak mampu untuk menghadapinya. dan ingat satu lagi nak jika allah memberi ujian ke hambanya maka yakinlah allah akan memberikan keindahan setelahnya"


"lihatlah mamamu sekarang setelah berhasil menghadapi ujiannya dia hidup jauh lebih bahagia lagi. allah memang memisahkan ayahmu dan mamamu tapi allah juga menghadirkan papa di kehidupan mama mu nak"


"jadi jika allah mengambil sesuatu darimu maka yakinlah allah akan mengantinya jauh lebih baik lagi*" ucap rayhan tersenyum.


mendengar ucapan sang papa, brayen menganguk mengerti. memang benar dirinya dan sang mama pernah di hianati oleh ayahnya.


tapi, allah menghadirkan sang papa dan membuat hidup mereka jauh lebih berwarna lagi. bahkan jauh lebih bahagia di banding hidup dengan ayah kandungnya dahulu.


"tapi siapa wanita yang berhasil mencuri hati jagoan papa ini?" ucap rayhan mengoda brayen.


"suatu saat nanti papa juga tau. yang pastu dia itu tidak hanya cantik wajahnya saja tapi juga hatinya pa" ucap brayen tersenyum membayangkan wanita yang telah berhasil membuatnya mabuk kebayang.


"papa yakin dia adalah wanita yang sangat spesial" ucap rayhan tersenyum.


merekapun saling bercerita satu sama lain hingga melupakan anissa dan lia yang sedari tadi sudah menunggu.


"papa kakak" teriak lea hingga membuat keduanya kesentak kaget.


"ada apa le. kok teriak seperti itu? jantung papa hampir saja copot" ucap rayhan mengelus dadanya.


"lea sama mama sudah nunggu seperti orang gila di depan. papa sama kakak malah santai di sini" omel lea sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


"maaf sayang papa lupa. ini semua karna kakakmu ni" ucap rayhan menghindari amarah putri dan istrinya.


"kok brayen pa? orang papa tadi yang nyuruh brayen duduk dan bicara sama papa" ucap brayen tak terima.


"ini anak gak bisa di ajak kompromi sedikit saja." batin rayhan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"ma lihat papa sama kakak asik ngobrol di sini" teriak lea mengadu ke anissa.


"ia papa dan kakak sudah selesai. ayo cepat boy sebelum ibu negara murka. bisa bisa kita tidak dapat makan selama sebulan" ucap rayhan sambil berlari kecil.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2