Istri Kecil Pilihan Adikku

Istri Kecil Pilihan Adikku
54# meminang


__ADS_3

di pagi hari tubuh ayu terasa sangat lemas ditambah lagi wajahnya yang pucat membuat brayen semakin khawatir dengan keadaan istrinya.


"sayang kamu beneran mau kuliah?" ucap brayen khawatir melihat keadaan istrinya. namun ayu tetap saja kekeh ingin kuliah.


"ia sayang, aku lagi ujian jadi tidak mungkin untuk libur" ucap ayu memelas.


"tapi kamu kurang sehat sayang" brayen.


"aku tidak apa apa sayang mungkin hanya kelelahan saja" ucap ayu tersenyum.


"maafkan aku ya sayang" ucap brayen merasa bersalah karna semalam terlalu menguras tenaga istrinya.


"tidak apa apa sayang, sudah ayo kita brangkat nanti telat lho" ucap ayu tersenyum mencoba meyakinkan sang suami jika dia baik baik saja.


brayen langsung saja tersenyum sambil mengandeng istrinya lalu melangkahkan kakinya beriringan dengan sang istri tercinta.


"kamu kenapa yu?" ucap anissa khawatir ketika melihat menantunya terlihat tidak bergairah tak lupa dengan wajah pucatnya.


"ayu tidak apa apa ma. cuman kelelahan saja" ucap ayu meyakinkan mertuanya.


mendengar ucapan menantunya rayhan langsung tersenyum dan pikirannya langsung saja pikirannya melayang ntah kemana saja.


"kamu sih boy, terlalu menguras tenaga istrimu semalam?" ucap rayhan tersenyum tanpa menyadari jika putrinya yang sedang duduk di sampingnya langsung saja kepo dengan ucapannya.


"memangnya kakak semalam ngapain sama kakak ipar?" ucap lea polos.


mendengar pertanyaan putrinya rayhan langsung saja mengaruk kepalanya yang tidak gatal mencoba untuk berpikir mencari jawaban atas pertanyaan putrinya.


sedangkan brayen langsung saja terkekeh kecil melihat wajah sang papa yang kebingungan karna ulahnya sendiri.


"sudah sayang lanjutkan sarapannya, nanti kalian telat" ucap anissa mengalihkan pembicaraan.


*assalamwalaikum

__ADS_1


walaikumsallam.


"eh nak jayden, ayo sarapan bersama*" tawar anissa ramah.


"ia tante" ucap jayden langsung bergabung. anissa memang melarang jayden untuk memangilnya sebagai nyonya besar. sehingga jayden akhirnya memangilnya sebagai tante karna jayden merasa nyaman dengan sifat keibuan anissa yang sangat penyayang kepada orang sekitarnya.


"maaf tante, paman ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada kalian" ucap jayden memberanikan diri sambil menatap seluruh keluarga besar itu dan akhirnya tatapannya terhenti kepada lea yang duduk tepat di depannya.


mendengar ucapan jayden semua langsung saja menatapnya binggung. melihat itu jayden mencoba untuk menarik napasnya dalam dalam.


"maaf atas kelancangan saya paman, tuan muda. jujur saya telah menaruh hati kepada putri keluarga ini. jadi saya ingin meminang lea menjadi istri saya" ucap jayden memberanikan diri tak lupa dengan wajah pucatnya.


zion dan galang yang telah berada di belakang mereka mendengar dengan jelas ucapan jayden yang ingin melamar lea. melihat zion yang telah berada di belakang mereka brayen langsung saja gugup dia tidak tau harus melakukan apa.


sedangkan lea hanya mampu diam menunduk dia tidak tau harus berkata apa. jujur dia sedang berada di di dilema yang sangat besar saat ini. sehingga mengakibatkan suasana menjadi sangat hening.


"bagaimana nak?" ucap anissa memecahkan keheningan.


dengan seketika semua netra terarah ke lea arah lea. begitu juga dengan zion dia menatap ke lea dengan mata berkaca kaca sambil terus saja berdoa agar lea tidak menerima lamaran jayden.


"baiklah kakak paham, kakak akan bersabar menunggu jawabanmu" ucap jayden tersenyum.


"ayo le, kakak ipar nanti kita terlambat" ucap zion tiba tiba.


mendengar ucapan zion, lea dan ayu langsung saja berpamitan.


"mau kakak antar?" tawar jayden menatap lekat wajah cantik lea.


"tidak usah kak. lea ikut kami saja" ucap zion memotong perkataan jayden lalu menarik tangan lea.


melihat sikap zion yang sangat memperlihatkan kecemburuannya membuat rayhan dan brayen ikut berada di dalam dilema yang sangat dalam.


mereka tidak tau harus berbuat apa sebab kedua pria yang memperebutkan lea adalah orang yang sangat berarti untuk mereka.

__ADS_1


*****


di kampus.


semenjak kejadian tadi pagi zion menjadi sangat terpuruk. dia terus saja memikirkan apa lea akan menerima lamaran jayden.


dia terus saja menyendiri di perpustakaan kampus tanpa memperdulikan galang yang sedari tadi terus saja menghubunginya. hingga akhirnya galang menemukan keberadaan zion setelah bertanya kepada mahasiswa lainnya.


"zi.." ucap galang mendekati zion yang sedang pokus membaca buku untuk mengalihkan pikirannya dari lea.


"hem" dehem zion tanpa melihat ke arah galang.


"apa lho memikirkan lea?" ucap zion mencoba menebak pikiran zion.


mendengar pertanyaan galang, zion hanya mampu menarik napasnya dalam dalam lalu mengacak acak rambutnya frustasi.


"gue tidak tau lang, setiap sujudku aku selalu menyebut namanya. tapi..." ucap zion frustasi.


"lho tidak boleh meyerah zi, lho itu pria jadi lho harus mengejar cinta lho" ucap galang memberi kekuatan untuk sahabatnya itu.


"bagaimana lho bisa tau isi hati lea yang sebenarnya jika lho hanya duduk disini seperti orang bodoh" bentak galang kesal melihat sikap zion.


"maksud lho apa lang?" ucap zion menatap tajam galang.


"jika lho beneran lakik nyatakan cinta lho ke lea. setelah itu biarkan lea memilih siapa yang pantas menjadi pendampingnya" ucap galang menatap lekat wajah tanpan zion.


"ingat zi kita adalah sahabat, jadi kita harus saling mendukung satu sama lain, saling memberi semangat jadi lho tidak boleh seperti ini" ucap galang sambil memeluk sahabatnya itu.


"makasi lang, lho adalah sahabat terbaik gue" ucap zion membalas pelukan galang.


"ingat zi, lho tidak boleh menyerah begitu saja. lho nyatakan cinta lho lalu buktikan lho pantas menjadi kakak ipar gue" ucap galang tersenyum.


melihat semangat sahabatnya itu zion langsung saja tersenyum. dia merasa terkena magnet semangat dari sahabatnya itu sehingga dia kembali semangat untuk mengejar cintanya.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2