
setelah pertarungan zion mengobati luka lea. dia dengan teliti mengompres wajah lea yang memar karna terkena pukulan key.
"aww" pekik lea kesakitan.
melihat lea kesakitan zion langsung saja meniup luka lea dengan lembut.
"idihh baru lho ngerasain sakit. dari tadi raja iblis mana yang merasuki lho sehingga lho tidak merasakan sakit sama sekali" ucap galang yang sedari tadi hanya diam menatap lea.
"diam lho atau gue hajar juga lho" ucap lea kesal.
"sudah jangan bertengkar. sekarang waktunya kita pikirkan bagaimana kita pulang" ucap zion menengahi.
"ya naik motor lah kek gitu aja susah" ucap lea asal.
melihat lea yang terlihat santai saja zion langsung saja menjitak kepala lea pelan.
"apa lho lupa bagaimana kak brayen?. lihat sudah jam brapa ini?" ucap zion kesal.
lea hanya mampu mengusap kepalanya yang di jitak oleh zion sambil memayunkan bibirnya.
"itu soal gampang zi. kita sogok saja pak satpam pasti dia akan tutup mulut" ucap galang mendapatkan ide cemerlang.
"terus bagaimana lea masuk ke dalam rumah?" zion.
"gampang lewat pintu belakang" ucap lea tersenyum.
"lho yakin tidak akan ketahuan oleh kakak?" ucap zion ragu.
"tidak akan. lagian jam segini kakak sudah tidur jadi aman untuk mengendap masuk ke dalam rumah" ucap lea meyakinkan.
"ya sudah kalau begitu ayo kita pulang" ucap zion membereskan barang barang lea.
*****
di kediaman rayhan.
sesampainya di depan gerbang lea, galang dan zion langsung saja mematikan motor gede mereka. pak satpam yang sadar jika nona mudanya sedang ada di depan gerbang langsung saja membuka gerbangnya.
"nona kok malam sekali pulangnya?" ucap pak satpam heran karna tak biasanya lea pulang larut malam seperti ini.
__ADS_1
"pak satpam diam saja. jika mama bertanya lea pulang jam berapa bilang saja lea pulang cepat." ucap lea memperingatkan pak satpam tidak ketingalan tatapan tajamnya yang sangat menyeramkan.
"baik non" ucap pak satpam menunduk.
"tenang saja ini buat beli kopi" ucap galang tersenyum.
"terimakasi den" ucap pak satpam tersenyum.
"sudah jangan banyak bicara. cepat bantu gue dorong motor gue masuk ke dalam" ucap lea yang kesusahan mendorong motornya.
melihat lea yang kesusahan dengan sigap galang dan zion langsung saja membantu sahabatnya itu.
"bagaimana tidak kesusahan mendorongnya orang motornya lebih gede dari orangnya" ledek galang melihat tubuh munggil lea.
"diam lho. kecil kecil gini banyak yang suka" ucap lea dengan pedenya.
"idih.. pede banget sih lho. siapa yang mau sama cewek gila kayak lho" ucap galang terkekeh.
"sudah jangan bertengkar terus nanti kak brayen dengar" ucap zion menengahi.
mendengar ucappan zion, galang dan lea langsung saja diam tapi masih melanjutkan pertengkaran mereka melalui gerakan dan tatapan mereka masing masing.
"sudah lho masuk sekarang. kami tunggu di gerbang jangan lupa beri kode jika lho sudah sampai di kamar dengan selamat" perintah zion.
pertama lea masuk dari pintu belakang sambil mengendap endap. dia merasa lega karna keadaan rumah terlihat sangat sepi.
"aman pasti kakak, mama dan papa sudah tidur dengan pulas sekarang. sekarang waktunya otw ke kamar" ucap lea mengelus dadanya.
tak mau banyak berpikir lea langsung saja mengendap endap menuju kamarnya. sesampainya di dalam kamar lea langsung saja menutup pintu dengan sangat hati hati.
"kenapa gelap sekali. apa mama tidak menghidupkan lampunya" batin lea melihat kamarnya yang gelap gulita.
tak mau berpikir yang aneh aneh lea langsung saja menghidupkan lampu kamarnya. namun ketika lampu sudah hidup lea langsung saja tersontak kaget.
"kakak" ucap lea membulatkan matanya melihat sang kakak duduk dengan santainya di kasurnya.
tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut brayen. yang ada hanya tatapan tajam dan juga raut wajah yang datar sehingga membuat jantung lea berdegup dengan kencangnya.
brayen langsung saja berdiri dan berjalan ke arah jendela kamar lea. dia langsung saja menatap ke arah gerbang dan menatap tajam kedua pemuda yang sedang berdiri di sana.
__ADS_1
galang dan zion yang melihat sang kakak berdiri di jendela kamar lea langsung saja tersontak kaget tak lupa wajah gugup dan bucat keduanya.
"bagaimana ini. lea ketahuan" ucap galang gugup.
"lho tanya ke gue. gue mana tau" ucap zion tak kalah gugup.
bukannya mengambil langkah seribu mereka malah masuk kedalam rumah dengan wajah menunduk. mereka langsung saja masuk ke dalam kamar lea tentunya sambil mengendap endap juga karna takut membangunkan anissa dan juga rayhan.
sesampainya di kamar lea mereka langsung mengambil posisi berdiri sambil menunduk mengikuti langkah lea.
tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut brayen yang ada hanya tatapan tajam dan juga ekspresi wajah datar sehinga membuat ketiga adiknya keringat dingin.
brayen terus saja menatap satu persatu wajah ketiga adiknya. hingga tatapanya berhenti ke wajah memar lea. melihat wajah adiknya yang memar brayen langsung saja mendekatinya lalu menyentuh wajah sang adik.
"wajahmu kenapa?" ucap brayen datar tak lupa dengan tatapan tajamnya.
mendengar ucapan sang kakak mereka bertiga langsung mengerakkan jarinya berpikir alasan apa yang akan mereka berikan.
tapi bukan brayen namanya jika tidak tau ngerak ngerik ketiga adiknya.
"jangan berpikir untuk membohongi kakak. karna kalian akan mendapat hukuman yang sangat berat" ucap brayen datar sehingga membuat keadaan semakin mencengram.
"mati gue hukuman apa yang akan kakak berikan." begitulah suara hati ketiga adik yang sedang di sidang oleh sang kakak.
"kenapa wajahmu lea?" bentak brayen geram karna melihat sang adik tak kunjung bicara.
"ma..maaf kak kami tidak bisa menjaga lea dengan baik" ucap zion gugup. tak lupa dengan keringatnya yang bercucuran.
"apa kalian berkelahi?" ucap brayen menatap ketiganya.
"jawaab" bentak brayen tepat di depan lea.
"ma..maafkan lea kak" ucap lea kesegukan sambil menahan tangisnya karna baru kali ini dia melihat sang kakak semarah ini.
"jawab kakak lea. kenapa ada memar di wajahmu" ucap brayen menurunkan suaranya sambil memalingkan wajahnya karna tak sanggup melihat sang adik mulai menitikkan air matanya.
"maaf kak. lea melakukan taruhan di ring tinju" ucap lea menitikkan air matanya karna tak bisa berbohong dengan kakaknya.
mendengar pengakuan lea, galang dan zion hanya menunduk sambil menatap bangga ke sahabatnya karna lea mau mengakui kesalahan yang dia lakukan.
__ADS_1
mendengar pengakuan sang adik brayen langsung saja menatap sang adik dengan tajam. tak ada pertanyaan yang keluar dari mulut brayen tapi tatapannya menuntut penjelasan dari ketiga adiknya.
bersambung....