
di kediaman dion.
seperti yang dikatakan brayen dia ingin langsung menikah dengan ayu maka hari ini rayhan memgunjungi kediaman dion untuk melamar putri mereka untuk putranya.
"assalamwallaikum" suara sallam mengemma di ruang tamu. mendengar sallam dari aniissa, tika langsung menyambut sahabatnya itu.
"wallaikum sallam"
"brayen kamu tampan sekali" ucap tika menatap kagum penampilan brayen.
"makasi tante" ucap brayen tersenyum.
"yang di puji hanya kakak saja tan?" ucap lea cemburu.
"tidak sayang kamu juga sangat cantik sama seperti mamamu" ucap tika tersenyum.
"emmm..makasi tante" ucap lea malu malu.
"sudah masak mereka di suruh berdiri terus" ucap dion melihat rayhan dan keluarga kecilnya masih berdiri.
"opss...sorry sayang bunda jadi lupa. ayo nis silahkan duduk" ucap tika mempersilahkan.
"makasi tik" ucap anissa langsung duduk di susul oleh suami dan kedua anaknya.
di saat kedua keluarga sedang asik berbicara, brayen malah melihat sekeliling seperti mencari sesuatu.
"kamu mencari apa brayen?" ucap dion yang menyadari kelakuan brayen.
"i..itu om. ayu ke mana ya om?" ucap brayen gugup.
mendengar ucapan brayen lea, anissa dan rayhan langsung tersenyum.
"sepertinya putra mama itu sudah bucin tingkat dewa" bisik rayhan mengoda anissa.
"papa jangan begitu. papa dulu malah lebih parah" bisik anissa kembali hingga membuat rayhan tak sanggup lagi berkata kata.
"ciee... yang sudah tidak sabaran" bisik lea menggoda sang kakak.
"bisa diam gak?" ucap brayen pelan sambil menatap tajam ke arah lea.
"opsss maaf" ucap lea memayunkan bibirnya.
karna asik berdebat dengan sang adik brayen tak sadar jika orang yang dia cari sudah ada di depannya membawa nampam berisi minuman.
__ADS_1
"ini dia ayunya sudah datang" ucap tika tersenyum.
"tante, om" ucap ayu sambil menyalim anissa dan rayhan secara bergantian.
"ayu kamu cantik sekali nak" ucap anissa menatap kagum kecantikan calon mantunya.
"makasi tante." ucap ayu tersipu malu.
"sini nak duduk di samping tante." tawar anissa.
tak dapat menolak ayu langsung duduk di samping anissa. ayu terus saja menunduk karna gugup dengan tatapan brayen yang terus saja menatap ke arahnya.
"apa mungkin yang di katakan kak brayen haritu benar jika dia mau melamarku? tapi tidak, mana mungkin kak brayen mau padaku sedangkan di luar sana banyak wanita wanita cantik yang merebut mendapatkan cintanya" batin ayu bertanya tanya.
"begini dion, kedatangan kami secara tiba tiba kemari karna ada hal penting yang harus kami bicarakan dengan keluarga anda" ucap rayhan menyampaikan niatnya yang sebenarnya.
mendengar ucapan rayhan, dion dan tika langsung saling menatap sambil mengerutka keningnya.
"memang ada masalah apa?" ucap dion hawatir.
"bukan apa apa kami hanya ingin menyampaikan ke inginan putra kami brayen saja. nak ayo katakan kepada om sama tante" ucap rayhan menyerahkan semuanya ke putranya.
degh...
mendengar ucapan sang papa brayen langsung menarik napasnya dalam dalam lalu menatap ke arah ayu sekejab.
"om, tante maaf atas kelancagan saya tapi, jujur saya sudah jatuh cinta kepada putri om dan tante. saya mau cinta ini membawa saya ke perintah allah bukan membawa saya ke kemaksiatan yang di benci allah." ucap brayen menghentikan kata katanya lalu menatap ayu dengan tatapan penuh cinta.
"jadi saya ingin melamar ayu untuk menjadi istri saya. saya berharap om dan tante bisa memakluminya" ucap brayen.
mendengar ucapan brayen dion dan tika langsung kaget. lain dengan reaksi kedua orang tuanya ayu malah meneteskan air matanya penuh haru.
dia tak menyangka jika lelaki yang ia kagum kagumi semenjak keci melamarnya dengan cara terhormat.
"bagaimana nak?" ucap tika menatap putrinya.
melihat ayu yang hanya diam menunduk membuat ruangan itu penuh dengan ketegangan. brayen terus saja menatap ayu dengan penuh harapan.
karna sangking takutnya lamarannya di tolak oleh ayu brayen terus saja meremas tangan sang adik dengan kuat.
bukannya marah seperti biasanya lea malah menatap kasihan ke sang kakak sambil terus saja berdoa.
"ya allah aku mohon kepadamu berikanlah hal yang terbaik untuk kakakku karna hanya engkaulah yang maha tau apa yang terbaik untuk setiap hambamu" batin lea terus saja berdoa.
__ADS_1
"maaf kak, aku tidak bisa menerima lamaranmu" ucap ayu terus saja menunduk.
mendengar ucapan ayu tiba tiba air mata brayen menetes. dia menatap ayu dengan mata memerahnya.
"tapi aku menerima kakak sebagai imamku. imam yang mampu berdiri tegak untukku dan calon anak anakku. imam yang sabar menuntunku dan calon anak anakku menuju jalan allah. selalu bersabar untuk membimbingku dan calon anak anakku menuju surganya allah. imam yang mampu memegang erat tanggung jawabnya baik itu dalam urusan dunia maupun akhirat" ucap ayu menatap lekat wajah calon suaminya.
mendengar ucapan ayu, brayen langsung saja menagis bahagia. tak lupa ia terus saja mengucap syukur kepada allah.
"allhamdullillah..terima kasih ya allah" ucap brayen menelungkupkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
melihat kebahagian putranya anissa dan rayhan langsung memeluk putranya bersamaan.
"mama, papa ,lea ikut" ucap lea menyusup di pelukan itu. karna tubuhnya yang begitu munggil membuatnya mudah untuk masuk kedalam pelukan itu.
dion dan tika juga tak lupa memeluk putrinya dengan erat. mereka tak menyangka jika sebentar lagi putrinya akan pergi meninggalkannya.
"ternyata putri papa sudah besar" ucap dion menagis.
"kenapa papa menangis? apa papa tidak setuju?" ucap ayu polos.
mendengar ucapan sang putri dion langsung melepaskan pelukannya lalu menatap erat wajah putrinya.
"tangisan papa bukan tangisan yang menentang keinginanmu nak. tapi, tangisan papa adalah tangisan bahagia melihat kebahagian putri papa" ucap dion meletakkan kedua tangannya di wajah ayu.
"ia nak, kami sangat setuju dengan pilihanmu nak. kami tau benar bagaimana brayen jadi kami yakin kamu pasti bahagia hidup bersamanya" ucap tika meyakinkan putrinya.
"sayang, terima kasih sudah mau menerima putra mama" ucap anissa memeluk calon mantunya.
"ia tan.." belum selesai bicara anissa langsung menutup mulut ayu dengan jari telunjuknya.
"mama" ucap anissa.
"maaf ma" ucap ayu malu malu.
"tak terasa teryata umur kita sudah tua ya. sebentar lagi akan mengendong cucu" ucap rayhan bahagia.
"ha..ha.. kamu benar rey. pikiran masih umur 20 tahun tapi tak sadar bentar lagi akan gendong cucu. ha..ha.. tak sabar" ucap dion terkekeh membayangkan sebentar lagi dia akan memiliki cucu.
"idihh. nikah saja belom sudah membicarakan soal cucu" ucap lea mengelengkan kepalanya melihat tingkah kedua pria dewasa itu.
sedangkan brayen dan ayu hanya mampu menunduk malu akan ucapan dion dan rayhan.
bersambung....
__ADS_1