
di kediaman rayhan.
berhubung hari ini hari minggu maka brayen lebih memilih untuk bersantai di rumah untuk menghilangkan penatnya.
dia bersantai di teras belakang sambil menyeruput teh buatan sang mama tercinta. tak lupa brayen tersenyum sendiri membayangkan senyuman ayu yang begitu indah di matanya.
"kakak" ucap lea membuyarkan lamunannya.
brayen yang begitu kaget akibat tingkah adiknya hanya mampu menghapus dadanya pelan.
"ada apa?" ucap brayen datar.
"is... dasar es balok" ejek lea melihat sikap sang kakak yang begitu dinggin.
"ada apa adik kecilku?" ucap brayen mencubit hidung mancung lea.
"aw.. sakit kak" rengek lea sambil memegang hidungnya yang memerah.
bukannya merasa bersalah brayen hanya terkekeh kecil melihat reaksi sang adik.
"habisnya kamu mengangetkan kakak" ucap brayen tersenyum.
"ia lah dari tadi lea pangil kakak ngak dengar. memang kakak sedang mikirin apa sih? sampai tersenyum senyum sendiri" ucap lea kepo.
"kepo" ucap brayen terkekeh.
"kakak... tapi bagaimana kak ,ayu cantik kan?" ucap lea tersenyum.
bukannya menjawab brayen malah menatap adiknya sambil mengerutkan keningnya.
"ada apa kakak melihatku seperti itu?" ucap lea heran.
" kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya brayen kembali.
" tidak apa apa. aku hanya ingin memastikan jika kakak itu pria normal atau tidak" lea.
"kau pikir kakak ini apaan?" ucap brayen krsal akan ucapan sang adik.
"salah kakak sendiri kenapa tidak pernah melirik wanita wanita cantik yang terus mengejar kakak. jadi jangan salahkan lea jika berpikir jika kakak bukan pria normal" jelas lea.
"kakak melihat wanita bukan dari cantik fisiknya saja" brayen.
"jadi...?" ucap lea mengerutkan keningnya.
"kakak tidak melihat wanita karna kecantikannya karna kecantikan seseorang hanyalah titipan dan bisa luntur kapan saja" jelas brayen tersenyum.
"terus kakak melihat wanita dari segi apanya?" ucap lea serius.
"kakak melihat wanita itu dari akhlak dan martabatnya. bukan hanya cantik di wajah saja tapi juga cantik dari hatinya" jelas rayhan tersenyum membayangkan wajah wanita yang telah berhasil menghipnotis dirinya.
"ooo... seperti itu kak. tapi dari yang aku perhatikan semua itu ada di ayu kak" ucap lea kembali ke rencana awalnya yaitu menjodohkan sahabatnya ayu ke sang kakak.
" sudahlah kakak sudah tau rencanamu dari awal" ucap brayen mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"bagus kalau kakak sudah tau. jadi aku gak perlu membujuk kakak lagi. lagi pulak aku perhatikan kakak ada hubungan sama ayu kan?" ucap lea tersenyum.
"maksud kamu apa?" ucap brayen mengerutkan keningnya.
"kalau kakak tidak ada hubungan sama ayu terus ngapain kakak berduaan sama ayu di toilet" ucap lea keceplosan.
"jadi kamu semalam ngikuti kakak?" ucap brayen kesal.
"ups mampus gue" ucap lea memukul mulutnya pelan.
"lea.." bentak brayen.
"hehe... apa ma...lea pergi dulu ya kak mama mangil tu.. da..daa.." ucap lea menghindari amarah sang kakak lalu berlari dengan kecepatan tinggi.
"lea awas kau ya.. sini kamu" teriak brayen mengejar adiknya. hingga aksi kejar kejaran di mension yang luas itu pun terjadi.
"kakak, lea ada apa ini? ngapain main kejar kejaran di rumah?" omel anissa melihat tingkah putra dan putrinya.
"mama " teriak lea lalu bersembunyi di belakang anissa
"kakak ada apa?" ucap anissa.
"lea itu ma" ucap brayen menghentikan ucapannya karna takut sang mama marah jika tau yang sebenarnya.
"lea buat ulah apa lagi kamu?" ucap anissa.
melihat sang adik sedang di sidang oleh sang mama dengan cepat brayen memberi kode untuk tutup mulut.
" tidak ada ma" ucap lea mengankat jempolnya memberi kode setuju ke sang kakak.
"ini pa. lihat anak anakmu ini pagi pagi sudah ribut" omel anissa.
"sudah jangan marah seperti itu nanti cantiknya berkurang lho" gombal rayhan agar omelan sang istri berhenti.
"sudahlah ayo kita sarapan bersama, mama sudah masak nasi goreng spesial" ucap anissa tersenyum.
" wah... nasi goreng" ucap lea langsung berlari ke meja makan.
melihat tingkah putrinya anissa dan rayhan hanya bisa geleng geleng kepala sambil terkekeh kecil.
"lihat putri mama itu bukan hanya bar bar tapi juga rakus" ucap brayen menatap sang adik yang sudah makan duluan.
"apa kakak bilang tadi?" ucap lea tak terima tak lupa dengan mulut penuhnya.
"sudah jangan bertengkar lagi atau makananya mama masukin lemari semuanya" ancam anisa.
"ia ma." ucap brayen dan lea serentak.
lea dan brayen langsung menyantap makanan mereka masing masing. tak lupa anissa mengisi piring suaminya terlebih dahulu. baru mengisi piringnya.
"sayang nanti malam mama sama papa mau ke rumah kakek robert, kamu ikut ya?" ucap anissa.
"ada apa ma? apa kakek sakit?" ucap brayen khawatir.
__ADS_1
"tidak nak, kakekmu yang ngundang mama katanya ingin makan malam bersama" jelas anissa.
"oh. kalau begitu brayen lain kali saja ke sana" tolak brayen.
"kenapa nak? apa kamu tidak rindu dengan kakek dan nenekmu?" jelas rayhan.
"bukan begitu pa, ma. brayen tidak mau saja merusak acara kakek" ucap brayen.
"memangnya kenapa?" ucap anissa mengerutkan keningnya.
"kalau kakek mengundang mama untuk makan malam sudah pasti kakek juga mengundang ayah" jelas brayen.
karna jujur saja brayen merasa tidak enak jika harus berdebat dengan sang ayah di depan kakek dan neneknya.
karna jika mereka berkumpul sudah pasti anggel juga ikut dan terus mencari perhatian kepadanya.
"nak bagaimana pun dia tetap ayahmu nak" nasehat rayhan.
"ia brayen tau pa. tapi untuk anggel maaf pa rayhan butuh waktu" ucap brayen.
"ya sudah terserah kamu. tapi kakekmu juga mengundangmu nak. jadi, tolong hargai kakekmu" jelas anissa.
mendengar ucapan sang mama, brayen langsung menarik napasnya dalam dalam.
"ia ma, breyen ikut." ucap brayen mengalah.
"lea juga ikut ya ma" ucap lea semangat.
"ia sayang" ucap anissa tersenyum.
"horee... tapi, calon mantu mama gak di bawa?" ucap lea sembarangan.
mendengar ucapan lea, anissa dan rayhan langsung saling menatap. lain dengan brayen yang menatap sang adik dengan kesal.
"apa kamu sudah pacaran?" ucap anissa tiba tiba.
"maksud mama?" ucap lea bingung.
"tadi kamu bilang calon mantu. berarti kamu sudah mulai pacaran lagi kan?" ucap anissa.
"tidak ma" elak lea.
"jadi?" anissa.
"i..itu ma" lea gugup karna sang kakak terus menatapnya dengan tatapan elangnya.
"mampus gue. kenapa sih mulut ini gak pernah ada remnya" batin lea mengerutuki kebodohannya sendiri.
"awas ya jika mama tau kamu pacaran maka mama akan menarik semua pasilitasmu" ancan anissa.
"ia ma" ucap lea menunduk sambil menatap sang kakak kesal karna menertawainya.
sedangkan rayhan hanya bisa diam tak berani berkutik takut akan jadi sasaran empuk kemarahan ibu nengaranya.
__ADS_1
bersambung...