
hari demi hari pun berlalu anissa dan tika begitu sibuk mengurus pernikan putra dan putri mereka tak lupa sarah dan tina juga ikut membantu sahabat mereka.
seperti hari ini ayu dan brayen sedang melakukan fhiting baju pengantin.
"bagaimana gaun yang ini bagus kan?" ucap anissa menunjukkan gaun pengantin yang ada di depannya.
"yang ini lebih mewah kak. kakak lihat butiran mutiaranya sangat mewah" ucap tina menunjuk gaun yang lainnya.
"sudah, bagaimana jika ayu saja yang memilihnya. biarkan dia memilih sesuai keinginanya" ucap tika menengahi.
"aku setuju dengan tika. ayo yu lihat gaun mana yang kamu inginkan" ucap sarah menarik tanggan ayu.
"ayo nona muda biar saya perlihatkan gaun pengantin terbaik di butik kami" ucap pemilik butik.
"terimakasi tante" ucap ayu tersenyum.
ayu memperhatikan satu persatu gaun yang ada di depannya hingga matanya terhenti menatap gaun yang begitu indah yang menarik perhatiannya.
"ma ayu mau yang ini. bagaimana kak?" ucap ayu meminta pendapat brayen.
melihat ayu yang begitu menghormatinya brayen langsung tersenyum sambil mengangukkan kepalanya.
"kamu coba saja dulu" ucap brayen tersenyum.
"kalian bantu nona muda untuk mencoba gaun ini" ucap pemilik butik itu kepada para pekerjanya.
"ayo nona muda" ucap salah satu pelayan butik itu.
ayu tersenyum ramah sambil mengikuti langkah para pelayan. sambil menunggu brayen duduk di sofa yang telah di sediakan pemilik butik itu sambil terus menatap ke arah ruang ganti.
jika soal para emak emak jangan di tanya lagi mereka sedang sibuk memilih gaun mereka masing masing.
seketika mata brayen menatap takjub ciptaan allah yang begitu indahnya. dia terus saja menatap calon istrinya penuh kekaguman.
"wah...calon mantuku cantik sekali" ucap rayhan tiba tiba datang bersama gerombolannya.
"kamu cantik sekali yu" ucap galang menatap kagum kecantikan calon kakak iparnya.
"ehem" dehem brayen tak terima calon istrinya di puji oleh pria lain walaupun pria itu papa dan adiknya.
"kamu pakai trik apa dion hingga bisa menciptakan putri secantik ini?" ucap rayhan mengoda.
"memang kenapa kak? kakak mau mencobanya lagi?" ucap alex sambil manaik turunkan alisnya mengoda rayhan.
"papa apa lea tidak cantik?" ucap lea memayunkan bibirnya karna cemburu.
"ti..tidak sayang kamu sangat cantik. sama seperti mama yang sangat cantik bagaikan bidadari turun dari surga" ucap rayhan meredakan amarah sang putri.
__ADS_1
brayen yang keberadaannya di abaikan hanya bisa menatap kesal ke sang papa.
"sudah ada calon mantu anak sendiri di lupakan ya?" ucap brayen cemburu.
"he..he... tidak sayang kalian berdua tetap putra dan putri kesayangan papa dan mama" ucap rayhan sambil terkekeh geli melihat tingkah putra dan putrinya.
"bagaimana kak?" ucap ayu tersenyum mengalihkan perdebatan papa dan anak itu.
" kamu sangat cantik sayang" ucap brayen tersenyum.
mendengar pangilan sayang dari brayen, ayu langsung menunduk menyembunyikan wajah memerahnya.
"aku pilih yang ini ya kak" ucap ayu malu malu.
"ia sayang terserah kamu saja" ucap brayen tersenyum.
"ehem sayang sayangan nie ye" ucap lea meledek.
"terserah" ucap brayen tak peduli lalu mencoba jasnya.
setelah selesai memilih gaun pengantin untuk ayu mereka langsung memilih pakaian untuk mereka masih masih.
tak lupa dengan kehebohan para kaum emak emak dan bapak bapak yang tak mau kalah dengan anak muda.
"sayang gaun ini cocok gak untukku?" ucap anissa menunjukkan gaun di tangannya.
"enak aja kami juga mau senada dengan nissa iya kan tik? biar kelihatan kekompakan kita beremapat. sayang lia tidak ada di sini" oceh sarah mengigat sahabatnya yang tinggal di luar kota bersama sang suami.
"lea juga" teriak lea tak mau kalah.
"paman kita tidak boleh kalah sama kaum wanita. kita juga harus memakai jas senada" ucap galang tak mau kalah.
"setuju..." ucap alex, dion dan zidan serentak.
"ok ok. kamu bagaimana zi?" ucap rayhan melihat zion yang sedari tadi hanya dia saja.
"zion ikut saja om. tapi harus yang keren ya" ucap zion tersenyum.
"ok. gini gini pamanmu ini masih berjiwa muda zi. kamu tenang saja" ucap rayhan penuh percaya diri.
"papa cepetan lea sudah lapar" oceh lea melihat papanya masih sibuk bercanda gurau.
"siap tuan putri. ayo cepat pilih jas kita keburu singa liar mengamuk" ucap rayhan langsung menarik tangan galang dan zion.
"papa..." teriak lea mendengar ucapan sang papa.
******
__ADS_1
di restoran.
seperti yang di minta oleh lea setelah selesai memilih pakaian mereka masing masing mereka pun pergi ke restoran untuk mengisi perut mereka masing masing.
"sayang kamu mau apaain makanan sebanyak itu?" ucap rayhan melihat pesanan sang putri yang begitu banyak.
"ya untuk lea makan lah pa masak di lihatin saja" ucap lea sambil memakan makanannya.
"jangan heran sama putri paman yang satu itu dia itu kan kebo rakus" ucap galang mengejek.
"apa lho bilang. makan ni" ucap lea geram sambil memasukkan ayam goreng di tangannya ke mulut galang.
"sudah, kalian ini bertengkar saja terus" ucap alex melihat tingkah galang dan lea.
"jangan heran tuan apa tuan lupa bagaimana tingkah nona anissa saat mengandung nona lea" ucap zidan mengoda anissa.
"ehem" dehem anissa mendengar ucapan zidan.
"upss... maaf nona" ucap zidan sambil kembali memakan makanannya.
"memang bagaimana saat tante anissa mengandung lea pa?" ucap zidan dengan polosnya.
mendengar ucapan putranya zidan langsung menginjak kaki putranya.
"aaww... sakit pa. kenapa papa menginjak kaki zion?" ucap zion kesal.
"sudah sudah jangan ribut terus ayo makan makanan kalian" ucap anissa kesal sekalian malu mengingat tingkahnya selama mengandung lea.
"tu dengerin apa kata mama" ucap lea kembali.
"lea diam. makan makananmu" ucap anissa melihat putrinya itu terus saja mengomel.
sedangkan ayu dan brayen hanya diam menunduk sambil saling curi pandangan. dion dan tika yang sadar sikap putrinya hanya tersenyum bahagia.
"lihat putrimu sayang. diam tapi selalu mencuri pandang ke calon suaminya" bisik dion.
"ehem apa kamu lupa kamu juga dulu seperti itu" ucap tika mengoda suaminya.
"hehe... ia sih" ucap dion terkekeh kecil.
merekapun menyantap makanan mereka masing masing. setelah mendengar amarah anissa satupun dari mereka tak ada lagi yang berani berbicara.
hingga keheningan itu terpecah akibat kehadiran orang yang sama sekali tidak di undang.
"hei... bukannya kalian anak yang suka buat onar di kampus ya" ucap seseorang sambil menunjuk ke arah galang dan lea.
mereka semuapun langsung menatap ke sumber suara itu secara bersamaan.
__ADS_1
bersambung...