
di kediaman zidan.
zion sedang menyaksikan rembulan malam seorang diri. dia menatap indahnya rembulan dengan begitu lekatnya.
ntah apa yang sedang dia pikirkan hingga dia tersenyum sendiri hingga tak sadar jika di belakangnya sudah berdiri sang ayah yang menatapnya binggung.
zidan terus saja menatap aneh putranya yang tersenyum senyum sendiri. dia mengikuti arah tatapan putranya namun yang dia lihat hanyalah keindahan rembulan malam.
"kamu melihat apa zi, sampai tersenyum senyum seperti itu?" ucap zidan memecahkan rasa penasarannya.
"zion sedang melihat bidadari yang sangat cantik yah" ucap zion masih berada dalam lamunannya.
"bidadari? mana ada bidadari di sini zi" ucap zidan menatap aneh putranya.
bukannya menjawab zion terus saja menatap indahnya rembulan sambil terus saja tersenyum.
"kerasukan jin apaan nih anak, sampai bisa jadi seperti orang gila?" batin zidan melihat kelakuan aneh putranya.
dia mulai berpikir dan mencari cara agar bisa menyadarkan putranya yang sedang di mabuk asmara.
"ziioon" teriak zidan dengan keras.
"a..ada apa yah?" ucap zion gugup sambil melompat dari tempat duduknya.
bukannya merasa bersalah zidan malah tertawa puas melihat reaksi putranya.
"ha..haha... kamu...haa.." ucap zidan tertawa begitu puasnya.
"ayah..." regek zion kesal melihat kelakuan ayahnya.
"mana bidadarimu tadi zi?" ucap zidan mengoda putranya.
"sudah pergi karna takut melihat wajah ayah" ucap zion asal lalu kembali menempelkan bokongnya di kursinya tadi.
"memang wajah ayah seperti apa sampai para bidadari takut melihatnya. apa karna ayah terlalu tampannya jadi mereka takut akan jatuh cinta ke ayah" ucap zidan begitu pedenya lalu duduk di samping putranya.
"ih...ayah narsis" ucap zion menatap aneh sang ayah.
"bukan narsis zi, tapi kenyataan" ucap zidan terkekeh.
melihat kelakuan sang ayah zion hanya mengelengkan kepalanya lalu kembali menatap indahnya rembulan.
"lihat rembulan itu zi sangat indah ya" ucap zidan mengikuti langkah putranya menatap keindahan rembulan di malam hari.
__ADS_1
"ia pa sangat indah." ucap zion.
"apa kamu melihat wajah seseorang di dalam rembulan itu zi?" ucap zidan.
mendengar ucapan sang ayah zion langsung saja menatap aneh sang ayah.
"maksud ayah?" ucap zion tak mengerti.
"jika kamu melihat bayangan seseorang di sana itu berarti kamu mencintai orang itu zi. sama seperti ayah dulu yang hanya mampu menatap kecantikan bundamu lewat rembulan itu saja" ucap zidan mengingat masa lalunya.
"*ayah dan bunda dulu sama sama bekerja di kantor pamanmu rayhan. jujur sejak pertama melihatnya ayah sudah jatuh cinta pada bundamu zi. namun karna pekerjaan ayah yang begitu padat ayah tidak bisa mendekati bundamu dan menyatakan cinta padanya"
"jadi ayah hanya bisa membayangkan kecantikan bundamu lewat rembulan itu. ayah menyampaikan semua isi hati ayah kepadanya lewat keindahan rembulan berharap bundamu juga melihatnya dan mendengar ucapan ayah*" jelas zidan tersenyum sendiri.
"terus ayah bisa nikah sama bunda bagaimana ceritanya?" ucap zion mulai penasaran dengan percintaan ayah dan bundanya itu.
"*hingga suatu hari tantemu anissa juga bekerja di kantor pamannmu dan dia bersahabat dengan bundamu. di situlah ayah punya waktu banyak bertemu dengan bunda mu"
"karna di mana ada tante anissa pasti ada bundamu dan tante tika, begitu juga dengan ayah, dimana ada pamanmu pasti ada ayah*" jelas zidan.
"terus apa hubungannya yah?" ucap zion tak mengerti.
"nah itu dia dimana ada tante anissa pasti ada juga pamanmu rayhan" jelas zidan tersenyum.
"oh jadi ayah mencari kesempatan dalam kesempitan?" ucap zion mulai mengerti.
"apa kamu sedang jatuh cinta nak?" ucap zidan kembali.
mendengar pertanyaan sang ayang zion langsung saja mengerutkan keningnya menatap sang ayah dengan lekat.
"ayah tau kamu sedang jatuh cinta. ayah perhatikan tatapanmu ke lea berbeda dengan tatapanmu ke orang lain" ucap zidan menatap putranya.
mendengar ucapan sang ayah zion langsung tersenyum menunduk.
"apa ayah setuju?" ucap zion ragu.
"ayah tidak berhak untuk mengatur kehidupanmu nak. ayah hanya bisa menasehati dan menuntunmu lebih baik lagi." ucap zidan menatap putranya.
"ayah akan selalu mendukungmu selama kamu masih berada di jalan yang benar. dan untuk lea" ucap zidab menghentikan kata kata ya.
"lea kenapa yah?" ucap zion serius.
"ayah akan mendukungmu nak. tapi kamu harus belajar lebih giat lagi agar kamu bisa sukses dan membahagiakan calon mantu ayah" ucap zidan tersenyum.
__ADS_1
mendengar ucapan sang ayah, zion langsung menghela napas lega. walaupun belum memberitau soal perasaannya ke lea tapi dia merasa jika sudah mendapatkan lampu hijau karna sang ayah mendukungnya.
hingga tanpa mereka sadari jika di sebrang sana terkena imbasnya karna mereka bicarakan.
"hhaaccimm" lea bersin ketika sedang melakukan makan malam bersama keluarganya.
"kamu kenapa le, kamu flu ya?" ucap anissa khawatir.
"tidak ma. haaccimm" lea kembali bersin.
"akhh.. siapa yang rindu kepada lea ya?" ucap lea bicara seorang diri.
"pede amat sih le. siapa yang rindu sama kebo kayak kamu" ejek brayen.
"kakak" regek lea kesal.
"sudah ayo lanjutin makannya jangan bertengkar terus" ucap anissa menengahi.
******
di kediaman rayhan.
seperti biasa anissa akan mengomel untuk membanguni anak gadisnya yang satu itu. lea yang masih ngantuk berat harus bangkit dari tidurnya karna mendengar omelan sang mama yang begitu panjang sepanjang jalan tol.
lea langsung saja membersihkan dirinya lalu menyiapka keperluan kampusnya. namun ketika melangkahkan kakinya di depan pintu dia mulai mengingat sesuatu.
"kakak ipar sudah selesai atau belumnya?" batin lea.
tak banyak pikir dia langsung saja menuju kamar kakaknya. tanpa mengetuk pintu dia langsung saja masuk kebetulan pintu kamar brayen tidak di kunci.
namun dia di kejutkan dengan penampakan yang sangat horor di matanya. dia melihat sang kakak sedang bercumbu mesra.
sadar dengan kehadiran lea, ayu yang berada di pangkuan brayen langsung saja merubah posisi duduk di samping suaminya sambil menyembunyikan wajah tomatnya.
"pagi yang sial. mata suciku sudah ternodai" gumam lea membalikkan tubuh ya.
"maaf kak. lea datang di waktu yang tidak tepat" ucap lea melangkan kakinya.
"silahkan di lanjutkan kak. biar lea cepat cepat punya keponakan" ucap lea mengoda sang kakak lalu mengambil langkah seribu sebelum kena semprot oleh sang kakak.
setelah kepergian lea, ayu terus saja menunduk malu. lain dengan brayen yang terlihat kesal karna kegiatan panasnya tergangu oleh adiknya.
"aku rasa mension kita harus cepat cepat di selasaikan" ucap brayen kesal.
__ADS_1
lalu dia menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor. begitu juga dengan ayu yang harus merapikan pakaiannya yang sudah berantakan akibat ulah suaminya.
bersambung...